Hidup Bersama  Sampah Demi Orang Lain

By on Saturday, 8 June 2019

Matahari telah kembali peraduan. Takbir mulai menggema. Hari berahir Ramadan telah tiba. Manusia disibukan dengan persiapan hari kemenangan. Pasukan orange merayap ke seluruh sudut kota. Mereka belum menang. Tugas berat masih menanti.

Di setiap sudut kota, limbah semakin menumpuk. Kafasitasnya melebihi dari hari biasa, serakan dan tumpukan limbah ini banyak yang menggunung. Baunya menyengat hidung. Personil orange ini kemampuanya terbatas. Namun mereka harus membersihkan sampah “masyarakat”.

Ketika manusia riang gembira, bersilaturahmi di hari kemenangan, pasukan orange ini tetap dengan pakaian lusuhnya. Sampah membludak saat Ramadan, harus mereka bersihkan. Takbir yang berkumandang mengiringi tugasnya.

Gajinya tidak seberapa, tidak cukup untuk makan sebulan. Manusia pilihanlah yang mau melakukan tugas berat, namun mulia ini. Demi kepentingan orang banyak, mereka ihlas  lakukan. Tidak peduli hujan, malam, atau dingin menusuk tulang, tugas itu harus diselesaikan.

Ada kalanya sumpah serapah ditujukan kepada mereka, ketika ada sisa sisa yang masih belum habis mereka angkut ke tempat pembuangan ahir (TPA). Tudingan ditujukan kepada mereka,”mengapa sampah tidak diangkut”.

Mayoritas manusia “jijik” dengan yang mereka kerjakan. Bau menyengat, membuat perut beraduk, bahkan bagi yang tidak terbiasa akan mengeluarkan makanan yang sudah masuk ke lambung. Tetapi bagi pasukan orange ini, aroma itu sudah menjadi bagian hidupnya, demi “membuang” penyakit dari masyarakat.

Masih banyak manusia yang semena mena kepada mereka. Membuang sampah sembarangan, tidak di bak penampungan. berserakan di mana-mana. PR mereka bertambah, namun semuanya mereka lakukan dengan ihlas.

Sejarah sampah ini, terjadi di setiap pemukiman, khususnya di kota yang dipenuhi limbah sampah. Di Takengon, Aceh Tengah misalnya, setiap harinya ada 50 sampai 60 ton sampah.Dampaknya, petugas harus bolak balik mengangkut sampah mencapai 3 kali dalam sehari.

Tidak ada istilah hujan atau dingin. Gaji mereka jauh dibawah UMR. Hanya Rp 1 juta setiap bulan. Sampai kemana cukupnya? Apalagi petugas ini sudah memiliki tanggungan keluarga.

“Benar, gaji mereka hanya Rp 1 juta sebulan,” sebut Zikriadi, Kadis Kebersihan dan Pertamanan, Aceh Tengah, ketika ditanya Dialeksis.com, Sabtu (8/5/2019), tentang sampah di kota wisata ini.

Menurut Zikri, petugas kebersihan mendapatkan  tugas ekstra selama Ramadan. Jumlah sampah meningkat drastis, bahkan dua kali lipat dari hari biasa. Tumpukan sampah juga berserakan dimana-mana, bukan dikontainer yang sudah disediakan.

Demikian dengan masyarakat yang membuang sampah sembarangan. Sampah di perkampungan, di luar container, bukanlah tanggungjawab petugas kebersihan, namun tanggungjawab kampung masing-masing. Namun karena sampahnya dibuang dijalan, berserakan dimana mana, menjadi tambahan tugas kebersihan, jelasnya.

Pada hari biasa (bukan bulan Ramadan), sampah yang ada di Kota Takengon, sebut Zikri, tidak mampu diangkut sekaligus ke lokasi TPA. Ada kalanya sampai 3 kali supir dan petugas sampah bolak-balik, pada malam hari, mengantarnya ke TPA  Uwer Tetemi, Genting Gerbang Silih Nara.

Ada 20 truk sampah setiap harinya di Kota Takengon. Kalau dihitung-hitung sampah itu mencapai 60 ton dalam sehari. “Kasihan juga kita melihat keadaan petugas yang bekerja tak kenal lelah, demi bersihnya kota Takengon, gaji mereka tidak seberapa, inilah keadaan daerah kita,” sebut Zikri.

Bagaimana dengan kota Anda? Apakah pengalaman di negeri Gayo Lut, Takengon, juga menjadi persoalan yang sama di Kota Anda? Membicarakan sampah, berarti membahas persoalan hidup Anda.

Namun walau petugas sampah ini “bagaikan pahlawan”, bekerja ihlas dengan gaji yang sangat minim, masih ada juga manusia yang mencibirnya, bahkan memakinya ketika tugas mereka disaat tertentu, tidak semuanya tuntas.

Masih banyak manusia yang menambah beban mereka dengan membuang sampah sesuka hatinya. Kalaulah sekiranya petugas kebersihan ini melakukan mogok kerja, dua hari saja, apa yang akan terjadi dengan kota Anda?

Bukankah mereka pahlawan “mengangkut” penyakit dari manusia. Ketika penyakit itu mereka angkut, mengapa manusia masih ada yang semena mena dan melecehkan mereka? Suasana lebaran ini saja, mereka meninggalkan keluarga, demi mengurus sampah.

Bukankah mereka layak dinobatkan sebagai pahlawan? Jika layak, walau mereka tidak mendapatkan gaji dan penghargaan yang layak, Anda harus menaruh hormat kepada petugas orange ini, karena merekalah Anda bisa hidup nyaman. (Bahtiar Gayo)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.