Jatuh Miskin Karena Corona

By on Wednesday, 29 April 2020

Dialeksis.com perhatikan sesosok lelaki yang rambutnya sudah memutih, dia rajin sujud. Walau sudah terbilang tua, dia masih energik, pernah menjadi aktivis dan gemar mengarungi dunia politik. Usai menunaikan shalat, tanganya dia tengadahkan. Ada linangan air mata di indra penglihatanya.

Usai dia berdoa, Dialeksis.com mendekatinya, menanyakan apa gerangan sehingga doanya khusuk disertai linangan air mata. Dia tatap penulis, terlihat kelopak matanya masih basah. Dia seka air yang mengalir di pipinya.

“Saat wabah ini Allah mencoba saya dan ribuan saudara lainya. Kami bukan hanya menghadapi ancaman wabah, namun kami menghadapi ancaman kelaparan. Anak dan istri saya terancam tidak makan,” sebutnya dengan suara agak serak dan tersendat.

Lelaki ini meminta agar jati dirinya tidak disiarkan, bila Dialeksis.com ingin menulis keadaan masyarakat terimbas wabah. Akibat wabah corona, lelaki ini penghasilanya nol. Tidak ada daganganya yang dibeli manusia. Dia berprofesi sebagai pedagang pecah belah, mulai dari periuk, gelas, sampai panci.

Usahanya mengandalkan keramaian manusia dan makmurnya penghidupan masyarakat. Dia tidak masuk dalam penerima bantuan pemerintah, PKH, BPNT atau BLT. Dia juga menyakini tidak akan masuk dalam daftar penerima bantuan yang disalurkan Dinas Sosial Aceh melalui pemerintah daerah setempat.

Sejak negeri ini dilanda wabah corona, dia tidak memiliki penghasilan apa-apa. Masyarakat saat ini lebih memilih bertahan hidup daripada membeli barang pecah belah. Apalagi, tidak ada yang mampu mempridiksi sampai kapan corona berahir.

Apa yang mau dia berikan untuk anak dan istrinya? Dia hanya ingin bertahan hidup dan menghidupi keluarganya. Dia selama ini tidak masuk dalam katagori miskin, karena masih mampu menghidupi keluarga, walau ekonominya tidak masuk klasifikasi menengah ke atas.

Namun dengan hadirnya wabah, kini dia terpuruk. Untuk bertahan hidup, mendapatkan sesuap nasi, saat ini sangat sulit. “Kiranya pemerintah melihat keadaan ini, karena banyak saudara saya yang senasib dengan saya,”pintanya.

Menurutnya, bila negeri ini damai, dia tidak minta perhatian pemerintah untuk memikirkan hidup dirinya dan keluarganya. Dia memiliki kemampuan untuk mengurus diri sendiri.

“Menurut saya, kalau pemerintah mau membantu, jangan untuk katagori masyarakat miskin saja. Kami yang tidak masuk dalam klasifikasi miskin, saat wabah ini kami rasakan beratnya perjuangan hidup untuk memenuhi kebutuhan makan,” sebutnya, air matanya terlihat masih mengalir di pipi.

Puluhan juta manusia di Bumi Pertiwi atau ratusan ribu warga Aceh, kini keadaanya sama dengan lelaki yang mengadahkan tangan, bermunajat kepada ilahi. Ribuan manusia dengan berbagai profesi sumber hidup, merasakan nasib yang sama dengan lelaki ini.

Usaha mereka hancur, sumber pemasukan untuk memenuhi kebutuhan hidup tidak ada. Sementara anak dan istri butuh makan. Apa yang harus mereka lakukan demi bertahan hidup dalam menghadapi gempuran corona ini?

Mereka tidak masuk dalam daftar pemerintah sebagai PKH atau BPNT atau BLT. Selama ini memang mereka tidak pernah menerima bantuan. Namun kali ini, saat wabah melanda negeri, sumber hidupnya hancur, mereka mengharapkan perhatian pemerintah.

Bukan hanya memberikan bantuan kepada mereka yang masuk dalam klasifikasi miskin. Namun pemerintah juga menyediakan bantuan untuk mereka yang benar benar terpuruk dan jatuh miskin saat wabah menguji ketangguhan mereka.

“Kami bukan pengemis dan minta dikasihani. Bila tidak ada wabah ini, kami mampu berdiri di atas kaki sendiri. Namun keadaan kami saat ini benar benar sulit. Untuk mendapatkan beras, agar bisa dibawa pulang demi anak-anak dan istri bisa makan, sangat sulit kami dapatkan,” sebutnya.

Doa dalam linangan air matanya senantiasa dia lantunkan, khususnya selesai mengerjakan shalat di salah satu masjid ternama dalam provinsi Aceh. Dia menyakini Tuhan memberikan cobaan, untuk menguji ketangguhan kakinya dalam menapaki hidup.

Ketika dia benar benar terpuruk, apakah dibiarkan dia mengarungi jalan yang penuh duri ini, tanpa ada pihak lain yang membantunya. Nasib yang dirasakanya, juga dirasakan puluhan ribu rakyat Aceh lainya yang tidak termasuk dalam daftar PKH, BPNT, BLT atau bantuan dari Dinas Sosial Aceh.

Kini kaki mereka tertatih tatih dalam menapaki hidup. Beragam pemikiran berkecamuk di kepala, berbagai rasa menyesakan dada. Siapa yang akan mengandeng tangan mereka. Agar tidak menyerah dalam mengarungi hidup disaat bencana corona menguji ummat manusia? Doa dalam linangan air mata ada pada mereka. (Bahtiar Gayo)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.