by

Dibalik Terpilihnya Bung Tagore Abubakar Ke Senayan

Oleh : Yunadi HR

YunadiKalimat pertama yang saya ucapkan saat mengetahui, Bung Tagore Abu Bakar resmi mendapatkan satu kursi dari DAPIL NAD II ke senayan adalah syukur Alhamdulillah. Kejadian itu sekitar Minggu Pertama Mei 2014,saat saya terbaring sakit di RSUD Datu Beru Takengon. Mengapa saya memanggil salah satu guru politik saya ini sebagai Bung; karena kami sama – sama alumni GmnI, bung Tagore Alumni GmnI Medan, saya Alumni GmnI Semarang; saya Ketua PD PA GmnI Aceh beliau Anggota Dewan Pakar PD PA GmnI Aceh. Panggilan bung itu adalah rasa hormat saya pada beliau.

Saya mengenal Bung Tagore sekitar Tahun 2006. Saat itu saya masih di semarang dan bung Tagore masih bupati Bener Meriah.

Januari 2008, saat kami para Alumni GmnI se-Indonesia, mengikuti pembekalan Calon Anggota KPUD di Jl.Cikini Raya,Jakarta, Markas PP PA GmnI; yang saat itu materi diisi oleh Bung Gde  Putu Artha,Anggota KPU RI (2007-2012) yang juga Alumni GmnI Udayana Bali. Disela-sela itu saya bertelpon dengan Pak Tagore AB, guna memperkenalkan Pak Tagore AB dengan Ketua PP PA GmnI saat itu.,yaitu Palar Batubara ( Mantan Anggota DPRRI 1999 – 2004 dari Golkar, sekarang beliau di Kubu Golkar Agung Laksono ) sebelumnya saya banyak cerita Perjuangan ALA dengan Bung Palar tersebut. Atas dasar itu saya link-kan dengan Pak Tagore AB; karena saat itu Wakil Ketua Komisi II DPRRI adalah Alumni GmnI Jabar,dari Golkar, Bung Eka Santoso. Dan hari itu,hari senin 28 Januari 2008. Hari itu cukup lekat diingatan saya,karena hari itu saat pemakaman Pak Soeharto yang ditayangkan siaran langsung di TV.

Dibalik Menuju Senayan

Harus kita akui bersama, bahwa Bung Tagore AB adalah seorang Tokoh Politik yang mumpuni dibidangnya. Beliau telah kenyang dengan asam garam perpolitikan di Aceh. Beliau adalah tokoh Golkar di Aceh Tengah dan Bener Meriah, paling tidak sampai beliau ahirnya Mencalonkan diri dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, PDIP. Bung Tagore AB juga menjadi Tokoh Sentral dalam Perjuangan Pemekaran Provinsi ALA, yang telah puluhan tahun dikumandangkan.

Berpuluh tahun bung Tagore di Partai Golkar, telah mengantarkan beliau menjadi Anggota DPRD Kabupaten Aceh Tengah, dan pada tahun 2004 juga menjadi ketua DPRD Kabupaten Bener Meriah. Menjadi kokoh lagi saat dia juga adalah Punggawanya Golkar Kabupaten Bener Meriah. Bahkan dengan ketokohan beliau, dapat dikatakan beliau sukses sebagai ketua DPD II Golkar Bener Meriah ditandai dengan diraihnya 6 dari 25 Kursi Anggota DPRD Bener Meriah 2009-2014  adalah kader Golkar. Pada saat yg hampir bersamaan, bung Tagore menjadi Bupati yang Fhenomenal di Bener Meriah (2006 – 2011).

Antiklimaks kepemimpinan bung Tagore di Bener Meriah adalah manakala pemilukada Bener Meriah Tahun 2012; Bung Tagore secara tak terduga dikalahkan bupati Bener Meriah saat ini (2012 – 2017), pak Ruslan Abdul Ghani.

Dalam banyak hal, bung Tagore tetap lantang berbicara, terutama bicara Gayo dan ALA, walau telah tidak lagi menjadi bupati bener meriah.

Tahun 2013 menjadi tahun yang menarik disimak. Pasca kekalahan bung Tagore di tahun 2012 di Pilkada Bener Meriah, banyak fihak menginginkan Bung Tagore Agar maju ke DPRRI, ke senayan, guna lebih lantang lagi dalam menuntaskan perjuangan ALA. Tak dinyana,tak disangka; Justru Bung Tagore gagal untuk mencalonkan diri dari Partai Golkar Yang dibesarkannya. Yang lebih menyesakkan dada  adalah saat itu Bung Tagore masih resmi sebagai ketua DPD II Golkar Bener Meriah.

