by

Menafsir Kemunduran Abuya Sarkawi

Catatan : Win Ruhdi Batin

Bupati Bener Meriah mundur sudah. Meski, Mendagri belum tentu setuju. Tapi sudah tak menjadi soal, bagi Tengku H Sarkawi Abdussamad.

Mundur, dengan sisa jabatan bupati dua tahun kedepan, sungguh kerugian besar. Jika dilihat dari banyaknya uang yang dikelola untuk proyek . Berapa fee yang didapat. Dan begitu banyak tim sukses yang dikayakan. Ts yang dipromosikan jabatannya, meski secara syarat tak mungkin.

Tapi , lagi lagi kemudahan uang dan kekuasaan, tak lagi menjadi pertimbangan Abuya. Alasan sakit, hanyalah pemicunya mundur. Good bye politik.

Lantas, siapakah Abuya Sarkawi yang suka bersarung?
Tengku Sarkawi lahir di Aceh Tenggara pada 27 Februari 1975. SD N Lawe Kersik 1986.SMP N Simpang Semadam 1989. Kemudian menyelesaikan Madrasah Aliyahnya di MA Mataliul Falah Pati, Jawa Tengah 1996.

Abuya memiliki kecerdasan yang ditandai dengan daya ingat kuat. Meski tak mencatat. Keinginan mendalami ilmu agama Islam yang teguh membuat Abuya nyantri di beberapa pasantren di tanahJawa , khususnya pasantren berbasis NU.

Abuya memperkaya agamanya dengan nyantri dari satu pondok ke pondok lainnya.

……

Di Bener Meriah, Tengku Sarkawi kemudian membuka pasantren Bustanul Arifin di Pondok Sayur, yang berkembang pesat. Kepakarannya di bidang agama, membuatnya dipercaya menjadi , Ketua Himpunan Ulama Dayah (HUDA) 2004-2014

Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kab. Bener Meriah 2004-2009 . Selama dua periode hingga 2014. Abuya, juga ketua PCNU Bener Meriah tahun 2003 sampai 2013.

Saat menjadi ketua MPU, MUI kalau di Indonesia umumnya. Tengku Sarkawi pernah mengeluarkan fatwa mengharamkan multi level marketing (MLM) TVI yang kala itu sedang marak dan berkembang. Abuya menganggap mlm tersebut adalah money game.

Terjunnya Abuya ke politik atas dorongan dan permintaan masyarakat yang mengenal sosoknya. Meski kemudian mengaminkannya. Tapi banyak masyarakat yang menolak dan menyayangkan keputusan tersebut. Abuya, meninggalkan Basis Agamanya. Masuk ke politik yang penuh intrik, siasat sesat dan tidak agamis.

….

Awale takdir. Akhire kepikir. Kata sebuah pepatah gayo. Abuyapun memilih takdirnya, menjadi wabup.Tengku Sarkawi menjadi calon wakil bupati yang berpasangan dengan Ahmadi. Pasangan nomor urut tiga ini diusung Partai Golkar dan Partai Daerah Aceh (PDA).

Saat pemilihan, mereka berhasil mengalahkan enam pasangan calon lain.

Ahmadi dan Sarkawi dilantik sebagai Bupati-Wakil Bupati Bener Meriah periode 2017-2022 ,pada Jumat, 14 Juli 2017. Setahun menjabat, Ahmadi ditangkap KPK bersama eks Gubernur Aceh Irwandi Yusuf.

Abuya Sarkawi kemudian menjabat Plt Bupati Bener Meriah. Mantan Ketua Himpunan Ulama Dayah itu pun selanjutnya dilantik sebagai Bupati Bener Meriah pada 30 April 2019.

Berkuasalah Abuya, menjadi orang nomor satu di bumi penghasil kopi terbaik di Indonesia , Bener Meriah. Kekuasaan dan uang, ada di tangan Abuya.

Abuya mulai menari mengikuti rentak irama politik. Meski terkadang irama terdengar gaduh dan tak nyaman ditelinga. Terus menari, bahkan terpaksa menyanyi. Mau apa lagi.

Kehidupan menjadi tak normal. Waktu tersita untuk seremonial, pidato yang dibuat bawahan. Protokoler yang kaku tandatangan, gunting pita. Pengawalan yang sibuk bak perang. Dan administrasi yang rumit agar tak jadi temuan.

Urusan para tim sukses tak kalah peliknya. Utang budi waktu maju harus dibalas uang cash atau proyek. Belum lagi ts di pemerintahan dan keluarga yang mengatur aliran pegawai dengan mutasi.

Semuanya menjadi rumit. Diluar ekspektasi dan keinginan. Tak berhenti disana, perilaku partai pengusung dan polah anggota dprk yang harus dipenuhi ambisinya. Semuanya bermuara di kepala Abuya.

Seorang mantan ajudan bupati mengatakan, jika dalam satu hari ada 30 orang tamu mengantri bertemu bupati, 80 persen adalah urusan uang dan proyek. Selebihnya, soal jabatan dan tetek bengek lainnya.

Dalam sehari, seorang bupati, bisa diasumsikan mengeluarkan uang rp.5 -10 juta. Uangnya dari mana?. Tst.

Menurut Ustadz Danu, penyakit di seluruh bagian tubuh, berasal dari pikiran, tindakan dan sikap. Ditambah pola makan dan psikologis.

….

Jika alasan pengunduran diri Abuya karena sakit. Itu juga benar adanya. Abuya ingin kembali mengurus pasantren, memang disanalah fitrahnya.

Tapi dibalik itu semua, Abuya sudah tak kuat lagi berpolitik. Politik ini begitu penuh nafsu kepentingan para pihak. Semuanya urusan dunia. Semuanya minta dipenuhi, disenangkan. Olehnya seorang diri.

Dalam sebuah wawancara dengan RRI, setelah Abuya dilantik, Beliau tak menduga dan membayangkan akan menjadi bupati. Abuya hanya ingin mendampingi bupati. Tak lebih.

Setelah menjadi bupati, sekelilingnya tak sekuat pemahaman agama Abuya, membawa Bener Meriah ke arah yang Islami.

Abuya mulai terganggu. Hubungannya dengan Sang Khaliq tercederai politik yang kadung dilakoninya. Tak Islami dan menjauhkannya dari kebenaran yang diipegangnya teguh.

Abuya merasa salah tempat. Tempatnya bukan disini. Tapi di pasantren. Abuya merasa sudah semakin jauh. Ini tak bisa lagi dibiarkan dan ditolerir.

Harus bersikap dan menghentikan semua ini. Bersikaplah Abuya, dengan mengundurkan diri. Menanggalkan jabatan bupati . Meninggalkan “neraka” politik yang menjeratnya

Mumpung masih ada waktu…

Payaserngi 26 Mai 2020

Note : Jangan percaya tulisan ini karena hanya dianalisis berdasar “Akalni Kero”

Comments

comments

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News