Sang Kombatan

By on Friday, 13 October 2017

Foto : ekslusif Win Ruhdi Bathin

Dia datang sendiri. Berkendara roda dua. Kami menyebutnya honda. Walau mereknya yamaha atau suzuki. Terkadang dia datang mengenderai mobil. Lelaki kekar berkulit gelap ini mengenakan jaket. Seperti kebanyakan lelaki di sini. Setelah memarkirkan hondanya, dia mengucap salam sambil mengangkat tangan. Menyalami enam orang yg sudah duduk terlebih dahulu di warkop yg kini disebut cafe.
Mereka saling kenal. Lelaki yg dulu gondrong tak terurus ini langsung menuju ruang belakang kafe setelah menaiki dua anak tangga. Dia duduk di kursi kayu bermeja berbahan pinus yg digosok bak kaca. Mengeluarkan kaca mata baca, dan mengotak atik medsosnya.
“Kopasus sara . Lah kul gelase yoh…”kata lelaki beranak enam ini agak berteriak. Kami yg duduk agak jauh darinya terbahak. Dia adalah Ibnu Sakdan. Seorang mantan kombatan asal Kenawat Luttawar.
Di kafe ini, selain berkelakar dan bercerita ngalor ngidul, Sapu Arang juga suka bermain catur. Di cafe ini, Sapu Arang sering melihat permainan catur seorang Master Nasional , Irwandi MN

…….

Kami enam orang. Tiga kenderaan roda dua. Dari Takengen mengarah ke sebuah lokasi yg sudah ditentukan di pinggiran Simpangtige.

