Pong Jemen 89 “Sapu Air Mata” Janda Beranak Dua

By on Saturday, 9 March 2019

Sepasang anak yatim  bagaikan tidak yakin dia akan memiliki tempat tinggal. Ibunya hanya sebagai buruh kasar (mangan ongkosen- Bahasa Gayo). Penghasilan ibunya tidak tetap, ada kalanya untuk memenuhi kebutuhan hidup saja susah.

Namun  Sumarni, yang sudah kehilangan suaminya, berkewajiban mendidik buah hatinya, ketika sang suami terlebih dahulu menghadap ilahi.  Dia tidak pernah putus asa dalam hidup. Ibu dua anak ini menjadikan air mata dan tetesan keringatnya sebagai mineral buat anak anaknya.

Ketika hidup dengan suaminya, dia memiliki setengah hektar kebun di Kala Wih Ilang, Kecamatan Pegasing, Aceh Tengah. Walau hanya tinggal di sebuah gubuk, di sana ada sumber penghidupan. Ada taburan bunga kopi yang diandalkan untuk sesuap nasi.

Namun setelah suaminya meninggal, Sumarni tidak berani lagi tinggal di kebun yang masih berada dalam pinggiran hutan ini. Lokasi ini masih sepi, jauh dengan tetangga.  Terpaksa dia meninggalkan sumber hidupnya ketika sang suami masih hidup. Dia memilih balik kekediaman orang tuanya yang juga hidup serba kekurangan.

Rumah orang tuanya juga belum masuk dalam katagori layak, tak ada kamar buat Sumarni. Sampai kini listrik juga belum ada. Ahirnya ibu yang tanganya kasar ini, memberanikan diri membuat rumah gubuk seadanya tak jauh dari rumah orang tuanya.

Dia membesarkan buah hatinya dengan mengandalkan fisik. Tidak boleh sakit demi  anaknya untuk  tetap makan. Fahri Alamsyah yang masih berumur 9 tahun, sudah duduk dibangku SD kelas 3. Sementara adiknya, Aisyah Kirana, baru berumur 3 tahun, dia masih bayi ketika ayahnya kembali ke ilahi tiga tahun lalu. Mereka bertiga tinggal digubuk yang serba kurang ini.

Melihat penghidupan ibu yang dikenal masyarakat santun ini, komunitas angkatan SMA 89 Kabupaten Aceh Tengah “terpanggil” jiwanya untuk membantu. Komunitas dengan nama Pong Jemen  89   ini memiliki 100 anggota, bahu membahu menyisakan uang mereka untuk membangun rumah janda beranak dua ini.

Ketika awal akan dibangun, baik Sumarni dan aparat Kampung di Terang Ulen, Pegasing, Aceh Tengah, tidak yakin janda yang tabah ini akan memiliki rumah. “Sudah sering diminta data, namun hasilnya tidak pernah ada,” sebut Alfian Enka, mengutip keterangan warga setempat.

Alfian Enka yang dipercayakan sebagai koordinator pembangunan rumah untuk janda ini, memiliki tanggungjawab dan ingin menepis ketidak percayaan warga di sana. Komunitas Pong 89 mulai melakukan pembangunan awal Januari 2019.

Rumah dengan ukuran 6 kali 9 meter ini  memiliki dua kamar, satu kamar mandi, juga ada tempat tidur dan tempat pakaian, sudah diterangi listrik. Saat dilakukan serah terima pada 7 Maret 2019, tangisan haru mengawali Sumarni mengisi rumah barunya. Aparat desa di sana ketika dilantunkan doa, juga  tak mampu membendung air matanya.

“Ya Allah, ternyata masih ada hambamu yang memiliki hati nurani, berbagi kasih sayang. Mereka telah membangun rumah untuk anak yatim,” kata kata Sumarni ini terdengar parau di sela air matanya yang menetes.

Menurut Alfian Emka, untuk membangun rumah itu mereka menghabiskan dana mencapai Rp 60 juta. Selain dari ketulusan Pong Jemen  89 dalam berbagi, ada juga pihak lain yang tak mau disebutkan namanya turut membantu.

Ida Ilyas sebagai bendahara pembangunan rumah ini juga tak mampu menyembunyikan rasa harunya, ketika ibu dua anak ini diberikan kunci rumah. Demikian dengan sekretaris Aida Fitri. Komunitas Pong Jemen 89 dibawah ketua Mustafa Kamal ini, sudah mampu membangun sebuah rumah untuk yatim miskin.

“Kami bersyukur bisa berbagi, untuk itu siapa saja mau bergabung dengan pong jemen 89, silakan bergabung. Sembari bernostalgia, kita beramal, saling membantu,” pinta Alfian Enka.

Fahri Alamsyah, sambil menjabat tangan komunitas Pong 89 saat dia mendapatkan rumah, bukan hanya terlihat ceria. Namun anak yatim ini  sudah memanggil Ama dan Ine (ibu dan bapak) kepada personil Pong Jemen 89. Komunitas ini memang ibu dan bapaknya, sehingga dia memiliki rumah yang layak huni.

Masih banyak janda miskin, anak yatim, kaum duafa yang membutuhkan Ama dan Ine seperti Pong Jemen  89. Masih banyak diantara mereka yang hidup memprihatinkan, harus ada pihak lain yang mengangkat mereka dari ketidakberdayaan. Semoga muncul Ama dan Ine lainya seperti Pong jemen  89. Semoga…. (Bahtiar Gayo/Dialeksis.com)

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.