PEJUANG “KERUPUK”

By on Saturday, 24 February 2018

Oleh: Nur Hijrah Nanda*

Dalam sebuah ungkapan Gayo tersebutlah kalimat … beltek ni bertih musempur dirie yang dapat dipahami sebagai pola perubahan yang terjadi secara alami. Bukan malah menjadi sebuah keterpaksaan dengan beralasan pada tuntutan situasi dan keadaan, karena dari awal kehidupan ini dijalani dengan pilihan.

Kehadiran “Pejuang Kerupuk” tak dapat dihindari. Perjuangan yang penuh dengan minyak licin hanya semata untuk mengembangkan kerupuk, yang terlihat keras dari luar tapi malah rapuh di dalam. Dalam kenyataan pun kerupuk tak pernah menjadi makanan pokok melainkan cemilan semata. Belajar dari siklus alam dimana setiap perubahan akan diawali oleh faktor sebab dan diakhiri dengan akibat. Akankah sebab tersebut akan setimpal dengan akibat yang ditimbulkan ? hanya proses perjalanan kehidupanlah yang akan menjawabnya.

Ada ungkapan Gayo yang menyatakan kune abahe lagu oya rebahe adalah sebuah bentuk konsekuensi logis dalam mengurai perjalanan kehidupan ini. Kendati dalam waktu dan situasi tertentu selalu akan selalu muncul factor x sebagai penyeimbang, ”ke nasip male muntung, dalih tebang ramung demu tanoh rata. Karena secara umum kehidupan ini di ibaratkan jening ni cerka yang berputar searah pada poros yang tetap. Bukan malah berharap pada kemungkinan yang tidak  terduga, umpama syair lagu Gayo; I Mendale doran itama, I Mengaya kona ni gule.

Namun dewasa ini, kerasnya perjalanan kehidupan seolah memaksa untuk beralih dari satu arah menuju arah lainnya, dari satu jalan ke jalan lainnya, hanya demi pemenuhan kebutuhan dan keinginan. Kendati kondrat alam akan senantiasa membarengi setiap jengkal usaha yang dilakukan.

Agar tidak menjadi sebuah kerancuan yang berkepanjangan, adalah dengan menerapkan pola tingkis ulak ku bide, sesat ulak ku dene. Sebuah perjuangan yang dilalui dengan keterpaksaan tidak akan membuahkan hasil yang baik. Keikhlasan dalam berusaha dan kesabaran yang dibarengi dengan do’a adalah jalan yang terbaik. Jangan sampai cabang kin pemelah kendati muselpak ni cabang ari kerna uwah.

 

*Penulis merupakan alumnus STAI Al Washliyah Banda Aceh, Pemerhati Sejarah dan Budaya Gayo

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.