Siapa Penopang Hidupmu?

By on Friday, 24 January 2020

Anda sekarang masih menikmati hidup sebagai manusia, apakah semuanya karena jerih payah Anda? Banyakkah sumbangsih mahluk Allah yang lainya, sehingga  Anda dapat menjalankan tugas sebagai Hamba?

Berapa banyak orang orang yang ihlas menuntun Anda? Apakah Anda mampu menghitungnya?  Bagaimana jerih payah mereka dalam menempa hidupmu? Baik itu jasa yang bisa Anda ingat atau tanpa sengaja Anda lupakan.

Apakah mereka pernah meminta balas jasa atas apa yang sudah diberikan dalam hidupmu? Mereka melakukannya dengan penuh keihlasan tanpa meminta untuk dikenang dan imbalan balas jasa. Setiap manusia punya sejarah hidup sendiri. Ada suka dan duka, ada linangan air mata diantara tangis bahagia.

Tidak ada salahnya sebagai manusia yang diberikan Tuhan akal dan nalar, mari  kita duduk sejenak, merenung. Mengingat perjalanan diri, siapa saja yang sudah dan pernah berjasa dalam menuntun langkah kita.

“Enti nge cuge ko lungi ni manisen, enti kire  lupen kin cecah lede  (Bahasa Gayo)– Jangan setelah kau coba manisnya manisan, lantas kamu melupakan sambal  cabai ”.

Sejenak mari kita  ingat kembali siapa saja yang sudah berjasa dalam hidup ini (itu juga kalau Anda mampu mengingat semuanya). Bagaimana berat tantangan yang mereka hadapi dalam menempa Anda?

Ada yang berjuang untuk Anda tak kenal lelah, berpeluh keringat, ada tetesan air mata, bahkan mereka siap berkorban nyawa. Semuanya akan dilakukannya demi dirimu, walau dia harus meninggalkan alam pana ini, mereka  sudah rela.

Ada juga manusia yang berjasa dalam hidupmu, walau dia tidak mampu memberikan harta.  Namun ada diantara mereka yang sudah menempa mental dan mengisi jiwamu untuk mengenal bahwa kamu manusia.

Ada diantara mereka yang menjadi “akar” dalam kehidupanmu. Dia bertahan dalam perut bumi, mencari kebutuhan, demi menopang hidupmu. Bagaimana suka dukanya akar. Bagaimana dia berusaha, sehingga batang dan daun mampu bertahan.

Hingga bunga bermekaran dan menghasilkan buah yang kelak berguna untuk mahluk lain. Akar tak kenal lelah, walau dia juga merupakan bagian kesatuan dari kehidupan. Saat kemarau, akar harus tetap bertahan dalam menyiapkan  nutrisi, agar pohon tetap berdiri tegak.

Ketika berbunga, berputik dan berbuah, sang akar “belum tentu” merasakan bagaimana manisnya buah yang dia perjuangkan. Ada kebahagian dalam diri sang akar, ketika mahluk lain mampu menikmati apa yang sudah dia perjuangkan. Akar tidak pernah meminta balas jasa atas apa yang sudah dia usahakan.

Ada diantara mereka yang menjadi “lilin” bagi kehidupanmu.  Walau sinarnya tidak seterang rembulan, namun dia mampu menjadi penerang dalam melatih indra penglihatanmu agar dapat membedakan antara siang dan malam.

Sinarnya ada kalanya redup, antara hidup dan mati ketika tiupan angin menerpa tubuhnya. Seiring dengan perputaran waktu, lilin juga akan dimakan usia. Perlahan lahan dia akan habis dan kembali ke asalnya. Apakah lilin pernah meminta kepadamu untuk membalas jasa?

Dalam perjalanan hidup manusia, banyak mahluk yang berjasa dalam menempa diri kita. Ada yang kita sadari dan kita ketahui siapa dia, namun ada juga yang kita tidak sadari, sehingga kita tidak lagi mengingatnya.

Tidak mungkin kita mampu mengingat semuanya. Sebagai manusia tentunya kita akan melanjutkan perjuangan mereka, kita juga harus siap menjadi akar atau lilin dalam menempa manusia yang lain.

Mereka yang berjasa dalam hidup kita, kirimkanlah doa. Baik yang masih ada di muka bumi ini, atau sudah duluan menghadap keharibaan ilahi. Bila masih ada, dan kita mengingatnya, jalinlah silaturahmi, kalau bisa berikan apa yang mampu Anda berikan untuknya.

Sebagai manusia tidak ada yang sempurna hidup di muka bumi ini. Tidak mampu semuanya Anda kerjakan sendiri. Ada jasa jasa orang lain dan mahluk lain dalam menempa hidup Anda. Ada kasih sayang ilahi kepada mahluknya yang kemudian dia berikan untuk Anda.

Bagaimana Anda akan membalas jasa jasa mereka yang sudah menempa hidup Anda? Sebagai manusia Anda punya cara untuk melakukanya. Sebagai manusia Anda juga harus mewarisi dan melakukan apa yang telah diberikan oleh mereka yang menempa diri Anda.

Lihatlah betapa ihlasnya “akar dan lilin” yang sudah mengisi perjalanan hidup Anda. Jangan lupa diri karena Anda manusia. Bukan mahluk yang sempurna yang mampu berdiri sendiri tanpa ada mahluk lain yang membantu.

Jangan seperti kacang lupa akan kulitnya. Nge irasanko lemak ni iken, rukut iperempusen daten ko tuwe (Falsafah Gayo yang maknanya, jangan setelah kamu rasakan lemaknya ikan jurung, sayur meranti di kebun kamu biarkan tua). Siapa yang menopang dan menempa hidup Anda? (Bahtiar Gayo/dialeksis.com)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.