Dugaan muncul, kegagalan Bung Tagore maju sebagai Caleg DPRRI dari partai Golkar adalah “sabotase” politik di level Provinsi. Dugaan itu diperkuat kekhawatiran akan suara lantang bung Tagore yang tak pernah menyerah saat perjuangkan ALA. Perjuangan ALA itu pula yang mencongkel beliau dari kesempatan menjadi Caleg DPRRI dari Partai Golkar. Apalagi sebelumnya 8 Desember 2012; bung Tagore dan Rekan-rekan pejuang ALA serta pemuda dan Mahasiswa ALA melakukan seminar ALA di Medan, Hotel Garuda.

Peran Persatuan Alumni  Gmni Dan Gmni Dibalik Pencalonan Bung Tagore Ke PDIP.

Dalam dunia pergerakan kemahasiswaan yang begitu menonjol secara nasional adalah Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GmnI) dan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Kedua organ ekstra kampus itu ibarat sepasang sepatu. Negara Indonesia digerakkan,dijalankan oleh kader-kader alumni kedua organisasi besar itu. Sebut saja beberapa Alumni HMI;antara lain; Jusuf Kalla,Anas Urbaningrum,Anies Baswedan dan banyak lagi. Kemudian Alumni GmnI antara lain; Megawati, Tjahyo Kumolo, Prof. Muladi, Prof.Arief Hidayat (ketua MK),juga Antasari Azhar (mantan ketua KPK).

Kejadian pilu yang membuat gagal Bung Tagore mencalegkan diri Ke DPRRI dari Golkar, sontak membuat sedih banyak fihak, membuat Galau para pejuang ALA, walau pada saat itu sebagian “pejuang” ALA telah memposisikan diri akan memperjuangkan Ir. Syukur Kobat dari Partai Gerindra.

Kegalau-an itu juga menyelimuti Saya, selaku Alumni GmnI dan Komunitas Umah Supu Kebayakan yang tergabung dalam GeGaRa (Generasi Gayo Raya).

Dalam satu kesempatan di Umah ilang (kediaman Bung Tagore)…bung Tagore sempat berkata..”Kita sudah gagal untuk jalan ke DPRRI, lain lagi upaya kita,perjuangan ALA tetap”.

Dalam Kondisi yang sedemikianlah,kami sempat berucap..”Jangan menyerah dulu pak, kita coba dulu akses -akses jaringan kita di jakarta”.

Tanpa menunggu intruksi dari beliau, dalam kondisi yang agak galau, April 2013; hampir tiap malam kami Komunitas GeGaRa, yang bermarkas di Umah supu kebayakan, kediaman abang kami Purnama K ruslan. Kami terus  mendiskusikan Cara bagaimana upaya Agar bung Tagore tetap menjadi Caleg DPRRI. Cuma kita bingung  dari partai mana?. Karena saat itu DCS semua parpol sudah diusulkan ke  KPU Republik Indonesia.

Terfikir oleh saya dan saya lakukan adalah berkomunikasi aktif dengan Prof. Siswono Yudohusodo; mencoba tetap dari jalur Golkar. Dan hasilnya sudah sulit adanya. Kemudian dalam kondisi waktu yang terus berkejaran, kami buka komunikasi dengan Ahmad Baskara (Wasekjen DPP PDIP yang juga Sekjen PP PA GmnI). Selain itu juga kami komunikasikan pada Arya Bima, dan Eva Kusuma Sundari (saat itu mereka bertiga juga adalah anggota DPRRI).

Saat itu peluang sangat kecil, bahkan saya sempat agak memaksa,saat saya bertelpon dengan Eva Kusuma Sundari sempat saya katakan..”Bila mbak Perduli dengan Wilayah Tengah Tenggara Aceh dan NKRI,  maka tolong upayakan Bung Tagore menjadi Caleg dari PDIP”. Sempat saya dimarahi oleh nya. Akan tetapi sungguh saya hormati karena mereka tetap berupaya. Komunikasi juga kami upayakan dengan mas Ugik Kurniadi, Ketua Bidang OKK PP PA GmnI; yang saat bersamaan terus kami berkomunikasi dengan Bung Baskara (ahmad Baskara).

Sampailah suatu ketika, Mas Ugik Kurniadi yang telah bersepakat dengan Bung Ahmad Baskara menyampaikan pada saya..”Bung Yunadi, tolong malam ini kau kirimkan segera,data bung tagore,untuk kita usahakan nyaleg ke DPRRI dari PDIP,semoga masih bisa”.

Tanpa menunggu lama, saya langsung telepon bung tagore,yang saat itu di PUSKUD Berada. Dan bung Tagore sampaikan jawaban,pesan ke saya “sampaikan ke mereka kita sangat senang bila masih ada peluang”. Dengan jawaban itu,malam itu juga saya kirimkan data Riwayat Hidup Bung Tagore pada Mas Ugik dan Baskara. Malam itu Ilham Arsandi, Bang Zulkifli Gerindra,Bang Samsul dan Bang Badi Silat turut mengetahui sepintas kejadian itu adanya. Karena malam itu kami sedang makan malam di Cafe Idola.

