Ceh To’et dan “Urang Uten” yang Ceria

By on May 11, 2013

Catatan Kecil Jauhari Samalanga*

Foto postcard To'et. (Repro : Kha A Zaghlul)

Foto postcard To’et. (Repro : Kha A Zaghlul)

Berkali-kali saya membongkar ribuan koleksi kaset saya, dan berkali-kali pula saya tidak menemukan kaset “To’et” yang pernah saya simpan. kaset sederhana yang covernya difoto copy. bukan hasil rekam studio profesional, saya yakin cuma di rekam di tape biasa, namun lagu-lagu To’et cukup jelas, bahkan cukup lengkap pula.

Peristiwa “bongkar” kaset itu sudah saya lakukan sejak tahun 1999, tapi tidak juga ketemu, entah mengapa hingga kini saya masih mengingat kaset itu. Satu lagu To’et yang saya cari hanya sebuah catatan Syair “motor PMTOH mugurel i cot Panglime”, catatan lengkap soal peristiwa bus PMTOH yang jatuh di Cot Panglima, catatan yang sangat erat kaitannya dengan profesi saya sebagai jurnalis kala itu.

Ya sudahlah, walau kecewa itulah bagian kecil kenangan berarti bersama Almarhum Abdul Kadir alias To’et, seniman hebat yang wafat 25 Mei 2004 silam gara-gara sakit dan dimakamkan di Weh Nareh, Pegasing, Aceh Tengah.

Mengapa To’et begitu penting? dimata saya dia sosok luar biasa yang dimiliki Gayo. Pada beberapa pertemuan saya dengan beliau, yang terjadi selalu “ceria”. Cerita-ceritanya membikin tertawa, dalam suasana apapun. Satu hal yang mengembirakan saya, pada tahun 2003, bersama seniman Gayo LK Ara dan Hidayah, To’et sempat mampir ke kediaman saya di Meuruya, Jakarta Barat. Dan sempat bertemu pula dengan orang tua saya Ilyas Ibrahim, disitu To’et bercerita tentang “Parang” bikinan bapak merk B3. Dan tentu lagi-lagi keceriaan yang muncul.

Kepergian To’et menghadap sang khalik pun meninggalkan duka dalam, karena masa itu saya tidak dapat berbuat banyak apalagi untuk melayat almarhum karena kondisi konflik yang parah. Bahkan nyaris kepergiannya luput dari pantauan lantaran keterbatasan informasi kala itu–ya seperti seniman hebat Gayo lainnya–kala itu media yang ada di Takengon kurang interes dengan seniman, sehingga kepergian sang “penyair” betul-betul tanpa apresiasi media.

Namun yang saya ingat, melalui media online acehkita, satu-satunya media yang meninformasikan Aceh semasa konflik, sempat saya tulis kalau seniman seperti To’et saja tidak mendapat perhatian cukup, maka semakin kongkrit sejarah seni di Aceh yang memang cuma di catat semasa Belanda, setelah bergabung dengan Indonesia, sejarah itu mati karena tak ada lagi yang mencatatnya. Seorang To’et wafat dalam kondisi sakit. Memilukan, beliau tidak mendapat perawatan memadai dan layak, tanpa rumah sakit bagus dan obat mahal.

Walau begitu, Toet tetap menjadi ikon kuat dalam dunia ke penyairan Gayo. Pada tahun 16 Desember 1990, saya menulis tentang To’et di harian Serambi Indonesia tentang kebesaran To’et yang telah melampaui batas, karena dia terlahir dari orisinalitas tradisi, sama dengan penghikayat PMTOH asal Aceh Selatan Tgk Adnan PMTOH. Gaya kedua tokoh seni itu telah menebar pengaruh luar biasa dalam pola pembacaan puisi di Indonesia. “To’et telah menyebarkan sokongan baru pada kesenian Aceh, sekaligus untuk perjalanan budaya Indonesia. Menjelma dari ruang tradisi dan menggeliat dalam ruang lingkup moderen, sebuah geliat yang menarik”.

Pada tahun 1998 pertama kali saya datang mengunjungi kediaman To’et bersama seorang seniman musikalisasi Takengon, Zainal. Tujuannya, meminta almarhum ikut tampil mengisi acara khusus di Gedung Olah Seni (GOS) Takengon bertajuk FREEdom (Suara dalam Tanah). To’et, bersedia. To’et tampil bersama Group Rapa’i Simpang mamplam, Bireuen dan kelompok musikalisassi Kunci.

Menggunakan seperangkat rantang dan akordion 8 tut, To’et tampil memukau, bahkan sangat menghibur. Semula saya menduga penampilan To’et pasti berbeda dan tidak menarik di kalangan sendiri, dan ternyata tidak, To’et disambut hangat bahkan meninggalkan kesan khusus, karena di Takengon penampilan To’et dianggap penampilan langka lantaran penampilan solo. Biasanya To’et tampil berdidong bersama klub Didong Siner Pagi.

Pasca kepergiannya, beberapa bulan kemudian Aceh dilanda peristiwa dahsyat Tsunami. Di Jakarta, musisi Jazz Dwiki Dharmawan menggelar malam dana JAZZ untuk Aceh, dan saya diminta mendatangkan beberapa penyanyi asal Aceh. Waktu itu saya mengajak Pak Marzuki dari IKJ, penyanyi Aceh Rafly, dan seorang seniman dan penyanyi Gayo Kandar SA.

Kandar dalam audisinya mempresentasikan lagu “Urang Uten” karya To’et, hanya beberapa bait saja lantas Dwiki Dharmawan mempersilakan kandar menyanyikan lagu tersebut, dan akhirnya lagu itupun mengalun di taman Ismail Marzuki. Namun hebat, rupanya tidak disitu saja, Dwiki kemudian membawa Kandar berkolaborasi dengan Jazz pada beberapa acara lainnya, dan Lagu Urang Uten itulah yang dinyanyikan sampai DWIKI sendiri mengenal makna lagu itu. Terakhir pada tahun 2010 Kandar kemudian ikut bersama musisi Jazz mengisi even Jak Jazz, sebuah even Jazz pertama sebelum ada Java Jazz, dan Kandar kembali melantunkan lagu Urang Uten.

Dan catatan ini hanya bagian kecil saja, karena saya pasti akan menuliskannya dalam versi lebih lengkap setelah semua catatan saya menyangkut beliau telah saya kumpulkan kembali, dan alhamdulillah, kini saya semakin terhibur setelah seorang teman mengabarkan kalau cucu Ceh To’et sedang menyiapkan skripsi tentang To’et, sebuah langkah hebat yang patut kita dukung bersama, apalagi To’et kini bukan lagi milik urang Gayo, namun menjadi milik Indonesia. Kita harus mencatatnya, agar sejarah tentang To’et terpublish dengan indah……

*Pemerhati seni budaya Gayo, tinggal di Banda Aceh

Komentar Via Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>