by

Ketut Wiradnyana, Pencium Jejak Moyang Orang Gayo

Sesosok pria bertubuh agak berisi, berkulit sedikit gelap, mengenakan balutan kemeja bermotif kotak-kotak, sambil  menggendong tas ransel berwarna kuning yang mulai kusam terlihat sibuk menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan beberapa orang yang ingin melihat langsung lokasi penelitian di Loyang Mendale, Kecamatan Kebayakan, Kabupaten Aceh Tengah, beberapa waktu lalu. Jika berbicara, sangat kentara bahwa dia bukan putra asli Gayo. Lidahnya yang sulit menyebutkan huruf T secara fasih, bisa ditebak asal-usul pria berlatar belakang sebagai arkeolog spesialis hoabinh ini.

Itulah Ketut Wiradnyana (45), Ketua tim peneliti dari Balai Arkeologi (Balar) Medan, Sumatera Utara. Hampir tiga pekan lebih Ketut terus meladeni setiap pertanyaan yang dilontarkan  pengunjung yang ingin mengetahui dan melihat langsung lokasi penelitian di Loyang Mendale dan Loyang Ujung Karang Kebayakan.

Di samping harus menjadi “jubir” ia juga memimpin anggota tim peneliti dalam menggali dan mengumpulkan setiap butir “sampah” masa lalu yang bernilai historis tinggi bagi suku Gayo. “Itu sudah bagian dari tugas kami untuk memberikan penjelasan kepada siapa pun yang datang,” kata pria ini.

Pria kelahiran Jembrana,  Bali,  ini  dianggap sebagai “pahlawan” bagi suku Gayo. Pasalnya, penelitian yang ia lakukan sejak tahun 2007 lalu, telah membuahkan hasil. Sebuah kuburan kerangka manusia prasejarah yang diperkirakan berusia 3.500 tahun ditemukan di Loyang Mendale dan Loyang Ujung Karang. “Pada awal penelitian, loyang ini sangat ideal letaknya mengingat berada pada areal yang dekat dengan bagian landai dari Danau Laut Tawar,” cerita Ketut.

Kerangka manusia prasejarah itu diperkirakan sebagai nenek moyangnya orang Gayo. Seiring dengan ditemukannya “harta karun” yang terpendam ribuan tahun di Loyang Mendale dan Loyang Ujung Karang, nama Ketut pun semakin dikenal di Takengon. “Saya hanya menjalankan tugas melakukan penelitian karena memang bidang saya di dunia arkeologi,” ungkapnya.

Dengan adanya penemuan itu, sebagian masyarakat  Gayo menganggap Ketut sebagai orang yang paling berjasa. Konon lagi, saking berharganya penemuan itu bagi orang Gayo, sejumlah kalangan masyarakat sempat mewacanakan akan memberikan gelar khusus untuk Ketut Wiradnyana.  “Saya sudah diberi gelar dari Gayo. Dan gelar yang cocok buat saya yaitu Aman Met (bapaknya kerangka manusia atau jenazah),” kelakar Ketut sembari tertawa menanggapi adanya wacana tentang pemberian gelar khusus yang ditawarkan sejumlah masyarakat untuk dirinya.

Ketut Wiradnyana mengenal Kota Dingin Takengon, pada saat mulai melakukan survei  tahun 2007. Sebelumnya ia tak pernah tahu kota di bagian tengah di Provinsi Aceh ini. Namun usai melakukan survei dan menemukan adanya potensi “kuburan” manusia prasejarah di Kota Takengon, sehingga pada tahun 2008, ia bersama timnya mengusulkan untuk melanjutkan eksavasi (penggalian). Usulan itu baru terealisasi tahun 2009. Dia langsung melakukan eksavasi di Loyang Mendale dan Loyang Ujung Karang, Kebayakan, Kecamatan Kebayakan, Kabupaten Aceh Tengah. Sejak tahun 2009 hingga 2011, tiga tahun berturut-turut Ketut bersama timnya terus melakukan penelitian di dua Loyang itu dengan hasil akhir ditemukannya kerangka manusia prasejarah. Ketut pun mendadak jadi orang `terkenal’ di Kota Dingin Takengon.

Sebelum berhasil  menguak cikal-bakal orang Gayo, Ketut telah mengelilingi sejumlah provinsi yang masuk dalam kawasan kerja Balai Medan Sumut, seperti di daerah  Kepulauan Nias,  Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau dan terakhir di Aceh Tengah, Provinsi Aceh. “Dulu kalau ke Aceh, kami melakukan penelitian di bukit kerang, Aceh Timur. Saat itu saya belum mengenal Gayo,” kata suami Nur Aida Tarigan ini. (Mahyadi)


Sumber : aceh.tribunnews.com

Comments

comments

News