Keesokan Harinya; Kamis  25 April 2013 saya menuju PUSKUD Bener Meriah menemui bung Tagore, dan menceritakan lengkap apa yang sudah saya komunikasikan dengan PP PA GMNI dan DPP PDIP terkait langkah dan peluang Bung Tagore mencalonkan diri dari PDIP. Saat itu bung Tagore meminta saya untuk memastikan ulang pada bung Baskara (wasekjen DPP PDIP) apakah masih ada peluang. Lalu saya telepon Bung Bass, dan beliau katakan..” Mudah -mudah an masih ada peluang, kita berupaya dan Ass soon as possible bung yunadi bawa bang Tagore ke Jakarta”. Kemudian dengan harapan penuh, keesokan harinya, Jumat 26 April 2013; saya berangkat menuju medan yang selanjutnya menuju Jakarta, dalam satu mobil saya bersama; Bung Tagore, Cik Gempa, bang Agus,dan Bang Yan serta Aramiko aritonang. Sabtu  pagi 27 April 2014, kami sampai di medan, dan melanjutkan perjalanan menuju Jakarta yaitu; kami Yunadi HR,Bung Tagore AB, dan Aramiko.

Menjelang jam 4 sore kami tiba di Soekarno-Hatta; langsung saya kabarkan pada bung baskara bahwa kaki kami telah menginjakkan jakarta. Saat itu bung baskara sedang ada agenda di Bogor. Menjelang jam 6 sore kami tiba di hotel sriwijaya;dan tidak lama pula bung baskara pun menghampiri kami di Hotel yang sama. Disitulah pertama kalinya, saya perkenalkan Pak Tagore Pada Bung Baskara, wasekjen DPP PDIP.

Saya cukup dekat dengan bung baskara bukan kali itu saja, karena saya ketua PD PA GmnI Aceh,yang sejak 2010 dipercayakan pada saya,  dan dia Sekjen PP PA GmnI di level Nasional adanya.

Dengan terus memberikan harapan, bung baskara terus berupaya. Di depan mata kami saat itu (saya, bung Tagore dan Aramiko), Bung Baskara menelpon Ketua DPC PDIP Bener Meriah; dan mendapat persetujuan darinya terkait pak Tagore nyaleg ke DPRRI dari PDIP. Sementara beberapa menit berselang, bung Baskara juga menelpon Ketua DPC PDIP Aceh Tengah; cukup lama, lima menit kira-kira;kami menduga saat itu tak ada dukungan persetujuan darinya (DPC PDIP Aceh Tengah), karena saat itu samar-samar kami ketahui ketua DPC PDIP Aceh Tengah, meminta rapat dulu dengan para pengurusnya.

Menyikafi itu,bung basakara, masih di depan kami kejadiannya; menelpon Bung Idham Samawi, tampaknya meminta arahan dan masukan adanya. Telepon pun ditutup, dan bung baskara berucap..” Tampaknya usaha kita ada peluang”. Sontak jawaban itu membuat saya haru sekaligus bangga, dan secara refleks saya salami kembali dia, sambil ucapkan,”terimaksih Bung”. Hal itu diikuti Bung Tagore dan Aramiko lakukan hal yang sama.

Dua hari setelahnya, kami kembali ke Takengon. Hari berganti dan minggu pun berjalan. Sambil terus menunggu jawaban kepastian. 10 Mei 2013 Hari Jumat; di Harian Rakyat Aceh, muncul Head Line Berita “PDIP TOLAK TAGORE JADI BACALEG DPRRI”. Judul berita itu ternyata adalah ucapan dari Pak Karimun Usman, ketua DPD PDIP Provinsi Aceh. Sontak hal itu membuat khawatir. Akan tetapi disisi lain,saya pun terus kontak ke Jakarta, meminta kepastian pak Tagore.

kemudian 4 Mei 2013 kembali saya diminta Ke jakarta. Saat keberangkatan ke II ini, bung Tagore sudah di jakarta. Saya diminta nyusul,saat itu saya berangkat dengan Aramiko Arotonang. Minggu 5 Mei sekitar jam 2 kami tiba di jakarta; saat itu Bung Tagore langsung menelpon saya, meminta kami menuju Kantor Pemerintah kab. Gayo Lues di Jakarta, Jl. Kebagusan Raya (di dekat KB Ragunan). Disana telah menunggu Pak Haji Tilin, Bang Mahreje, Bang Sadri, juga Bang Ahmad Azhar.

