Belanda Yang Kembangkan Gayo dari Batak

By on Wednesday, 7 December 2011

Catatan Khalisuddin*

Suasana sarasehan Loyang Mendale di Takengon, Selasa (6/12/2011). Foto Wein Mutuah

Senang tak terkirakan saat dipercayakan menjadi moderator pada acara Sarasehan Hasil Penelitian Arkeologi Loyang Mendale dan Sekitarnya yang digelar di Gedung Olah Seni (GOS) Takengon Kabupaten Aceh Tengah, Selasa (6/12/2011) karena ikut menjadi saksi terbantahkannya dugaan yang rupanya dikembangkan oleh penjajah Belanda, “Urang Gayo itu asalnya dari tanah Batak”.

Sarasehan itu juga menjadi sangat istimewa karena hasil penelitian arkeolog dari Balai Arkeologi Medan Sumatera Utara berjudul “Gayo Merangkai Identitas” karya Ketut Wiradnyana dan Taufikurrahman Setiawan, 2 (dua) arkeolog Balai Arkeologi Medan Sumatera Utara juga diluncurkan.

Buku ini dipastikan mengagetkan banyak pihak terutama yang selama ini beranggapan bahwa suku Gayo yang mendiami kawasan pegunungan Provinsi Aceh berasal dari tanah Batak Sumatera Utara.

Sebuah catatan penting dituliskan dalam buku yang ditulis berdasarkan hasil penelitian arkeologi di Loyang Mendale dan Ujung Karang tersebut, dengan tegas disimpulkan bahwa penghuni Tanah Batak berasal dari Gayo.

Menurut Prof.DR. Bungaran Antonius Simanjuntak, antropolog dari Universitas Negeri Medan (Unimed) dalam pengantar di buku tersebut menegaskan bahwa pembaca perlu mencermati satu hal dari penelitian tersebut.

Teori yang dikembangkan oleh pegawai/ambtenaren Belanda yang telah disebarkan dan sudah direkam dalam benak dan dipercaya oleh orang Batak dan ilmuwan suku bangsa ini bahwa suku Gayo berasal dari tanah Batak. Gayo, Alas dan sub-suku dari suku bangsa Batak.

Namun dengan temuan penulis buku ini, apalagi masih akan diteliti secara mendalam lagi, maka teori itu bisa dijungkir-balik oleh beliau. Justru suku bangsa Batak berasal dari suku bangsa Gayo. Atau justru suku bangsa Gayo bukan sub-sukunya orang Batak. Barangkali sederajat atau merupakan dua saudara yang seayah dan seibu. Atau Gayo lebih dulu datang dipedalaman/pegunungan tengah Aceh. Baru menyusul orang Batak ?.

“Diharapkan peneliti dapat mengungkap lebih mendalam dan terang benderang. Ini sangat penting untuk diungkap secepatnya,” tulis Prof.DR. Bungaran Antonius Simanjuntak.

Ini Deskripsi Buku “Gayo Merangkai Identitas”

Gayo Merangkai Identitas, merupakan upaya untuk mengumpulkan proses sejarah budaya yang telah berlangsung di Tanah Gayo. Proses sejarah budaya yang terekam dalam penelitian arkeologis di Gua Loyang Mendale dan Loyang Ujung Karang menunjukkan adanya kelompok pengusung budaya Hoabinh yang oernah beraktivitas di sekitar  Danau Lut Tawar, sekitar 7.000 tahun yang lalu. Selain itu juga ditunjukkan adanya migrasi kelompok Austronesia dengan berbagai aspek budayanya pada kaisar N 4.400 tahun yang lalu. Hal tersebut menggambarkan bahwa ada indikasi yang kuat kelompok pengusung budaya Hoabinh berpindah dari pesisir ke pegunungan. Selain itu juga digambarkan berbagai aspek dari kelompok manusia Austronesia di bagian barat Indonesia yang selama ini belum ditemukan bukti aktivitasnya. Adapun aspek Autronesia yang terekam dalam penelitian ini di antaranya adalah aspek religi estetika, etika, teknologi, dan struktur sosial yang pada akhirnya memberi warna terhadap identitas etnisitas, termasuk identitas masyarakat dan budayanya.

Kajian arkeologi, maupun etnoarkeologis atas berbagai aspek budaya yang ditemukan dalam penelitian ini menunjukkan adanya indikasi yang kuat bahwa aktivitas budaya prasejarah di Tanah Gayo, khususnya dari babakan neolitik (megalitik), menunjukkan masa yang lebih tua dibandingkan dengan aktivitas di Tanah Batak. Hal tersebut memunculkan hipotesis bahwa Orang Batak berasal dari Tanah Gayo. Kondisi tersebut sangat bertentangan dengan keyakinan orang Batak selama ini, yang cenderung menganggap bahwa orang Gayo berasal dari Tanah Batak.

Dibandrol Rp.72.250,-

Dari penelusuran kami melalui googling, sejumlah situs jasa penjualan online membandrol buku ini dengan nilai Rp.72.250,- dan disebutkan bahwa harga tersebut sudah didiskon sebesar Rp.12.750,-. Jadi harga buku dengan ISBN : 978-979-461-798-4 dengan tebal 170 halaman itu sebenarnya adalah Rp.85.000,-.

—–

*Redaktur Pelaksana (Redpel) Situs Berita Lintas Gayo

Comments

comments

One Comment

  1. batak admin

    Friday, 8 February 2013 at 9:19 am

    Saya percaya bahawa Kluet, Alas dan Gayo dulu adalah pusat atau bagian dari Kerajaan Batak, seperti di tulis Pinto dan Pires. sebelum ditundukkan Aceh.
    pires menulis kerajaan BAtak itu dar Pase ke Aru. Pinto terlibat langsung dalam perang Raja Batak melawan Aceh yang Dia katakan berpusaat di Pananiu,
    Raja Tamiang disebut Pires sebagai raja Batak.
    Raja Batak disini tentunya sebelum ada marga dari Toba, jadi bisa jadi Batak dari Aceh, Tapi tentunya pertalian darah tidak bisa terbantahkan lagi, siapa dari Siapa menjadi urusan ke dua.
    silhakan kunjungi Blog saya http://batak.web.id/ masuknnya ditunggu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.