Mengantisipasi Caleg Menuju Rumah Sakit Jiwa

By on Tuesday, 28 January 2014

Oleh: Husaini Muzakir Algayoni*

Menarik membaca berita yang dirilis Serambi Jum’at 24/1, berita yang berjudul “Kala Anak Negeri Dilanda Neo Nasionalisme Baru.” Lagi-lagi yang disorot adalah Caleg, kali ini bukan masalah bagi-bagi uang atau masalah pelanggaran kampanye tapi masalah Rumah Sakit Jiwa (RSJ) yang siap  menampung Caleg yang tiba-tiba konslet pasca pesta demokrasi april mendatang sebagaimana yang dikatakan Kabag Humas RSJ Aceh, Azizurrahman “Tahun ini tetap kita matangkan persiapan untuk memberi pelayanan kepada caleg yang kemungkinan mengalami gangguan jiwa pasca pemilu karena tak terpilih.”

            Hati terkekeh ketika membaca  berita ini, kenapa bisa caleg bisa masuk rumah sakit jiwa. Padahal mereka adalah orang-orang berpendidikan dan calon orang-orang pilihan yang akan menuju kursi anggota dewan. Ya namanya juga jabatan, jabatan terhormat jika tidak tercapai maka bisa saja stress dan pada akhirnya menuju Rumah Sakit Jiwa (RSJ).

Ini karena tidak tercapainya apa yang diharapkan sang caleg, niat dari awal hanyalah ingin mejadi pejabat  terhormat tapi nyatanya gagal karena kalah dalam berkompetisi dengan lawan.

            Sekarang zaman penuh dengan  godaan, salah satunya adalah jabatan. Jabatan terhormat begitu menggiurkan karena pendapatan dari jabatan itu sungguh menjanjikan sehingga tidak segan-segan bagi caleg menggelontorkan dananya untuk memikat hati rakyat. Tapi apa daya jika tidak tercapai maka stress pun menghantui pikiran. Oleh karean itu, bagi caleg yang tidak ingin masuk rumah sakit jiwa disini penulis memberikan sedikit menu untuk mengantisipasi tejadinya “Stres” pasca pesta demokrasi:

 

Niat Yang tulus

            Jika para caleg niatnya tulus untuk memperbaiki kehidupan masyarakat dan niat membawa masyarakat ke arah yang lebih baik dan menjalankan roda perpolitikan selama pesta demokrasi dengan cara bersih tanpa ada noda hitam sedikitpun walaupun uang dengan nilai yang fantastis telah digelontorkan untuk keperluan kampanye tapi pada akhirnya dia kalah dalam pertarungan  maka dia menerima dengan  ikhlas dan lapang dada bahwa dia telah menjalankan sesuai dengan aturan, kalah menang itu hal yang biasa dalam pertarungan.

 

Kuatkan Agama Dalam Sendi Kehidupan

            Jika para caleg paham betul makna dari sebuah agama, maka dia menghidupkan nilai-nilai agama dalam sendi kehidupannya kapanpun dan dimanapun. Terutama dalam pesta demokrasi ini berlomba-lomba mengejar jabatan jika seorang caleg menghidupkan agama dalam sendi kehidupannya maka dia paham betul bahwa jabatan adalah titipan dari Allah dan Allah memberikan suatu jabatan kepada siapa yang Dia kehendaki-Nya dan mencabut suatu jabatan dari siapa yang Dia Kehendaki-Nya. Dia paham bahwa jabatan itu bukanlah niat awal untuk menjadi caleg tapi hanya untuk membawa perubahan ke arah yang lebih baik bukan membawa kerusakan.

            Dengan agama maka kita tidak akan pernah rusak, dekat dengan sang Khalik di saat senang maupun sedih, dikasih jabatan atau tidak itu hanyalah Hak Allah semata.

           

Hindari Hidup Hedonis

Kebiasaan hidup dalam kemewahan dan kenikmatan duniawi, dengan menikmati gaji caleg yang begitu menggiurkan tapi tiba-tiba tidak terpilih lagi bisa fatal akibatnya bagi kejiwaan. Oleh karena itu hindari yang namanya kehidupan hedonis, kemudian apa itu hedonis ?. Menurut Pius A. Partanto dan M. Dahlan Al Barry dalam bukunya kamus ilmiah populer, “Hedonis adalah sikap mewujud bahwa kebaikan yang pokok dalam kehidupan adalah kenikmatan.” Paham yang demikian itu disebut hedonisme.

“Gaya hidup instan di zaman pragmatis menjerumuskan manusia pada jalan  pintas. Manusia gampang stres ditelikung depresi karena lingkaran setan hasrat atau ban berjalan hedonis (hedonic treadmill)” –Martin Seligman-      

Kita berharap bahwa tidak ada caleg yang masuk rumah sakit jiwa gara-gara memikirkan jabatan yang tidak tercapai, karena caleg merupakan  orang-orang pilihan serta seorang pemimpin, jika seorang pemimpin yang baik maka dia tidak mengejar kenikmatan duniawi dan diperbudak oleh nafsu. Jika seorang pemimpin yang baik Insya Allah akan jauh dari rumah sakit jiwa.

*Penulis: Kompasianer dan Kolumnis LintasGayo.com    Ramaja Masjid Kota Banda Aceh, Gerakan #AcehTanpaJIL

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.