by

Ramadhan Tanpa Ayah

Cerpen

Oleh: Vera Hastuti, M. Pd*

Vera Hastuti, M. Pd : Guru SMA 4 Takengon, Aceh Tengah

Tangisan emak belum juga terhenti sampai adzan magrib  berkumandang dari mesjid diseberang rumah kami. Kami memahami betul apa penyebab sehingga emak tak kuasa menghentikan bulir air matanya mengalir dihari yang seharusnya kami menyambutnya dengan penuh eufora kebahagian. Ya, hari ini adalah hari megang puasa. Seharusnya kami berbahagia karena masih bisa bertemu di bulan Ramadhan tahun ini, dan juga masih pula diberi kesempatan oleh-Nya untuk beribadah dan berlomba-lomba meraih pahala di bulan suci ini.

Aku dan adik-adikku tau pasti bahwa emak menangis bukan karena kami masih bisa merasakan nikmatnya daging megang di tengah-tengah himpitan ekonomi karena BBM yang baru saja naik. tapi, yang kami yakini emak menangis karena pada megang tahun ini, ayah tak ada lagi di tengah-tengah kami.

Ayah meninggalkan kami belum lagi sempat melihatku memakai baju toga saat wisuda sarjana pekan lalu, belum juga sempat melihat adikku yang kedua lulus SMA, dan adik bungsu ku menamatkan Sekolah Dasar. Masih teringat jelas diingatanku bagaimana bangganya ayah mengetahui aku telah lulus ujian sidang skripsi, dan hanya tinggal menunggu wisuda sebagai tanda gelar sarjana itu telah pantas tersemat di samping nama pemberian ayah untukku 22 tahun silam.

Melihat emak menagis, kami hanya bisa diam sembari menatap piring kosong yang belum berani kami isi dengan nasi dan daging megang pemberian bik Romlah, adik emak. Bagaimana bisa kami melahap makanan yang aromanya sangat menggoda indra perasa itu untuk dicicipi jika emak masih menangis.

Biasanya, ayahlah yang memimpin doa sebelum kami mulai menikmati hidangan yang telah disiapkan emak. Daging megang yang disiapkan emak pun akan terasa lebih nikmat karena ayah telah memilihkan daging megang yang terbaik. Karena, setiap megang puasa dan hari raya ayah selalu menerima tawaran temannya untuk membantu memotong lembu-lembu ataupun kerbau untuk megang dan memotong daging-daging hewan itu agar lebih mudah untuk menjualnya. Karena, pekerjaan ayah sebagai tukang becak keliling terkadang acap kali tak cukup untuk membeli 1 kg daging megang.

Sosok ayah, adalah sosok yang paling kami kagumi sekaligus kami segani di keluarga kecil kami. Kenangan sosok ayah yang paling tidak bisa terlupakan adalah saat selesai berbuka, ayah, emak, aku, dan adik-adik selalu shalat magrib berjamaah dan ayahlah sebagai imamnya.

***

Serune petanda imsak subuh baru saja berbunyi. Kemudian tak lama setelah itu adzan shubuh berkumandang. Aku bergegas melaksanakan shalat shubuh. Biasanya, aku dan ayah selalu shalat shubuh bersama di mesjid setelah selesai sahur bersama.

Pagi ini, adalah hari pertamaku memulai menarik becak peninggalan almarhum ayah. Sulitnya mencari lapangan kerja mengharuskanku melanjutkan pekerjaan ayah mengingat setelah kepergian ayah akulah yang menjadi tulang punggung keluarga. Penghasilan emak sebagai tukang buruh cuci pakaian pastilah tidak akan cukup untuk menopang kebutuhan emak, aku dan kedua adik-adikku.

Jam telah menunjukkan pukul 08.00 WIB, tapi tidak ada satu penumpangpun yang memilih jasa becak yang kutawarkan. “Ayah, begini beratkah ayah mencari nafkah?”  bathinku. dan tak terasa tesesan bulir air hangat jatuh satu per satu dipipiku. Aku merasa malu pada emak dan adik-adik jika hari ini tak bisa membawa apa-apa. Bayanganku untuk membawakan adik-adikku bukaan mie seperti yang ayah lakukan dulu pupus seketika.

Detik berganti, dan perlahan menit berlalu hingga berganti dengan hitungan jam. Seorang ibu diseberang jalan melambaikan tangan ke arahku. Dengan hati yang bahagia aku melajukan becak ku ke arahnya.

“Dek, ke kampung baru ya”. Kata ibu itu sembari langsung menaiki becakku.

“Baik bu” jawabku dengan pasti.

Kulajukan becak tua peninggalan ayah dengan perlahan menuju ke arah yang ditunjukkan ibu itu, rumahnya memasuki gang-gang kecil dan menuruni arah tempat pemotongan hewan dekat pasar bawah. Ku tepatkan arah stang becak agar roda ban becak pas memijak jalan sempit itu. Tampak di depanku jalan menurun yang agak terjal. Dengan hati-hati, kutekan rem dengan perlahan agar penumpang perdanaku tidak kecewa. Perlahan ku tekan rem becak dengan tepat, tapi laju becak semakin cepat dan tak terkendali di saat melewati jalan yang kian menurun. Ternyata rem becak ayah blong. aku tak bisa mengendalikan becak ayah. Aku berteriak dengan panik mengintruksikan agar orang -orang yang berada di depan becak ayah agar menjauh dari becak yang lajunya tak bisa kukendalikan.

“Brakkk…” bunyi yang kudengar terakhir kalinya saat kutatap nanar becak ayah telah mendarat tepat di tembok besar pembatas tepian sungai peusangan. Tubuhku oleng dan aku merasakan darah segar mengalir dari kepalaku. Aku tak dapat lagi mengingat apa-apa selain bayangan emak dan adik-adik yang telah menantiku dirumah dengan bukaan puasa yang kubawakan. (LG)

*Penulis adalah Guru SMA 4 Takengon

 

 

Comments

comments

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

1 comment

News