by

Wali Mahasiswa

Ole: Awaludin Arifin

 Awaludin Arifin

Tulisan sederhana ini berawal dari diskusi sederhana atau tepatnya perbincangan ringan saya dengan salah satu wali mahasiswa peserta wisuda Universitas Gajah Putih (UGP). Secara kebetulan saya salah satu dari panitia wisuda tersebut. Namanya Pak Usma. Di usianya yang sudah melebih berkepala lima itu banyak berbicara tentang perkuliahan anaknya di Fakultas Pertanian. Karena saya tidak bertugas di Fakultas tersebut, tentu sulit bagi saya untuk mengenal anaknya dengan baik. Ia memiliki 6 (enam) orang anak dua putri dan empat putra. Anak pertamanya hanya lulus SMA dan sekarang telah berkeluarga dari anak pertamanya itu ia memiliki seorang cucu. Sedangkan putranya yang hendak diwisuda adalah anak keduanya.

 

Bapak itu tidak memiliki pekerjaan tetap, untuk mencukupi kebutuhan keluarganya serta biaya kuliah anaknya yang hendak diwisuda bersumber dari hasil kebun kopi dan hasil pertanian lainnya. Tidak begitu jelas berapa penghasilannya sehari-hari, hanya saja ia sangat yakin bahwa Allah itu Maha Pemberi rezeki. Bahkan katanya uang yang didapatkannya dengan pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari serta biaya sekolah anak-anak sangatlah tidaklah wajar.

 

Ia bercerita banyak tentang perkuliahan anaknya yang awalnya merasa tidak percaya diri kuliah di UGP, karena teman-teman SMA terutama teman-teman dekatnya kebanyakan melanjutkan kuliah di luar daerah. Bahkan si anak lebih memilih untuk berkebun membantu orang tuanya, ketimbang harus kuliah di UGP. Si Bapak tidak memiliki banyak pilihan, kecuali terus menerus membujuk dan berkomunikasi  dengan menjanjikan membelikannya sepeda motor agar si anak mau kuliah.

Baginya kuliah di luar daerah memang sebuah kebanggaan tersendiri,terlebih di perguruan Tinggi Negeri bernama. Tapi, itu bukanlah urusan mudah bagi Bapak yang sehari-harinya berkopiah itu, ia khawatir jika si anak kuliah di luar daerah segala kebutuhannya tidak tercukupi nantinya.

 

Perkuliahan anaknya berjalan lancar hingga beberapa semester semuanya berjalan seperti direncanakan. Saya sangat yakin si Bapak tidak mengerti berapa Indek Prestasi Komulatif (IPK) yang dicapai oleh si anak setiap semesternya, disamaping ketidak mengertiannya tentang proses perkuliahan, sebab ia hanya tamatan Sekolah Dasar (SD) juga putranya itu selama ini menurutnya mampu menjaga kepercayaan si Bapak.

 

Hubungan harmoni yang didasari pada kepercayaan antara kedua belah pihak (bapak dan anak) memberi hasil manis. Hari itu si anak diwisuda dengan waktu perkuliahan yang tepat. Dia tidak menjanjikan apapun kepada orang tuanya. si Bapak tidak dapat menahan air mata ketika ia mengungkapkan kegembiraan disertai rasa haru kepada anaknya. Baginya pendidikan anakanya menjadi prioritas utamanya dalam hidup.

 

Ditengah suasana haru yang menyelimuti suasan hati si Bapak ketika mengikuti prosesi wisuda, saya bertanya mengapa si Bapak begitu memperhatikan pendidikan anaknya. Dengan keluguannya dia mengatakan “saya ini cuma ke kebun, saya tidak mau anak saya nanti seperti saya. Setidaknya dia punya pekerjaan yang mapan, kalaupun tidak bisa bantu adek-adeknya cukup untuk dirinya”.

Nah, begitulah kesederhaan berfikir orang tua  yang menginginkan anaknya agar lebih ketimbang dirinya walau dan bagaimanapun cara yang dia tempuh. Ia rela mengorbankan segala kepentingan dan  kebutuhannya demi kepentingan pendidikan anaknya. Mendahulukan kepentingan anak ketimbangan keinginan pribadi, membuang jauh-jauh sikap egois yang dimiliki dan mengedepankan keinginan anaknya. Ia tidak cemburu apalagi dengki atau bahkan iri hati jika suatu saat anaknya melebihi dirinya justru ia akan berbangga diri.

 

Dari kisah sederhana tersebut, sebagai salah seorang pengelola Perguruan Tinggi ini saya bertanya di dalam hati, sudahkah saya seperti si bapak itu? Yaitu mengedepankan kepentingan mahasiswa di atas kepentingan pribadi, kelompok atau bahkan mengesampingkan keinginan pimpinan? Sudahkah  saya membuang jauh keegoisan saya dan mendahulukan mahasiswa? Mampukah saya seperti Bapak itu dengan kesederhanaan yang dimiliki dan dengan segala keterbatasan ekonomi mampu menciptakan seorang putra dewasa jujur dan menjaga amanah orang tua hingga ia mampu menjawab keinginan orang tuanya?

 

Momentum wisuda ini juga menjadi intropeksi diri secara mendalam bagi pihak pengelola UGP untuk dapat menjawab pertanyaan keinginan orang tua itu. Perguruan Tinggi seyogyanya bukan hanya saja berfikir untuk meluluskan sarjana yang setelah itu tidak diketahui jejakanya. Perguruan Tinggi seharusnya mampu mengolah bahan baku menjadi bahan olahan yang dapat dipakai oleh segenap Bangsa dan Negara. Serta bertanggung jawab sepenuhnya terhadap kelangsungan masa depan alumninya.

 

Tentu hal itu tidak dilakukan dengan usaha yang ringan dan instan, diperlukan upaya-upaya yang konstruktif dan pengelolaan Perguruan Tinggi secara profesional. Sepatutnya cerita di atas  itu menjadi cemeti bagi kita bahwa keterbatasan yang dimiliki jika dimanfaatkan dengan sebenarnya, akan memberikan hasil yang bermanfaat bagi orang banyak.

 

Keinginan untuk mengelola Perguruan Tinggi ini tentu tidak hanya cukup berhenti di dalam hati saja, karena ia akan terlihat sangat amat lemah. Tidak pula hanya berhenti di dalam kata, itu karena penuh kepalsuan serta tidak nyata. keinginan untuk berkembang dan maju sepatutnya terurai dalam perbuatan dan aksi nyata (real action).

 

*Dosen dan Pengajar Mata Kuliah Komunikasi Politik Di Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Gajah Putih

Comments

comments

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News