Kepentingan Politik

By on Tuesday, 5 August 2014

Oleh: Husaini Muzakir Algayoni*

 Husaini-Muzakir

Dalam politik kepentingan  maupun kekuasaan para elit politik  semakin sengit dalam memerankan roda pemerintahan, politik kepentingan dan kekuasaan itu mulai  dari bupati, gubernur hingga presiden hanyalah memikirkan dan  mementingkan kelompok mereka sendiri. Para rakyat hanyalah sebagai alat untuk mengantar para elit politik  tersebut untuk menggenggam kekuasaan, rakyat telah melakukan  dukungan serta para relawan maupun  tim suksesnya  telah melakukan  berbagai macam  fitnah, tipu daya dan  saling  menjelekkan antar lawan hingga kawan  dan  sahabatpun menjadi  lawan sehingga terjadi keretakan  dalam  persaudaraan. Dalam sebuah kolom tulisan  dikoran waspada didalam catatan  budaya, bahwa penulis itu mengatakan: “dalam  sistem demokrasi Indonesia yang sangat hipokrit saat ini, tak penting siapa telah berbuat apa, yang utama adalah siapa  bisa menjilat siapa.” Rakyat yang telah berbuat banyak tapi yang menikmati hidangan kekuasaan ialah  siapa yang pintar dalam menjilat jabatan  dan  kedudukan.

Katanya demokrasi, bahwa dalam  demokrasi itu rakyatlah yang berkuasa tapi dalam sejarah demokrasi Indonesia rakyat hanyalah sebagai penonton dan menunggu belas kasihan dari para elit politik untuk memerhatikan rakyat  kecil. Politik kekuasaan itu telah mematikan  inisiatif rakyat hingga melahirkan demokrasi terpimpin  di era Soekarno, otoritarianisme di era Soeharto dan Liberalisme di era SBY. Dalam ketiga masa itu sejarah telah membuktikan  bahwa rakyat hanyalah menjadi sekedar alat.

Politik yang tak bersih dan terkadang terjerumus dalam kepentingan  kelompok, penulis cenderung  melihat fenomena ini tak akan  memberikan ketenangan  dalam  berpolitik di Indonesia dan rakyatlah menjadi korban akibat ulah politisi yang terlalu pintar atau berpikiran ngawur tersebut. Penulis juga sedikit memberikan catatan terhadap nafsu politik ini:

Arah Nafsu Politik

Tak jelas lagi mana yang baik dan mana yang jahat

Mana yang berniat membangun dan  mana yang berniat ingin menghancurkan

Propaganda-propaganda terus dimunculkan

Sehingga menimbulkan  fitnah antar anak bangsa

>>>     Arah politik yang disandarkan pada hawa nafsu

Maka kebaikan dan keburukan akan bercampur-aduk

>>>

Tak jelas  lagi mana orang yang baik  dan mana orang yang jahat

Orang mana yang mempertahankan keutuhan bangsa dan orang mana yang mempertahankan jabatan

Tek jelas lagi  mana orang yang sholeh dan  mana orang yang  salah

Semua  telah terjerumus dalam lembah nafsu politik

>>>     Nafsu politik satu muka dua  hati

Dua hati yang berbeda

>>>

Pendidikan politik yang baik telah mengarah pada kejahatan  terorganisir

Entah  sampai kapan

Orang-orang tersebut merendahkan  nafsunya

Sehingga arah politik menuju  ke  arah yang lebih baik.

Politik kepentingan  dan kekuasaan tersebut hanyalah nafsu politik yang  berpusat diperut, salah satu kekuatan yang berpusat diperut ialah rakus. Nafsu-nafsu rakus itulah yang membuat para elit politik untuk menghalalkan segala cara untuk  meraih kepentingan  tersebut.

Jika dalam demokrasi yang ada hanya kepentingan segelintir kelompok didalam politik maka kemerosotan demokrasi itu akan terjadi di Indonesia ini dan  kemerosotan demokrasi  itu disebabkan  hanyalah elit-elit politik yang tidak memiliki integritas moral dan etika yang baik (degradasi moral) karena lebih dilandaskan oleh  sebuah  misi kekuasaan.

 *Penulis: Remaja Masjid.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.