Premium Fee Untuk Anak Petani Kopi Gayo

By on Monday, 16 October 2017

Lelaki gondrong ini datang kala pagi, setelah mengantarkan dua orang tuanya manasik umrah.
Penampilannya cuek. Beroblong, celana jin dan sendal. Begitulah kesehariannya. Kalangan pecinta alam dan aktivis mengenalnya dengan sapaan “Gembel”. Ya, Gembel. Nama itu lebih lekat daripada nama aslinya, Sadikin. Sadikin Gembel.
Dibalik penampilan gembelnya, Aman Ipak ini, memiliki pemikiran mendalam serta visioner soal lingkungan dan kemanusiaan.
Gembel yang mahir berbahasa Inggris ini, pernah Malang melintang bekerja dengan lsm asing. Relasinya luas dan ide idenya cerdas dan berwawasan hijau.
Kecintaannya pada alam di Tanoh Tembuninya,diwujudkannya dalam Seladang Cafe.
Sebuah konsep hijau dimana para pecandu kopi minum langsung di kebun kopi. Konsep Gembel ini dibuat dengan konsep yang matang dengan persiapan beberapa tahun sebelum di buka.
Dan, konsep ini langsung boming paska launching . Antusias warga lokal dan asing begitu besar sehingga Seladang Cafe dipenuhi peminat wisata seperti ini. Minum kopi di kebun kopi.
Seiring waktu, Seladang Cafe maju pesat. Gembel terus membenahi diri dan peralatan. Jika dahulu, Seladang Cafe mengandalkan kopi Racik Manual, kini hampir semua peralatan minum kopi tersedia, sesuai keinginan tamu.
Varian menu kopi yang beragam kini dipadu dengan makanan khas Gayo bahkan menu asing. Salah satu menu makanan yang banyak dipesan adalah nasi goreng terasi.
Di Seladang Cafe, Sadikin seperti menemukan stylenya. Lelaki yang tak pernah memotong rambutnya ini pernah menguji nyali dan fisiknya . Caranya cukup ekstrim dan beresiko,yakni berenang di Danau Luttawar dari Timur ke Barat.
Dari Kecamatan Bintang hingga ke Takengon. Rute sepanjang 17 kilometer ini dilakukan Sadikin sendiri dan berhasil.
Sukses mengelola Seladang Cafe yang kini memiliki sembilan orang karyawan dan habiskan tiga kilo kopi arabica sehari, Gembel ternyata masih resah.
Resah karena jurang antara petani kopi dan pengusaha begitu lebar dan dalam. Padahal, banyak dari petani kopi yang menjadi anggota koperasi.
Dimana hampir semua koperasi kopi Gayo setiap tahun mendapat milyaran uang dari premium fee.
Premium fee ini diperoleh masing masing koperasi yang menjual kopinya di luar negeri dan konon dikembalikan kepada petani dalam berbagai bentuk bantuan fisik.
Namun,setiap tahun keadaan petani tak jua berubah. Masih miskin secara ekonomi dan berutang untuk berbagai keperluan rumah tangga pada toke kopi di kampung.
Menurut Gembel, ada jalur yang hilang dan terputus antara petani dan koperasi. Jika selama ini, kebanyakan premium fee dipakai untuk bangunan fisik dan berbagai pelatihan menaikkan sumber daya petani serta studi banding, hal itu belum mampu menaikkan ekonomi petani kopi Gayo secara nyata.
Lantas, dari balik rambut gondrongnya , Gembel mencoba berbagi ide yang diharap menjadi salah satu solusi.
Dana milyaran rupiah per koperasi tersebut tidak lagi untuk fisik semata. Tapi ditata lebih apik dan bervisi ke depan dengan mengikuti perkembangan jaman dan teknologi.
Para pengurus koperasi harus mulai melirik anak -anak petani kopi ini untuk ikut membiayai pendidikan mereka. Artinya, kata Gembel, seperti Kartu Jakarta Printer (KJP), koperasi membuat rekening untuk biaya pendidikan anak petani kopi.
Selain itu, gagasan Gembel lainnya adalah melatih anak-anak petani menjadi Q Grader dan juga Barista.
Dengan melatih anak – anak petani menjadi Q Grader dan Barista, bisa dibayangkan sumber daya manusia anak petani kopi ke depan akan mampu menjadikan kopi Gayo sebagai kekuatan ekonomi yang tinggi karena kopi tidak lagi dijual mentah berupa greenbeans.
Selama ini margin market tersebut keuntungannya diambil pengusaha asing. Masalahnya adalah, maukah pengurus koperasi koperasi melakukan hal ini dan keluar dari titik aman yang hanya membangun fisik dari uang petani kopi?
Selain pada koperasi, Gembel juga berharap para eksportir kopi Gayo juga mulai ikut membantu percepatan pembangunan manusia petani kopi dengan mendidik anak petani.

” Jika semua pihak yang terlibat dari perdagangan kopi ini mengambil peran langsung, maka kesenjangan antara petani dan pengusaha bisa mulai dikurangi”, tegas Sadikin Gembel.
Sementara itu, Gembel juga sangat mendukung upaya Pemda Bener Meriah yang dikatakan Wabup, Tengku Syarkawi Abdussamad. Menurut menurut Syarkawi, Para mahasiswa dari Bener Meriah akan dilatih enterprenership, khususnya menjual kopi Gayo.
Para mahasiswa anak petani kopi ini ke depan dilatih berdagang komoditi andalan ini sebagai penyumbang PAD.
Hal ini , ujar Gembel , senada dengan apa yang disebutnya dengan “Kopi Ransel”. Dijelaskan, mahasiswa Gayo yang sedang merantau mulai meraup rupiah dengan cara berjualan kopi Gayo.
Kopi Gayo yang sudah terkenal karena rasa dan aroma khasnya, dijual mahasiswa Gayo anak petani kopi dimana saja mereka berada.
Bermodalkan ras Ransel seperti layaknya kuliah, semua peralatan kopi dari saji manual ditempatkan dalam tas dan bebas dibawa kemana saja dan kapan saja.
“Segmen pasarnya sangat luas , biaya murah, sehingga bisa dilakukan siapa saja “, papar Gembel.
Dengan Kopi Ransel ini, anak anak petani kopi bisa menghidupi dirinya, mandiri dan memiliki ilmu berdagang yang selama ini tidak diajarkan oleh muyang datu.
“Selama ini orientasi kita di pegunungan ini hanya jadi petani, sekolahkan anak untuk jadi PNS. Cuma itu”, tegas Gembel. Kedepannya pola pikir itu harus dirubah karena tingginya posisi tawar kopi Gayo dalam kancah ekonomi dunia.
Saatnya kopi Gayo dijual masyarakat Gayo yang selama ini menjual mentah. Satu hal, harap Gembel yang baru pulang dari Turki bersama Pemkab setempat dalam rangkadl promosi dan misi dagang. Para pembeli kopi Gayo dimana pun berada, agar membeli kopi Gayo di Gayo.
Selama berada Turki , sebutnya, antusias warga Turki membeli kopi Gayo begitu besar. Susana juga, Gembel telah mencoba berbagai kopi dari belahan dunia lainnya dan berucap, ” berbahagialah kita yang sudah dianugerahi Allah salah satu kopi terbaik dunia”, kata Gembel tersenyum.


Oleh : Win Ruhdi Bathin (WRB)
Penulis : Owner WRB Coffe Shop Takengen

Comments

comments