Sri Wahyuni Wanita Tangguh Dari Lembah Merapi

By on Friday, 20 July 2018

Sri Wahyuni (Foto: Dok Lg.com)

Kritikanya sering “pedas”. Berani dan pantang menyerah ketika memperjuangkan sesuatu yang diyakininya benar. Ternyata lembah merapi Bener Meriah menyimpan srikandi. Wanita tangguh yang tahan uji.

Melihat wajahnya yang lembut, keibuan, rasanya tidak mungkin dia akan kritis dan tahan akan ujian “alam”. Bila berbicara soal lingkungan, siapapun yang dinilainya salah sesuai aturan, akan dijadikanya sebagai lawan.

Ibu tiga anak ini memang dilahirkan sebaga inspirasi, terutama  untuk kaumnya. Bukan hanya kritis saat membahas persoalan lingkungan dan sosial, namun sudah teruji ketika menjadi ayah sekaligus ibu buat anaknya.

Namanya tak asing di telnga. Sri Wahyuni. Dia pernah menunjukkan dirinya sebagai bapak bagi anak anaknya, sekaligus sebagai ibu. Ketika teman hidupnya. Ridwan,  seorang aktifis di Aceh  dipanggil ilahi dalam umur yang masih muda, wanita yang bertubuh tidak terlalu tinggi ini, dengan segala daya mampu menjadi ayah.

Seiring dengan perjalanan waktu, alam telah menempanya sehingga makin tegar. Ketua LK3 Bener Meriah dan juga ketua Serikat Petani Indonesia Provinsi Aceh ini, memang aktif dalam berbagai kegiatan. Keseharianya lebih banyak dia tuangkan untuk kegiatan sosial dan lingkungan hidup, apalagi  Sri bagian dari Aceh Green Communiti.

Tetapi walau kritis, namun dia tetap lembut keibuan, apalagi ketika merangkai kata dalam bait bait puisinya. Memang darah seni dalam nadinya terasa mengalir, suka musik, bahkan kini mulai belajar melukis dengan menggunakan serbuk kopi.

“Bang sini duduk biar saya lukis abang,” terucap lembut dari bibirnya sambil melemparkan senyum. Kami bertemu di WRB Coffe, tadi siang. Saat itu dia menemani suami . Kehadiran seorang “satria” ini telah membuat hidupnya tidak lagi sendiri dalam mendidik anak anaknya.

Saya hanya bisa berdoa dan berharap, semoga buah pikiran dan karya karya dalam menyikapi keadaan, akan mampu ditularkanya kepada srikandi yang lain. Semoga bermunculan laksana bintang “Datu Beru” yang lainya.

Semoga semakin “bertabur” manusia yang tahan terpaan angin, mampu menahan sengatan matahari dan tidak menggigil kedinginan saat diguyur hujan. Negeri ini memang membutuhkan manusia yang ihlas dan mau berjuang, serta punya mental yang tangguh.

**; Catatan Bahtiar Gayo Wartawan Waspada

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.