Ternyata siang itu; saat saya dan aramiko masih dalam  perjalanan dari Soekarno Hatta menuju Hotel Sriwijaya; Bung Tagore, bang Mahreje, pak Haji Tilin,dan bang sadri,serta Pak Ahmad Azhar sudah menemui pak Wiranto, untuk mendiskusikan Pak Tagore AB maju dari Partai Hanura, dengan catatan saat itu Pak Ahmad Azhar yg DCS No. 4 Hanura, mundur dan digantilkan Bung Tagore.

Jam 4 sore, saya dan aramiko tiba di Kediaman kebagusan Raya, Bung Tagore Tampaknya tidak terlalu sreg bila maju dari Hanura; beliau bertanya pada saya..” Menurut mu kusi kite di, tetap ku PDIP apa Hanura”, kujeweb dengan kalimat tetap PDIP. Pertanyaan yang sama disampaikan pada Aramiko; dan jawaban miko pun sama. Tanpa banyak pertimbangan; saya dan miko langsung menuju Lenteng Agung (kantor DPP PDIP); saat itu bung baskara sedang rapat bersama Tjahyo Kumolo. Ahirnya Bung Tagore pun menyusul kami ke LA, setelah saya pastikan ada konfirmasi Bung Bas dan Pak Tjahyo ada waktu bertemu dengan Bung Tagore.

Singkat cerita sore itu sambil menunggu Bung Baskara dan Pak Tjahyo yang sedang rapat; data-data bung Tagore pun dilengkapi. Seusai pertemuan itu, KTA PDIP bung Tagore pun dikirimkan VIA MMS oleh Sonny ke HP saya. Tanpa siapapun yang mengetahuinya,selain saya dan Sonny berdua.

5 mei 2013; malamnya kami langsung pulang ke medan. Peluang Bung Tagore maju dari PDIP sudah 60% berbanding 40%.  Sementara peluang bung Tagore maju dari Hanura pupus sudah, dan diisi ahirnya oleh Bang Mahreje yang maju dari Hanura.

6 Mei 2014; dalam perjalanan saya dan miko dari medan menuju Takengon; Bung Baskara Menelpon saya; tampaknya ada kondisi Genting adanya, karena Pak Karimun mengancam akan Mundur dari ketua DPD PDIP Provinsi Aceh,bila Pak Tagore diberi peluang Maju dari PDIP.

Pilihan dan situasi menjadi sulit; sehingga saat itu Bung baskara sampaikan pada saya…”Bung Yunadi, coba tanyakan ke Bang Tagore; bila semisal Karimun Usman Mundur Dari DPD PDIP Aceh, apakah Bung Tagore Bersedia Gantikan dia ?.” Lalu tanpa menunggu lama, saya bertelpon dgn bung Tagore menanyakan pertanyaan bung baskara padanya..bung tagore pun pada intinya “bersedia”.hal itu saya sampaikan pada bung baskara via sms dan dijawab NOTE. Maknanya adalah Terkonfirmasi kiranya.

7 mei 2013 sampai dengan 22 Mei 2013; ini sungguh waktu yang terasa lama, karena 2 minggu itu saya  terus mempertanyakan kepastian jadi tidaknya bung Tagore diberi peluang maju dari PDIP. Bung Tagore pun terus meminta saya pertanyakan hal itu pada bung Baskara.

Sampailah tiba pada waktu yang dinanti, Rabu sore jam 5; Bung baskara telepon saya, kebetulan saat itu disamping saya sedang ada Bang Zulfandiara. Saat itu bung Baskara berkata…” Bung Yunadi, perintahkan besok Bung Tagore untuk Deklarasi resmi maju dari PDIP dengan Nomor Urut 6,itu fixed”.

Keputusan itu, tanpa ada bayar apapun pada PDIP; hanya komitmen Idieologis, NKRI,GmnI dan ALA.

Dengan semangat dan rasa haru, berita gembira itu saya sampaikan pada bung Tagore; dan tepat pada Hari kamis 23 Mei 2013; di Umah Reje Ilang; Deklarasi Resmi Bung Tagore Maju dari PDIP dilaksanakan. Dan saat deklarasi itu bung Tagore menyatakan..”Bersumpah akan terus perjuangkan ALA di senayan jika Terpilih, untuk itu mohon dukungan semua fihak,bahkan lintas partai politik”.

Sejarah ini saya kemukakan, adalah untuk bersama – sama kita renungkan, untuk sama -sama kita ingatkan, bahwa tokoh kebanggaan kita telah disenayan. Saatnya perjuangan ALA terus dikumandangkan.

Disilain, tentu untuk mengingatkan, akan pentingnya akses dan jaringan,juga tentu kepercayaan. Bung karno pernah berpesan;

JASMERAH

JAngan Skali kali MElupakan sejaRAH.

…………………………………………………….

Merdeka….!!!

*Penulis; Ketua PD PA GmnI Aceh

Comments

comments