Banyak Trik, Politik Di Gayo Panas Dingin

By on Friday, 14 February 2014

SEBELUM menjadi anggota dewan 10 tahun yang lalu, Muna, panggilan akrabnya, memiliki profesi sebagai pengacara.   Namun setelah merasakan “nyaman” duduk di kursi terhormat, trik- trik  politiknya membuat gerah. Bupati yang dulu mesra denganya berubah menjadi lawan.

DPRK terbelah dua, ribut soal pelantikan KIP. Bahkan gubernur sempat mengirimkan surat teguran keras sampai tiga kali kepada bupati, agar segera melantik KIP Aceh Tengah.  Semua akar persoalan itu dimulai dari Muna.

Bila selama ini di lembaga DPRK didominasi orangnya Nas (bupati). Namun setelah Wajadal Muna, SH. M. Hum membuat trik politik, suasana didewan berubah. Kekuatan itu terpecah. Ketua komisi A DPRK Aceh Tengah ini, mmbuat warna politik  daerah dingin itu menjadi panas dingin.

Waspada punya catatan khusus buatnya. 5 tahun yang lalu  Muna dinyatakan DPO oleh pihak Kejaksaan, dalam kasus money politik Pemilu. Namun Muna tidak kena jeratan hukum. Kasusnya NO, jaksa tidak mampu menghadirkan Muna dipersidangan. Muna tetap dilantik menjadi anggota dewan untuk kedua kali.

 Setelah duduk di DPRK, Muna dikenal dekat dengan Bupati Nasaruddin. Bahkan saat Pilkada lalu, Muna terang-terangan membela Nas, walau partainya sendiri (PAN) menjagokan Muslim Ibrahim.

           

Wajadal Muna, nomor 4 berdiri dari kiri, saat bersama pejuang ALA, di Kantor PDIP Lenteng Agung Jakarta. (Waspada/ Bahtiar Gayo)

Wajadal Muna, nomor 4 berdiri dari kiri, saat bersama pejuang ALA, di Kantor PDIP Lenteng Agung Jakarta. (Waspada/ Bahtiar Gayo)

Sampai ke sidang MK Muna membela Nas. Namun pada Juli lalu hubungan itu retak. Muna justru “memangkas” orang yang dijagokan Nas untuk duduk di Komite Independen Pemilihan (KIP).

 Mereka yang selama ini merupakan orang netral di komisi A, mampu dirangkul Muna. Tokoh PAN ini meluluskan  istrinya menjadi KIP, demikian dengan Syamsuddin anggota dewan lainnya, memasukkan adiknya. Kandas sudah “jago” yang dieluskan pihak lain untuk duduk di KIP.

Inilah awal perpecahan di DPRK, dimana personil lembaga terhormat itu selama ini lebih dominan kalangan Nas sang bupati. Ketua DPRK Zulkarnain,  bersama dua pimpinan dewan lainnya (M.Mazar dan Taqwa)  menanda tangani  surat “lembaga” mengusulkan 5 personil KIP untuk dikirim ke KPU tanpa melalui sidang paripurna. Terbitlah SK KPU yang menetapkan 5 personil KIP.

 Suasana berubah. Politik di sana menghangat. Gugatan soal KIP diajukan ke PTUN . 15 anggota DPRK, dan 7 Parpol  menggugat DPRK via PTUN Banda Aceh. Nasaruddin (bupati) sebagai ketua Golkar ikut menggugat. Gugatan ini kandas. Kembali dilanjutkan gugatan PTUN Jakarta, giliran KIP yang menjadi tergugat. Kini kasusnya sedang dalam proses persidangan.

 Sementara keadaan lapangan, gesekan politik itu makin kuat. Dukungan kepada bupati agar jangan dulu melantik sebelum adanya proses hukum, dilain sisi dukungan agar secepatnya dilaksanakan pelantikan KIP juga tak kalah kuat.

Catatan Waspada yang mengikuti perkembangan, Wajadal Muna sebagai “pemicu” sejak seleksi KIP sampai dukungan pelantikan, tetap memainkan perannya. Dia buka hanya aktif melobi gubernur bersama Parpol, agar gubernur mengambil alih pelantikan KIP, namun di DPRK Muna juga memainkan peranannya.

6 anggota dewan yang diusulkan PAW, hanya dua yang dilanjutkan. Dua orang ini adalah kelompok dewan yang mengajukan gugatan ke PTUN, yang nota bene adalah orang yang masih mesra dengan bupati.

Dalam usulan PAW ini, Muna sebagai ketua komisi A mendapatkan dukungan 4 personil lainnya, sehingga dari 9 anggota komisi A, setengah lebih menyetujui PAW. Selain itu Muna Cs juga mampu memanfaatkan  moment yang sedang berkembang.

  Korban musibah gempa yang mengeluh dengan sikap pemerintah lamban menangani persoalan bantuan rehabrekon, mengadu ke DPRK. Pengaduan itu disambut dewan sebagai tempat menyalurkan asfirasi.

Bahkan ketika massa tidak puas dengan penjelasan Sekda, dewan memaksa bupati untuk hadir, bertemu langsung dengan massa. Demikian ketika Parpol pendukung pelantikan, ingin bertemu bupati meminta penjelasan, Muna memaksa Sekda agar jangan Sekda yang memberikan penjelasan.

Wajadal Muna telah mencatat sejarah perpolitikan di negeri Gayo dan berusaha membangun keseimbangan. Namun banyak juga yang menilainya licik dalam memainkan trik politiknya. Namun apapun tudingan buatnya, yang pasti Muna sudah mengukir dan sudah membuat negeri Gayo memiliki warna dalam perpolitikan. Pro dan kontra hingga kini terus berlanjut. Bahtiar Gayo (Harian Waspada Edisi Jumat 14 Pebruari 2014)

 

         

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.