Pemimpin Itu Seperti Supir Buldoser !!!!!!

By on Monday, 25 June 2018

LintasGayo.com – Berani bersikap dengan mengorbankan perasaan orang lain, kadang kala dibutuhkan oleh seorang pemimpin. Dia harus berani mengambil keputusan, walau ada yang harus “dikorbankan”.  Dalam istilah Gayo disebut “Reje munyenawat gere mubekat”.

Tidak mungkin seorang pemimpin itu mampu memenuhi “keinginan” semua pihak. Dalam sebuah keputusan tentunya ada yang pro dan kontra, ada yang senang dan tidak senang. Pane mupetimang cing ni neraca.

Analisa dan sikap seorang pemimpin sangat dibutuhkan dalam membangun sebuah negeri. Bila  sebuah keputusan untuk kepentingan orang banyak, namun ada yang harus dikorbankan, disinilah letak bijaksananya seorang pemimpin.

Bila keputusan itu lebih banyak manfaatnya, namun ada juga dampak negatifnya, maka keputusan itu harus  tetap diambil.   Membiarkan masalah dengan tidak mengambil keputusan, bukanlah sikap leader.

Keputusan yang sudah diambil dengan berbagai pertimbangan, harus mampu dijalankan dengan baik. Pemimpin harus mengamankan kebijakan yang diambilnya, sampai tujuan dari keputusan itu tercapai. Kenge itegu enti iantus, kati enti metus tali ipumu.

Adanya hambatan, tantangan dalam perjalanan, itu merupakan dinamika dan harus diselesaikan dengan bijak. Pemimpin itu ibarat membawa  buldoser.  Jalan yang akan dituju itu harus  jelas.

Saat melintasi jalan yang akan menjadi tujuan, kebetulan di sana ada duri, kerikil, bebatuan yang menjadi aral pelintang perjalanan. Tidak harus supir turun untuk memindahkan “ganguan” dalam perjalananya.  Namun dia dengan penuh pertimbangan harus membersihkan aral yang melintang di hadapanya. (sawah kuhaikiket enti kao takut, enti kire surut terih kin tetakut”.

Sang supir juga bila sudah melihat jalan yang dituju, tidak harus lagi mendengarkan “bisikan”  saat dia mengemudi. Apapun tantangan di perjalanan itu harus dilaluinya, sehingga pulau harapan yang ingin digapainya terwujud.

Tidak ada sebuah keberhasilan yang dilalui dengan mudah, semuanya membutuhkan pengorbanan dan rasa percaya diri, sembari berserah diri pada ilahi rabbi. Bila sudah melangkah, jangan lagi memikirkan jalan untuk surut. (Bahtiar Gayo/ Wartawan Waspada/ FB)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.