Pengaruh Model CIPP Dalam Dunia Pendidikan

By on July 2, 2011

Dr. Darul Aman, M. Pd*

Darul-Aman

 

Masih banyak para pendidik belum memahami bagaimana memberikan penilaian yang baik kepada peraihan prestasi siswa, baik siswa yang berprestasi tinggi, sedang dan rendah. Semuanya tetap diberikan dengan standar yang tepat guna memperoleh kepuasan bagi diri siswa dan berterima pada diri anak didik tersebut. CIPP Model adalah Context, Input, Process dan Product (Stufflebeam, 1970). Untuk lebih detail, di bawah ini diberikan gambaran CIPP Model dengan penjelasannya.

Evaluasi konteks merupakan awal evaluasi yang menyangkut kajian tentang lingkungan program, termasuk studi tentang kebutuhan siswa dan semua masalah yang berkaitan dengan faktor-faktor yang menun­jang atau yang menghambat program. Dalam hal ini, program pembelajaran di lembaga pendidikan sudah barang tentu mampu menunjang dan mengembangkan kualitas pendidikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Masyarakat sebagai pengguna/pemakai manfaat pendidikan akan menyerap dan menaplikasikannya dalam kehidupan masyarakat itu sendiri (Darul Aman, 2010) serta dijadikannya sebagai aktivitas sehari-hari, misalnya: membuka usaha atau jasa monter, tukang, keuangan, dll. Pada tahap evaluasi ini mungkin ada dua keputusan yang dianggap baik. Pertama, tidak merubah program yang ada sebelumnya akan tetapi prog­ram tersebut berjalan terus sesuai dengan kapasitas dan proporsinya karena masih dianggap sesuai dengan perkembangan waktu. Kedua, bisa saja merubah program sebelumnya menjadi sebuah program baru yang layak dengan kebutuhan masyarakat terutama pada masa mendatang, akan tetapi  memerlukan evaluasi yang matang sehingga mampu memperoleh hasil maksimal. Dengan demikian, perlu mengevaluasi masukan (inputs).

Evaluasi inputs merupakan kajian yang mendalam dari adanya keanekaragaman pemberitahuan (information) di lapangangan/lingkungan yang menyangkut dengan proses pembelajaran yang kurang baik dan tidak berkualitas sama sekali, kelemahan tersebut berpengaruh negatif kepada pengguna (masyarakat) sehingga menurunnya tingkat kesejahtraan maka diperlukan kajian dan sangat memungkinkan untuk merubah pola rancangan yang tepat dan akan berguna kepada pengguna baik masa kini dan masa mendatang. Dalam hal ini, evaluasi inputs membuka peluang yang besar untuk memperbaiki program yang lama menjadi sebuah solusi kepada perancang proses pembelajaran terutama di sekolah-sekolah. Karena sekolah atau lembaga pendidikan merupakan wadah dalam memperoses inputs yang baik (Darul Aman, 2011).

Evaluasi pro­ses diadakan untuk menetapkan kecocokan antara yang direncanakan dengan yang betul-betul terjadi, termasuk juga prosedur impementasi, metode, dan kegiatan belajar siswa. Proses merupakan sirkulasi yang penting diberlakukan karena tanpa proses tidak mungkin diketahui kekuatan dan kelemahan sebuah program. Dalam dunia pendidikan, proses pembelajaran yang dilakukan di sekolah menjadi kegiatan utama (Junaidi, 2009) untuk mencapai keberhasilan. Melalui proses pembelajaran akan muncul mana siswa yang berkualitas dan mana siswa yang perlu diberikan pengayaan dan mana pula yang harus diberikan pelayanan khusus. Dari gambaran tersebut, proses menjadi kekuatan para pendidik untuk menetapkan, merubah rancangan kegiatan pembelajaran dengan berbagai strategi yang tepat sehingga akan menghasilkan siswa-siswa yang berkualitas dan akan melahirkan pemikiran yang berguna terhadap kegiatan/kehidupan masyarakat.

Yang terakhir adalah products. Evaluasi produk ini menyelidiki hasil program yang dibandingkan antara hasil yang dilakukan dalam program sebelumnya dengan hasil program yang baru program. Dalam proses pembelajaran yang dilakukan di sekolah pasti terdapat perbedaan yang kontras. Biasanya, kegiatan-kegiatan yang berjalan kedepan diiringi dengan berbagai strategi baru, menggunakan multi-media, fasilitas yang memadai dan inovasi sehingga mampu menghasilkan yang lebih baik.

Oleh karena itu, CIPP Model perlu dipelajari oleh para pendidik (guru-dosen) untuk memperoleh gambaran tepat dalam melaksanakan proses pembelajaran. Setiap mata pelajaran yang diampu baik di sekolah maupun di kampus jadikanlah CIPP Model sebagai landasan dalam menilai diri apakah sudah matang atau belum dalam melaksanakan pembelajaran. Sebab, guru-dosen menjadi orang terdepan memberikan andil terhadap kemajuan pembangunan daerah terutama dalam dunia pendidikan. Dengan pendidikan yang baik akan tercipta kesejahtraan masyarakat yang madani dan terhindar dari kemiskinan baik secara ekonomi maupun pengetahuan.

 

Referensi:

Darul Aman, 2010. Inovasi Kurikulum dalam Pendidikan. Padang: Program Pascasarjana
Universitas Negeri Padang.
Darul Aman, 2011. Strategi Mengajar Yang Efektif dalam Pembelajaran. Takengon: STAI
Gajah Putih Takengon.
Junaidi, 2009. Psikologi Pendidikan dalam Pembelajaran. Padang: Program Pascasarjana
Universitas Negeri Padang.
Stufflebeam, 1970. Evaluasi Kurikulum Pendidikan. New York.

 

*Dosen STAI Gajah Putih Takengon

Komentar Via Facebook

2 Comments

  1. shaja

    29/12/2012 at 11:57 am

    email saya shaja782gmail.com..terima kasih

  2. shaja

    29/12/2012 at 11:55 am

    salam,
    boleh saya dapatkan penulisan anda mengenai Inovasi Kurikulum dalam Pendidikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>