Ketika Oloh Dan Tari  Guwel “Menabuh Cinta ” Di PKA

By on Tuesday, 14 August 2018

guwel 7

Tari Guwel merupakan tari Gayo yang sudah membudaya. Tari yang mengandalkan kelincahan tubuh, gerakan bahu yang khas, berselimut kain kerawang Gayo (upuh Ulen Ulen), merupakan tari “jelmaan” gajah putih, sebuah tari yang tak asing lagi di Gayo.

Tari ini sering dipergunakan ketika menyambut tamu penting yang datang ke negeri Gayo. Sering juga dipergunakan ketika dilangsungkan pesta pernikahan saat penyambutan mempelai. Tari Guwel yang dimainkan oleh  lekaki (Dahlan dan Tuah), biasanya diikuti oleh 7 “bidadari” cantik dengan tangan, jemari lemah gemulai.

Tahun ini, seperti biasanya tari Guwel tetap menjadi andalan Gayo Lut dalam event Pekan Kebudayaan Aceh (PKA). “Kita tetap dipercayakan untuk menampilkan tari Guwel dalam PKA ini. Alhamdulilah pertunjukanya sukses, gerekan tari Guwel sudah makin sempurna,” sebut Ana Kobath, kreografer tari, yang didampingi Erni, juga pelatih tari, menjawab media di Banda Aceh, Selasa (13/8/2018).

Walau untuk eksibisi, namun Ana Kobath dan Erni Ibrahim Kadir mempersiapkan tari Guwel ini hampir sebulan, untuk dipertunjukan pada event bergengsi Aceh itu. Ana mengakui para penari Gayo ini, semakin bermunculan dari generasi ke generasi.

Oloh Guwel

Selain tari Guwel, di PKA ke 7 ini juga ditampilkan musik Oloh Guwel (bambu diracik jadi alat musik). Seorang guru SD yang telah menjiwai Oloh Guwel, telah membuat sanggar. Yusrizal beserta anaknya Sastra Wefahreza (10 tahun), mengakui mempersiapkan diri selama 3 bulan, untuk tampil di PKA.

Yusrizal membawa lagu Uyem, karyanya sendiri ketika menghentak penonton di Taman Sri Ratu Syafiatudin Banda Aceh. 10 anggota sanggar ini menunjukan kekompakanya dalam memainkan alat musik tradisionil dari bambu berupa teganing dan suling, diiringi dengan gegedem (rafai), serta tepuk Gayo (didong).

Guru SD ini mengakui sejak dia kecil sudah mengenal teganing dan suling, kini bagian jiwanya itu dia tanam dalam nadi dan darah sastra, anaknya. Bagaikan gayung bersambut, Sastra yang juga memiliki jiwa seni, memasukan kerelung qalbunya apa yang dititipkan sang ayah. Mereka menunjukkan kemampuanya di Taman Budaya.

Tari Guwel dan Oloh Guwel yang sudah tampil di PKA, terbilang sukses. Decak kagum penonton diiringi dengan tepukan “gemuruh” membahana di anjungan. Oloh Guwel mampu menabuh cinta sementara tari Guwel semakin memperat rasa yang sudah ada.

Semoga seni yang sudah mendarah daging ini tak lapuk di hujan, tidak lekang terkena sengatan matahari. Gayo akan melahirkan sejumlah generasi seni, bukan hanya untuk tari Guwel dan Uluh Guwel, namun banyak seni lainya yang potensi sudah ada di dalam darah penduduk penghasil kopi ini. ( Rel/ Tim PKA)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.