by

UAS Mengembalikan “Pakaian” Titipan Allah

Allah sudah menakdirkan mahluk di dunia ini semua berpasangan. Ada siang diantara malam,bentangan  hamparan laut disela  tegaknya gunung.

Demikian dengan manusia, ada empat rahasia ilahi yang tak mampu dijangkau nalar manusia. Langkah, rejeki, pertemuan dan maut. Diantara empat ketentuan itu, satu diantara kini sedang diperbincangkan publik.

Pertemuan dan perpisahan Ustad Abdul Somad yang akrab disapa dengan UAS, dengan Mellya Juniarti.  Prahara rumah tangga ustad kondang ini,  menjadi pembicaraan publik. Bahtera yang dinakhodai UAS bersama Mellya Juniarti, kini berbeda haluan.

Genggaman jemari selama enam tahun dan  sudah membuahkan keturunan, harus dilepaskan di tengah jalan. Perbedaan rasa di hati dan prinsip hidup, mengharuskan mereka menempuh Pengadilan Bangkinang untuk menyelesaikan persoalan.

Beragam statemen bermunculan, antara pro dan kontra. Simpati dan mencaci. Di tengah hiruk pikuknya manusia membahas UAS, petuah yang diungkapkan Sayidina Ali, menantu nabi Muhammad kini kembali terucap.

Ungkapan yang populer dari Sayidina  Ali “ Aku tidak perlu menjelaskan tentang diriku, karena musuhku tidak percaya, dan sahabat-sahabatku tidak memerlukan itu”. UAS mengungkapkan prinsip hidupnya diantara musuh dan sahabat.

Karena persoalan perceraianya dengan  Mellya Juniarti ditanggapi beragam, ahirnya UAS memberikan klarifikasi. Klarifikasi itu disampaikan oleh Ustaz Abdul Somad melalui kuasa hukumnya, Hasan Basri dalam bentuk video.

Klarifikasi itu menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi sejak pernikahanya dengan Mellya Juniarti, 20 Oktober 2012. Sejak empat tahun yang lalu sudah pisah rumah.

Lihatlah video yang diunggah di Youtube Hendri Official Kamis (5/12/2019). Penasihat hukum UAS, Hasan Basri membacakan beberapa poin klarifikasi yang disampaikan oleh Ustaz Abdul Somad.

UAS dan Mellya Juniarti sudah dikarunia seorang anak laki laki, yang diberi nama Midzian Haziq Abdillah Bin Abdul Somad Batubara.  Permasalahan rumah tangga mereka sudah berlangsung lama, sejak  empat tahun lalu. Sebelum UAS  dikenal sebagai pendakwah yang populer dan viral di sosial media.

“Ustaz Abdul Somad telah berusaha mempertahankan rumah tangganya dengan berbagai cara.Terutama sebagai kepala rumah tangga, dalam mendidik Mellya Juniarti. Namun tetap tidak berhasil dan tidak berubah,” sebut Hasan Basri.

Ahirnya perceraian adalah pilihan setelah melakukan berbagai tahapan sesuai ajaran syariat islam. Tahapan itu mulai dari nasehat, pisah ranjang, musyawarah, dan konsultasi keluarga.

“Talak satu dan talak dua, yang berakhir tahap berpisah tempat tinggal pada bulan Mei 2016 sampai sekarang ini,” jelas penasihat hukum ini.

Upaya itu dilakukan UAS, karena tidak ingin berlarut-larut, sehingga menimbulkan fitnah dan mudharat yang lebih besar di kemudian hari.

Walau sudah bercerai secara agama sejak empat tahun lalu, Ustaz Abdul Somad tetap memenuhi kewajiban sebagai seorang ayah kepada anak tunggalnya. Selain itu, UAS juga tetap memberikan nafkah bulanan dan fasilitas kepada Mellya Juniarti.

“UAS selalu menyediakan waktu secara khusus dalam kesibukan dakwahnya untuk tetap bersama menemani, bermain, jalan-jalan, dan lain-lain layaknya orangtua yang selalu menyayangi dan mendidik anaknya,” jelas Hasan Basri.

Gugatan cerai talak  baru diajukan secara resmi pada 12 Juli 2019, ke Pengadilan Agama Bangkinang. Persidangan juga berjalan sesuai dengan aturan dan berproses. 11 kali persidangan, ahirnya majelis hakim memutuskan, memberi izin kepada UAS untuk menjatuhkan talak satu rajii terhadap Mellya Juniarti.

UAS berprinsip,  saat ketidak harmonisan rumah tangga terus terjadi dan tanpa solusi, perceraian bukan langkah mundur. Mungkin bisa terjadi pada siapapun dan manusiawi.

Selain itu, melalui penasihat hukumnya UAS juga mengungkapkan sebuah falsafah, setiap orang akan membaca dan berpikir dengan cara berbeda.  Kebaikan tidak selalu dihargai, keburukan tidak selalu dinistai.

Ungkapan Sayidina Ali juga kembali bergaung.  Falsafah yang popular itu kembali hadir. “Aku tidak perlu menjelaskan tentang diriku, karena musuhku tidak percaya, dan sahabat-sahabatku tidak memerlukan itu”.

Hidup bukanlah siapa yang terbaik, tetapi seberapa banyak kebaikan yang bisa kita lakukan. Apapun cobaan yang menimpa harus kita hadapi dengan sikap positif. Allah SWT berkuasa atas semua takdir manusia. Allah SWT akan menguji hambanya sesuai dengan kapasitasnya masing-masing.

UAS sudah mengarungi samudera rumah tangga. Dalam mengayuh bahtera ada suka dan duka. Romantika hidup akan dialami oleh semua manusia.

UAS sebagai nakhoda sudah berusaha menggengam erat jemari, agar bahtera sampai ke pulau harapan. Namun dalam perjalanan, ada perbedaan untuk menggapai pulau harapan. UAS mengembalikan “pakaian” yang dititip Allah kepadanya.

Dunia ini senantiasa dihiasi dengan persoalan cinta. Ada kalanya berbalut duka dan derita. Ada kalanya berbunga bunga dilingkari bahagia.  Semua manusia merasakanya. Romantika merupakan ketetapan yang maha kuasa. (Bahtiar Gayo/Dialeksis.com)

Comments

comments

News