Kesadaran Politik

By on Monday, 14 April 2014

Oleh: Rizal Fahmi, MA*

Rizal Fahmi

Rizal Fahmi

Dalam keseharian kita tidak pernah lepas dengan urusan politik. Segala urusan yang berkaitan dengan kehidupan kita sangat dipengaruhi oleh keputusan politik yang sehingga melahirkan regulasi. Anggapan umum politik dianggap sebagai cara untuk mengatur warga untuk mencapai kehidupan yang sejahtera dan damai.  Ada sebahagian orang juga menganggap bahwa politik kejam seperti pisau belati yang tajam. Jika merunut pada pengertian sesungguhnya politik berasal dari bahasa Yunani politikos yang berarti dari, untuk, atau yang berkaitan dengan warga negara. Pada pemahaman ini, jelas bahwa politik adalah bahagian yang mengurus infrastruktur sosial yang berhubungan hajat orang banyak, konon sering disebut dari rakyat untuk rakyat. Akan tetapi kenyataannya dari rakyat untuk elit, karena rakyat hanya dilibatkan dalam memilih 5 tahun sekali, akan tetapi rakyat tidak dilibatakan lagi dalam proses pembangunan dan penguatan kesejahteraan pada rakyat.

Pergeseran nilai politik yang dulunya politik diasumsikan mengurus persoalan hajat orang banyak, kini politik dijdikan sebagai alat untuk menghidupi kelompok, golongan, dan keluarga. Kecendrungan prilaku ini lahir akibat sifat calon pemimpin yang diusung terlalu bersyahwat untuk berkuasa walaupun tanpa faham apa itu makna hakikat dari politik tersebut, yang terpenting baginya adalah bagaimana ia bisa duduk pada tahta kekuasaan dan membentuk alianasi kekuasaan bersama pembisik-pembisik yang sebelumnya mereka adalah timteng untuk berkuasa. Akibat banyaknya pembisik di tahta kekuasaan tersebut yang tampa memberikan solusi simultan terhadap berbagai masalah di masayarakat ini, akan membawa kekuasaan yang keropos dan rapuh, hal tersebut terjadi disebabkan tanpa melihat kapasitas dan integritas, pembisik ini hanya untuk melayani syahwat majikan yang hanya sifatnya sementara dari kekuasaan tersebut. Prilaku politik ini akhirnya melahirkan pemimpin yang berkuasa tidak perlu pintar, berilmu dan integritas akan tetapi pemimpin harus punya sifat olah.

Prilaku politik yang membodohi rakyat terkesan ajaran suci ini menjadi visi misi yang laku seketika, masyarakat diajarkan untuk faham politik ketika pada pemilu pemilihan calon legeslatif dan eksekutif. Sebelumnya masyarakat buta atau tidak mau membukakan matanya ketika itulah masyarakat untuk dipaksa untuk membukakan mata dan untuk tidak buta untuk menerima janji politik yang seolah-olah akan bisa merubah nasib mereka tanpa konsep, dan gagasan yang jelas. Jika money politik sebagai bensin untuk pembakar mesin politik bagi partai maupun caleg tertentu jangan berharap akan melahirkan pemimpin yang baik, akan tetapi pemimpin yang membangun dinasti politik.

Setiap pemilu bukan menghasilkan masyarakat partisipatif melainkan melahirkan masyarakat pesimis akibat kekecewaan masyarakat terhadap pemimpin banyak obral janji yang tidak ditepati. Menyikapi fenomena sosial yang terjadi disekitar kita, sudah seharusnya masyarakat diberi kesadaran dan pendidikan politik yang sehingga mereka tidak menjadi tumbal politik oleh mafia politik pada setiap pesta demokrasi yang diselenggarakan 5 tahun sekali. Dalam kondisi carut marutnya politik ini, partai harus memiliki kewajiban untuk menyeleksi calon-calon pemimpin yang mereka usung setidaknya mereka memiliki kapasitas dan integritas tinggi. Karena apabila tidak dilakukan hal tersebut, maka siapa saja bisa menduduki kursi terhormat tersebut.      

 

*Penulis adalah pemerhati sosial dan politik, berdomisili di Banda Aceh

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.