HMI Tidak Akan Tinggalkan Pemerintah, Asal…?

By on Sunday, 23 June 2019

Catatan : *Feri Yanto

Beberapa hari lalu tepatnya pada Jum’at Malam, 21 Juni 2019 pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Takengon dikukuhkan langsung oleh Pj Ketua Umum Pengurus Besar HMI, Arya Kharisma di Gedung Ummi, Pendopo Bupati Aceh Tengah.

Dalam acara seremonial sebagai pertanda perpindahan estapet kepemimpinan di organisasi mahasiswa Islam terbesar di Indonesia ini dihadiri oleh unsur muspida plus, ormas dan organisasi kepemudaan serta kemahasiswaan tak terkecuali pengurus KNPI organisasi payung OKP.

Seperti biasa, dalam acara seperti ini selalu ada acara sambutan-sambutan mulai dari ketua umum yang baru dilantik hingga ketua umum PB HMI dan tentu saja ada arahan dan bimbingan dari Bupati Aceh Tengah selaku pemimpin di Aceh Tengah.

Dari semua materi kata sambutan dan arahan yang paling menarik dicermati adalah permintaan Bupati Aceh Tengah, bapak Shabela Abubakar yang meminta HMI untuk tidak meninggalkan pemerintah.

Jarang-jarang saja pernyataan seperti itu dikeluarkan oleh seorang pemimpin apalagi tertuju langsung pada suatu lembaga seperti HMI. Sudah sepatutnya kader HMI dan Alumni HMI mempertanyakan mengapa kata “HMI jangan tinggalkan kami” ini sampai di keluarkan?

Lalu ditimpali kembali dengan kata, “Kami tidak akan meninggalkan HMI”, disini sudah barang tentu ada harapan yang besar bagi pemimpin Aceh Tengah ini terhadap HMI pastinya juga pada alumni HMI, lantas apakah harapan itu?

Jika kita melihat HMI secara organisasi, HMI adalah organisasi mahasiswa yang memang banyak melahirkan kader-kader militan dengan kemampuan intelektualitas yang mumpuni.  Sehingga alumni-alumninya banyak yang muncul sebagai tokoh dan penggerak di tengah-tengah masyarakat dengan beragam profesi mulai dari politisi, birokrat, akademisi hingga pengusaha.

Dalam konteks Aceh Tengah, pemerintahan dibawah kepemimpinan Bupati Shabela Abubakar dan Wakil Bupati Firdaus yang dikenal dengan pemerintahan Safda, memang saat ini sedang banyak disorot dari berbagai sisi.

Mulai dari janji politik hingga gejolak internal yang kian mencuat kepermukaan, menjadi konsumsi publik. Tak pelak, pernyataan Bupati Aceh Tengah terhadap HMI tersebutpun menjadi perbincangan dan bahan diskusi di tengah masyarakat.

Apakah pernyataan ini memuat unsur politik untuk merangkul HMI, agar tidak menjadi bagian dalam melakukan kritik terhadap pemerintahan Shafda atau apa makna dari pernyataan tersebut?.

Terlepas dari persoalan tersebut sejatinya memang, HMI diminta atau tidak diminta selalu hadir untuk mendukung pemerintah dalam membangun daerah. Jadi tidak mungkin HMI akan meninggalkan pemerintah, sebab sudah menjadi komitmen asasi HMI untuk selalu hadir dalam persoalan-persoalan yang bersifat keummatan dan kebangsaan.

Dalam artian HMI akan hadir dalam pelbagai persoalan berbangsa dan bernegara dalam konteks ini adalah mengenai persoalan-persoalan daerah dan segala wacana untuk kemajuan Aceh Tengah.

Pun demikian, HMI sebagai organisasi yang bersipat independen yang berarti bahwa memiliki keberpihakan pada sesuatu yang hanif (benar), sejatinya akan hadir untuk mendorong kebijakan-kebijakan pemerintah yang pro terhadap rakyat.

HMI tentu saja akan melakukan perlawan apabila pemerintah itu bersifat zalim terhadap rakyatnya. Sifat HMI ini kemudian memunculkan sebuah pertanyaan pada pemerintahan Shafda, apakah siap tidak akan meninggalkan HMI jika dikritik?

Dalam hal ini juga kepada HMI, kader dan alumninya tentu bukan berarti kemudian menjadi jumawa. Karena, bagi saya harapan bupati itu tidak lain adalah agar HMI proaktif dalam memberikan sumbangsih pemikiran-pemikiran yang dapat mendukung tercapainya harapan dan cita-cita pemerintahan Shafda yang telah dirumuskan dalam visi dan misi kepemimpinan Shafda.

Harapan-harapan Bupati Aceh Tengah ini tentu harus dijawab kader dan alumni HMI/KAHMI dengan karya-karya, pemikiran-pemikiran yang bersifat konstruktif, gagasan untuk membangun, jangan sampai dayung tak bersambut.

Kader-kader HMI harus kembali giat dalam melakukan diskusi-diskusi, dialog-dialog, memperkaya wawasan untuk memecahkan kebuntuan dan persoalan-persoalan daerah dan yang terpenting HMI tetap menjadi penyambung lidah rakyat kepada pemerintah. Sebagaimana yang pernah disampaikan Jendral Soedirman, HMI bukan hanya Himpunan Mahasiswa Islam tapi juga harapan masyarakat Indonesia. Yakin Usaha Sampai!.

*Feri Yanto adalah Ketua Umum HMI Cabang Takengon periode 2016 – 2017.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.