Ketika Golkar “Terhempas” Di DPRK Aceh Tengah

By on Tuesday, 28 October 2014

Takengen | Lintas Gayo – Sejarah perpolitikan dan warna di DPRK Aceh Tengah mengalami perubahan. Golkar partai yang memenangkan Pileg 2014, ternyata mampu diutak-atik partai lainnya. Apapun jabatan di lembaga terhormat ini tidak ada diisi orang Golkar, mereka hanya menjadi anggota.

Ada apa? Bagaimana dengan pimpinan DPRK yang kini masih dalam ajang perebutan? Waspada yang mengikuti perkembangan di lembaga ini mendapat gambaran, gabungan partai lainnya mampu menghempaskan obsesi Golkar yang kini dipimpin Nasaruddin yang juga Bupati Aceh Tengah.

Koalisi yang selama ini dibangun Nas, sang bupati, ahirnya terpecah dan menjadi senjata makan tuan. Walau pimpinan DPRK sementara dipegang Muhksin Hasan (Golkar), belum tentu Golkar mampu meraih jabatan pimpinan dewan.

Jabatan komisi mulai dari komisi A sampai komisi D, jangankan jabatan wakil ketua, sekretaris saja, tidak ada personil Golkar. Demikian dengan badan legislasi dan badan kehormatan, semua orang Golkar “kandas” untuk mendapatkannya.

Tatatertib (Tatib) dewan kini sedang dilakukan verifikasi oleh Gubernur dan diperhitungkan awal November 2014 ini, sudah ada gambaran. Bagaimana pemilihan pimpinan DPRK di negeri Gayo Lut ini. Bagaimana peluang Golkar dipucuk pimpinan dewan ini? Tatib yang diverifikasi gubernur sangat menentukan.

Menurut Muhksin Hasan (Golkar) yang kini menjabat sebagai ketua sementara dan disebut-sebut sebagai putra mahkota Golkar untuk meraih jabatan ketua defenitif, pihaknya sudah mengirimkan draf Tatib dewan ke Gubernur Aceh dan menunggu hasil verifikasi.” Sabar saja, kita doakan, semuanya berjalan lancar,” sebutnya.

Golkar di sana walau meraih suara terbanyak, namun hanya mampu menduduk 4 kadernya. Sama dengan Demokrat, Nasdem dan PAN, juga masing-masing mendapatkan 4 kursi, dari 30 kursi DPRK. Nas, sang pimpinan Golkar mampu membangun koalisi, menarik fraksi Demokrat dan PAN untuk satu ide dengan fraksi Golkar.

Fraksi Demokrat 8 kursi (gabungan Demokrat, PA dan PKB), PAN juga 7 kursi (PAN- Gerindra) dan Fraksi Golkar 6 kursi (Golkar dan PPP). Dari 30 anggota DPRK 19 sudah “ikut Nas” belum lagi ada yang mampu ditarik dalam pusaran Golkar.

Namun dipertengahan jalan, ada sejarah baru, ahirnya PAN- Gerindra yang merasa dianak tirikan, meninggalkan koalisi dan bergabung dengan Nasdem dan partai lainnya (Hanura, PDIP dan PA). kekuatan itu berbalik, orang-orang Golkar dihabisi dalam mendapatkan jabatan, tidak ada satupun personil Golkar yang diberikan jabatan.

Kini pertarungan terahir dalam merebut jabatan pimpinan dewan (satu ketua dan 2 wakil). Dari 3 jabatan ini, 4 partai yang memiliki kursi yang sama (4 kursi) memiliki peluang dan tidak tertutup kemungkinan akan muncul kuda hitam. Apakah Golkar mampu mendapatkannya?

Semuanya itu akan terjawab saat pemilihan pimpinan, setelah Gubernur Aceh melakukan verifikasi Tatib DPRK Aceh Tengah. Bila mempergunakan azas musyawarah untuk mufakat, Golkar memiliki kans yang tipis, karena koalisi yang dibangun Nasaruddin sudah terpecah.

Jabatan komisi, badan kehormatan, legislasi, tidak ada yang mampu diraih Golkar, bagaimana dengan jabatan pimpinan DPRK (ketua dan wakil). Sejarah perpolitikan di negeri Gayo itu akan menjawabnya dan diperhitungkan November 2014 ini akan tuntas. (Bahtiar Gayo/ Waspada edisi, Selasa 28 Oktober 2104)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.