Dari Simpangtige, kami diminta mengarah ke Delungtue. Sebuah kampung paling dekat dengan hutan. Ujungni Mpan
Kenderaan pemandu kami berganti. Kini sebuah honda bebek yg dikemudikan remaja. Sesekali sang pemandu melihat ke belakang ke arah kami sambil terus mengemudikan hondanya.
Mata warga kearah kami yang memasuki kampung mereka seperti peluru yang menghujam. Apalagi kenderaaan dan rupa kami yang tidak mereka kenal.
Namun kami yang bekerja membuat berita tentu paham situasi ini. Darurat militer dan darurat sipil yg mereka alami menjadikan mereka super hati-hati, takut dan semua hal yg bersifat menindas.
Jika kami memandangi warga dan bertemu mata, mereka buru buru menunduk dan segera berlalu. Kontak apapun dengan orang yg tidak mereka kenal akan dihindari. Kesalahan masyarakat sekecil apapun bisa menjadi sebab kematian. Nyawa yang berharga murah dalam konplik. Dengan mayat -mayat yang dibuang di pemukiman, membuat warga trauma stadium akut.
Semakin lama, pemukiman semakin jarang rumah penduduknya. Hingga tiba di ujung kampung . Disana hanya ada tiga atau empat rumah yang saling terpisah di pinggir jalan yang rusak.
Pemandu berhenti . Kamipun berhenti. Pemandu meminta kami memasuki sebuah rumah kosong. Sebagian dinding rumh yang tidak terurus ini tidak ada lagi. Sehingga pemandangan dari rumah menembus ke luar. Sang pemandupun pergi entah kemana.
Lama kami menunggu tidak ada yang datang. Kemudian muncul beberapa laki -laki yang sebagian ke arah sawah tak jauh dari rumah tempat kami berdiam.
Sebagian lainnya berjalan melewati rumah dan kemudian hilang. Mereka melihat ke arah kami kemudian pergi tak berucap apapun.
Setelah hampir dua puluh menit, barulah muncul seorang lelaki bertubuh sedang. Kulitnya putih. Mata sedikit sipit. Mengenakan tas ransel di punggungnya, berbaju kemeja lengan pendek dan celana katun , kakinya bersepatu bak pegawai.Gayanya persis anak kuliah.
Dia melempar senyum ramah. Kamipun tersenyum menyambutnya. Dialah “Abang Gajah”, julukannya di hutan sebagai gerilyawan. Nama aslinya Fauzan Azima. Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Wilayah Linge.
Semua kami bersalaman. Fauzan menyatakan bahwa semua pasukan GAM diperintahkan menyerahkan senjata. Penyerahan senjata tersebut dilakukan secara bergelombang di Ujungni Mpan.
Fauzan memperlihatkan senjata yang telah diserahkan anggotanya. Kebanyakan AK 47 yang dikenal sangat efektip dan jarang macet. Meski kontak senjata dilakukan seharian.
Saat senjata laras panjang buatan Rusia tersebut ditunjukkan, sepasukan Prajurit GAM lainnya yang baru tiba datang menghadap.
Fauzan kemudian memerintahkan anggotanya yang telah tiba beberapa hari sebelumnya untuk menyiapkan meja dan buku guna mendata senjata.
Saat penyerahan tersebut, tampak sosok Sapu Arang menenteng senjata AK 47. Wajahnya sangar. Berbaju kemeja putih yang sudah kusam. Rambutnya gondrong hingga sebahu dan tampak terpilin karena tak pernah disisir. Pandangannya tajam dan penuh curiga.
Sapu Arang memberikan senjatanya pada Fauzan yang terlihat lebih kecil di banding Sapu Arang yang terlihat lebih tinggi dan tegap.
Fauzan memeriksa senjata AK 47 itu dari laras hingga popornya. Kemudian mengokangnya setelah melepaskan magazen. Fauzan memastikan senjata tersebut siap pakai.
Sorot kamera dengan blitz menyala dari berbagai media dan tv merekam semua proses tersebut untuk diberitakan.
Kenangan penyerahan senjata tersebut masih lekat di memoriku meski telah 11 tahun silam. Apalagi sosok Sapu Arang yg tampak seperti Tarzan jika dibandingkan dengan pasukan GAM lainnya.
……
Kembali bersama Sapu Arang yang sedang bermedia sosial seraya meneguk kopi susunya. Lamat kuperhatikan setiap gerakannya. Dia kemudian membakar ujung rokok kreteknya. Menghisapnya dalam dan terus asyik dengan smartphonenya. Sementara kacamata baca menempel diatas hidungnya.
Merasa bahwa dia sedang benar-benar santai, aku menyambanginya. Aku menyatakan padanya ingin berdiskusi tentang keadaannya sekarang. Keadaan secara ekonomi setelah menyatakan ikut turun gunung dari cita -cita merdeka.
Kala itu, Sapu Arang bersama 12 orang pasukan GAM, sedang berada di pegunungan Kampung Rawe. Mereka didatangi dua orang anggota GAM , Husni Jalil dan Bujang Gumara (Khalidin). Sapu Arang diperintahkan untuk turun dan menyerahkan senjata karena sudah ada Memorandum of Understanding (MoU) perdamaian.
Berat bagi Sapu Arang menerima berita perdamaian ini karena mengira berita yang diterimanya adalah kata “Merdeka”
Meski sudah damai, Sapu Arang tetap ekstra hati-hati. Dari Kampung Rawe, Sapu Arang menyeberangi Danau Luttawar menuju Kampung Kelitu di bagian Utara Danau.
Dari Kelitu, memanjat gunung terjal Kelitu menuju Bener Meriah disebelahnya. Lewat hutan berakhir Ujungni Mpan.
Dikatakan Ibnu Sakdan alias Sapu Arang, secara pribadi tidak setuju dengan MoU. Karena mengacu pada sejarah Aceh yang mendeklarasikan menjadi sebuah negara Merdeka terpisah dari NKRI sejak tahun 1976. Berpuluh tahun mereka berjuang untuk merdeka.
Namun karena perintah atasan, yakni Panglima GAM Wilayah Linge, Sapu Arang melaksanakan perintah tersebut. Sapu Arang bersama pasukannya adalah Pengawal khusus Panglima Linge.
Menurut Sapu Arang, setelah MoU. Perekonomian masyarakat semakin baik. Begitu juga untuk diri dan keluarganya. Namun yang paling penting adalah kini bisa menetap hidup bersama keluarganya.
Tidak “merantau” atau berpindah-pindah karena bergerilya. Setelah MoU, Sapu Arang pernah merasakan menjadi kontraktor dari proyek BRR Aceh (Badan Rehab dan Rekon).
Selain itu , dia tetap bekerja di kebun kopi miliknya di Kenawat. Selain bertani, Sapu Arang ikut berpolitik bersama partainya gubernur terpilih Aceh saat ini. Sejak dideklarasikan.Aceh kini dipenuhi parlok yang tumbuh subur, selain parnas.
Kini, dari enam orang anaknya, tiga orang sudah meraih gelar sarjana. Jika Aceh bergolak lagi, Ibnu Sakdan menyatakan tidak akan ikut lagi menjadi pemberontak. Bahkan mewanti-wanti anaknya untuk tidak ikut atau terpengaruh menjadi pemberontak.
Menurut Sapu Arang, para pemimpin Aceh yang mendeklarasikan negara merdeka tidak amanah dan tidak bisa dipercaya. Karena mengganti cita-cita merdeka. Untuk itu, Sapu Arang tidak akan pernah lagi ikut menjadi pemberontak. “Sudah cukup. Saya tidak akan pernah ikut lagi. Termasuk anak saya”,kata Sapu Arang sambil tertawa.
Selain itu, Sapu Arang berharap butir-butir MoU yg sudah disepakati agar dilaksanakan.
Kini, Sapu Arang kembali ke Kampung Kenawat di pinggiran Danau Luttawar. Hidup bersama keluarganya menjadi petani kopi seperti kebanyakan warga Gayo yang memang hidup di Dataran Tinggi , dimana kopi mendapati tanahnya untuk hidup subur dan menjadi sumber ekonomi utama rakyat gayo.
Tangan kokoh itu, kini memetik chery merah dari buah kopi arabika dan menjemurnya didepan rumah sederhananya. Dan merasa bahagia karena tak lagi “merantau “ dari satu hutan ke hutan lainnya demi sebuah doktrin.

Kini, Sapu Arang hidup merdeka tanpa doktrin yang mengikat dan membelenggunya selama berpuluh tahun. Setia pada sumpah yang diikrarkannya. Bersama puluhan orang lainnya yang kini menjadi masyarakat sipil dan bertani kopi.

Oleh : Win Ruhdi Bathin (WRB)

Penulis : Owner WRB Coffe Shop Takengen

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *