Sampai Dimana “Gah” Festival Kopi ?

By on Thursday, 22 November 2018

Oleh: Nurhijrah Nanda*

Dengan mengusung tema Melestarikan Budaya, Mensejahterakan Masyarakat Festival Panen Kopi 2018 digelar perdana pada 19 sampai 21 November 2018 di Kampung Rembele dan Seladang Café, Kabupaten Bener Meriah telah usai dilaksakan. Ada beberapa pertujukan yang ditampilkan, diantaranya Fashion Show di kebun kopi, Perempuan dan Entrepreneur, Kopi dan Fotografi, Kopi dan Masa Lalu, Lomba menyortir kopi dan Bazar serta ragam kegiatan unik lainnya.

Semua kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani kopi sebagai katan kunci, disamping memacu sektor pariwisata secara langsung juga di harapakan mampu memberikan solusi ekonomis bagi kalangan petani. Namun sejauh manakah kegiatan event semacam ini mampu memberikan nilai ekonomis kepada petani kopi ?
Karena sejauh ini, kegiatan promosi melalui event sepintas, hanya dapat diikuti dan dinikmati oleh segelintir orang saja, pun petani kopi seolah tersingkir dari kenyataan. Lalu di mana solusi ekonomis yang digadang-gadang sebagai tema itu ? bentuk kesejahteraan seperti apa yang akan didapat oleh para petani dari adanya event ini ? sepitas beberapa pertanyaan mucul dan bersebaran di kalangan petani.

Secara pribadi kami mengapresiasi kegiatan promosi kopi yang diselenggaran melalui Festival Panen Kopi ini, karena walau bagaimanapun Kopi Gayo yang kian hari makin menyeruak di tingkat Internasional, yang tentunya semakin banyak pula kebutuhan publikasi dan promosi. Di perkembangan zaman informasi tentunya cerita tentang kopi Gayo, khusunya Kopi asal Bener Meriah, harus dikemas dan ditampilkan dengan konsep kekinian agar semakin menempati porsinya di tengah-tengah deretan nama besar daerah dan atau Negara penghasil kopi lainnya di tingkat internasional.

Kembali pada kenyataan tingkat kesejahteraaan petani kopi. Satu hal pasti, bahwa setiap petani hanya menginginkan bahwa pada saat panen kopi tiba, harga kopi yang mereka panen mendapatkan nilai yang “mahal”, terlepas dari keadaan nilai tukar rupiah kah, nilai Dolar melambur tinggi, ataupun keadaan sosial-politik Negara yang sedang berlangsung.

Pasca festival ini, rasanya ada PR besar bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Bener Meriah untuk memastikan adanya langkah kongkrit dalam bentuk program yang menyentuh kepada petani kopi secara langsung, dalam rangka memacu tingkat perekonomian dan kesejahteraan petani kopi.

Disebalik nikmatnya kopi Gayo dan kebesaran namanya, terselip kenyataan akan keadaan petani kopi di perkebunan. Akankah nikmat dan taste kopi Gayo yang mendunia seindah taraf hidup petaninya ? impian akan peningkatan kesejahteraan Petani Kopi atas nama rakyat kembali bergantung harap kepada pemerintah. Dan adalah kewajiban bagi pemerintah untuk mewujudkan keadilan ekonomi bagi seluruh rakyatnya.

* Penulis merupakan PLD Bener Kelipah, Alimnus Alwashliyah Banda Aceh.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.