Tanah Syurga Bersepeda Jalur Tebuk-Kenawat (3)

By on Tuesday, 26 September 2017

Penduduk Kenawat sepertinya menyadari betul bahwa kemiringan diatas 40 derajat tak boleh ditebangi. Berpadulah tumbuhan kopi dan pohon kayu. Seperti kopi konservasi yang kini marak dikembangkan. Petani kopi disini sudah menerapkannya berpuluh puluh tahun lalu.
Karena geografis ini pula, saat konplik dulu, kawasan ini menjadi bagian dari gerilya. Di Timur kawasan kenawat, sementara di bagian barat, Tebuk hingga ke Bur Lintang tembus ke Isaq. Geografis seperti ini pula membuat konplik Aceh menjadi panjang. Karena begitu banyak tempat untuk sembunyi.
Tiba di Kampung Kenawat, suasana kampung tampak sepi, kebanyakan warga sedang berada di kebun kopi yang menempati bukit dan gunung yang luas. Kampung Kenawat sesungguhnya adalah hamparan sawah dengan beberapa anak sungai di tengahnya.
Kenawat adalah kampung tua . Sudah berdiri sejak ratusan tahun silam. Tampak rumah rumah disisi jalan yang memanjang dengan halaman belakang atau depannya adalah sawah atau sungai kecil.
Setelah hamparan sawah, Kampung ini berbatasan langsung dengan bukit atau gunung yang sebagian berbatu cadas ditumbuhi pinus. Hampir semua penduduknya berladang dan sawah atau sebagian lainnya menjadi nelayan.
Di sebuah rumah, tampak seorang ibu sedang menjemur tembakau hijau yang laku keras saat ini. Tembakau hijau atau bako ijo menjadi alternatif merokok yang populer beberapa bulan belakangan. Bako ijo bahkan sudah dikrim ke luar Gayo atau bahkan dijual secara online.
Bako hijau dibuat dari daun tembakau yang masih muda. Masih hijau. Berbeda dengan tembakau konvensional yang dibuat dari daun tembakau yang sudah menguning karena tua. Bako ijo lebih banyak dibuat karena laku keras bak kacang goreng.


Kami melewati rumah seorang tokoh masyarakat Gayo asal Kenawat. Sebuah rumah kayu yang dibuat lebih asri dibandingkan rumah tradisional lainnya. Tengku Haji Aman Firdaus. Tgk.HA.Firdaus, tertulis di depan rumah. Tampak sepi.
Saat membawa turis asal Belanda dulu, kami singgah di rumah ini dan dibuatkan kopi oleh keluarga Pak Firdaus. Bule Belanda kala itu terkesima dengan keramahan penghuni rumah ini dan masuk bersalaman dengan istri pak Firdaus sambil mencium tangannya. Keramahan yang begitu santun.
Kini Tengku Haji Aman Firdaus bersama istrinya telah berpulang. Kenangan itu masih lekat di memoriku. Dua putra Tengku Haji Aman Firdaus kini menetap di Denmark. Yusra Habib Abdul Ghani dan Habib Johan Makmor . Sementara sebuah rumah lainnya dari seorang kombatan yang akan kusinggahi , juga terlihat sepi.
Rumah Ibnu Sakdan yang dalam bahasa gerilya namanya dipanggil Sapu Arang. Di depan rumah Sapu Arang yang sederhana tapi permanen, tampak dijemur gabah kopi dan juga padi. Sapu Arang sedang berada di kebun. Dulu, Sapu Arang pernah kufoto selepas MoU di Kenawat Redelong.
Kala itu, Sapu Arang menenteng senjata AK 47. Kulitnya hitam legam dengan dengan rambut gondrong , gimbal. Baru turun dari hutan dan diperintahkan mengumpulkan senjata oleh Bang Gajah, Panglima GAM Linge kala Itu, atau dengan nama asli Fauzan Azima.
Kenawat , Kampung yang tak jauh dari Danau Luttawar ini ditulis sejarah dari masa ke masa. Sejarah perlawanan dari anak anak Kenawat yang kemudian menjadi pejuang hingga kini. Alam Kenawat ini telah melahirkan banyak kisah dan berita. Kami melewati Kampung Kenawat dengan sapaan anak anak yang ramah.
Tak jauh dari Mesjid Kenawat, saya bertemu Bang Aman Una. Rumahnya persis di pinggir kali kecil. Menurutnya , pada Kamis 14 September 2017, sejumlah rumah disana mengalami banjir. Biasanya, awalaupun hujan tak sampai banjir. Air tak sampai masuk rumah. Kali ini menggenangi rumah, kata Aman Una. Kasurnya tampak dijemur di tembok pagar.
Jalan dari arah Pedemun-Kenawat sedang dikeruk dan dilebarkan. Bahkan beberapa bagian tebing jalan terlihat longsor. Alat berat dan dump truck berjejer menunggu muatan tanah untuk dibuang ke tempat lain.
Kenawat kami tinggalkan sebelum Zhuhur . Kami berniat singgah lagi di Republik Coffee One-one punya Duan atau Aan. Sayangnya kafe yang sedikan manual brew kupi gayo ini tutup. Terpaksa kami memacu pulang ke Paya Tumpi dan tiba pukul 12.00Wib. Kami telah bersepeda gunung selama lima jam sepanjang 20 kilometer lebih di tanah Syurganya bagi paca pecinta sepeda (Habis)
Terkait :
Tanah Syurga Bersepeda Jalur Tebuk-Kenawat (1)
Tanah Syurga Bersepeda Jalur Tebuk-Kenawat (2)

Oleh : Win Ruhdi BathinP

Penulis: Owner WRB Coffe Shop Takengen

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *