Tanpa Air Dan Keamanan Bagaimana Stand Aceh Tengah?

By on Sunday, 12 August 2018

Banda Aceh | Lintasgayo.com-Walau peranya tidak menambah angka kompetisi Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke 7, namun andilnya turut menentukan kenyamanan. Bagaimana bila stand yang “ dibakar” teriknya matahari, debu berterbangan karena angin kencang, udara terasa panas, semuanya  membutuhkan air.

Bagaimana kalau stand PKA tanpa tersedianya air? Bunga bunga ditaman akan layu, serta keadaan anjungan akan menyengat hidung. Aceh Tengah sudah memikirkan keadaan itu. Makanya taman bunga yang ada di sekitar stand, perlu di siram.  Agar bunga untuk memperindah  anjungan, tidak layu terkulai. Debu debu juga tidak selalu berterbangan, apalagi kondisi Banda Aceh sedang dilanda angin kencang.

Daud SE, kepala PDAM Aceh Tengah sudah menempatkan dua personilnya untuk anjungan. Setiap hari petugas ini harus menyediakan air untuk keperluan di anjungan, serta melakukan penyiraman bunga di seputar taman PKA Aceh Tengah.

Untuk membawa air ke sana gampang gampang susah. Di tengah padatnya manusia yang membanjiri lapangan Ratu Syafiatuddin, mendatangkan air dengan mobil tangki, harus ekstra sabar. Macet di mana mana.

Namun Aulia Mustafa Kamal dan Asmaul Husna  mampu melakukan tugasnya dengan baik. Walau peranan  yang dilakukanya tidak termasuk dalam penilaian PKA, namun jasanya untuk Aceh Tengah sangat besar. “Bila satu hari saja air tidak ada dianjungan, apa yang terjadi?

Demikian dengan petugas keamanan. Mereka harus siap berpegal kaki, mondar mandir ke sana sini, demi pengamanan. Perubahan udara dari Takengon yang dingin ke hawa panas ini, lengkap dengan pakaian seragam, tidak membuat pengaman stand ini harus menyerah.

Syahrial Afri, ka,  Satpol PP menurunkan 4 personil di PKA ini. Dibantu empat personil dari Polres Aceh Tengah. Setiap harinya Armada, Jamiun Bakri, Helmi Yusra dan Azwar, harus tahan letih dan lelah demi mengamankan stand PKA.

Demikian dengan personil Polres, mereka bertanggungjawab penuh terhadap kenyaman stand PKA Aceh Tengah. Artinya Aiptu Bohari bersama Bripka Budiono, Bripka Supiandi Cibro dan  Brigadir  Zeni Alfitra, harus beristirahat ketika anjungan sudah senyap dan harus kembali ketika manusia mendatangi stand. Tidak ada istilah lelah selama pagelaran budaya ini berlangsung.

Demikian dengan petugas lainya, yang peranya tidak langsung menentukan perolehan nilai. Namun jasa mereka sangat turut menentukan nilai dari sebuah tim dalam agenda besar ini. ( Rel)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.