Tangisan Bersejarah di Loyang Mendale

By on April 7, 2011

Takengen | Lintas Gayo :

Yusra-Menangis-KHA_2907
Minggu, 3 April 2011, menjadi hari bersejarah bagi sejumlah kalangan di Gayo, salah seorangnya sosok Yusra Habib Abdul Gani, salah seorang tokoh Aceh putra Gayo yang sudah kenyang dengan kegetiran hidup bertahun-tahun hidup di Luar Negeri terlihat menitikkan air mata di Loyang Mendale saat acara Inilah Gayo yang digelar Minggu, 3 April 2011 lalu.

Sore itu menjadi salah satu hari yang unforgettable bagi seorang Yusra dan merupakan salah satu dari empat tangisan bersejarah baginya.

Sesaat setelah namanya dipanggil kepentas disela-sela batu Loyang Mendale, Yusra Habib berdiri tercenung beberapa menit di depan microphone. Terlihat beberapa kali dia mencoba memulai kata, namun gagal. Lehernya seperti tercekik sesuatu yang membuat Yusra hanya diberi kemampuan berdiri dan bernapas saja. Mukanya kusut, kedua alis matanya menyatu. Sebentar mukanya tertunduk, sebentar kemudian menengadah.

Bulir-bulir air bening kemudian mengalir dari kedua matanya. Suasana beberapa saat hening, senyap, orang-orang yang hadir tak ada yang tersenyum atau cekikikan. Yang terdengar hanya kertuk ni perau nelayan disekitar tempat tersebut, sesekali terdengar suara Cencimpala.

Yang hadir, terhanyut suasana hati seakan ada sosok-sosok gaib yang menampakkan diri, berjalan-jalan, memukul-mukul batu, membawa kayu bakar, badan basah dengan sejumlah ikan dari Danau Lut Tawar, dialah nenek moyang “Urang Gayo”.

Yusra kemudian mulai berbicara, setelah suasana hatinya bisa dikendalikan. Untaian kata mengalir dari mulut pria berkulit putih kemerahan ini.

Hampir seminggu Inilah Gayo di Mendale sudah berlalu, namun tetap membekas direlung sanubari yang mengikutinya termasuk Yusra Habib Abdul Gani. “Peristiwa langka, dan saya tak tahan untuk tidak meniitikkan air mata,” kata Yusra mengawali pembicaraannya bersama Lintas Gayo melalui sambungan selular, Kamis (7/4).

Tahun 1976, saya menangis saat menonton film “The Ten Comandment” yang bercerita tentang kisah nabi Musa AS. Anak yang masih merah dihanyutkan ibunya di sungai Nil untuk menyelamatkan dari ancaman bunuh oleh Fir’aun. Lalu saat Musa mencari ibunya dengan bekal sepotong ukiran atau sulaman akhirnya mereka bertemu, kisah Yusra.

“Musa mengenali ibunya dan sebaliknya karena potongan benda budaya, seperti Kerawang Gayo kita. Itulah mahalnya harga sebuah kebudayaan,” kata Yusra.

Lalu tahun 2001, saat menyaksikan film kartun yang bercerita kehidupan binatang di zaman es. Seekor bayi monyet terpisah dari induknya. Bayi monyet ini kemudian diselamatkan oleh para binatang lain hingga akhirnya terjadi perebutan merawatnya antara harimau dan gajah. “Saya menangis menyaksikan kisah kehidupan binatang tersebut,” ujar Yusra, putra kelahiran Kenawat Lut 12 April 1954 ini.

Kemudian di tahun 2000, Yusra juga menitikkan air mata saat menyaksikan Danau yang mirip dengan Danau Lut Tawar di Jenewa.

“Wajah danau tersebut sangat mirip dengan Danau Lut Tawar. Sungainya juga seperti Peusangan. Bedanya cuma kebersihannya. Saya sangat kecewa melihat kondisi Danau Lut Tawar saat ini yang jorok,” ketusnya.

Yusra-Menangis-KHA_2894

Dikatakan Yusra, sebuah keberuntungan dan peristiwa luar biasa baginya, ditahun 2011 ini, saat dia pulang kampung ke Tanoh Gayo untuk kedua kalinya setelah MoU GAM – RI ditandatangani. “Mata saya ternyata harus kembali berlinang air mata di Loyang Mendale saat panitia meminta saya untuk berbicara tentang “Inilah Gayo” 3 Maret 2011 lalu. Momen acara tersebut sangat tepat dengan ditemukannya instrumen-intrumen budaya pendahulu Gayo. Peristiwa penting, saat generasi Gayo mulai dengan gencar mempertanyakan identitas Gayo. Dan semoga Loyang Mendale adalah gerbang sejumlah pertanyaan besar yang selama ini belum terjawab, siapa Urang Gayo,” ucap penulis Buku Self Government ini.

Apressiasi terhadap Seniman Gayo

Yusra menyatakan apresiasi luar bisa kepada penggagas dan panitia pelaksana serta seluruh yang hadir di Loyang Mendale.  “LK Ara tampil beda dengan LK Ara yang saya kenal selama ini. Di Mendale, dia bukan LK Ara yang saya kenal. Luar Biasa, LK Ara bak kerasukan membaca puisi dengan melumuri lumpur tanah bercampur kotoran kerbau,” kata Yusra bernada takjub.

Pengakuan Yusra, selain itu dirinya memberikan apresiasi kepada Salman Yoga dengan puisinya berjudul Berguru Pada Tanah. “Saya belum bisa mengatakan apa terhadap puisi ini selain kata sangat bagus. Saya sangat terkesan dengan bait-bait puisi saudara Salman,” puji Yusra.

Secara terpisah, Lintas Gayo menanyakan kepada LK Ara terkait aksi spontan yang dilakukannya bertepatan saat Fikar W Eda membacakan sejumlah bait puisi diiringi Gegedem, Suling, Teganing dan Tari Guel.

“Saya sangat gereget saat itu melihat suasana diseputar Loyang Mendale, ada tari guel diiringi music tradisionil Gayo. Saat itu saya duduk agak menjorok kedalam Loyang yang ada titisan air jatuh tetes demi tetes membasahi tanah di sisi kiri saya,” kenang seniman gaek yang nampak masih sangat sehat ini.

Spontan, tiba-tiba saya merasa disapa nenek moyang saya yang sesungguhnya sedang terbujur ribuan tahun di Guha Mendale tanpa diketahui hingga tahun 2011.

“Tangan saya tanpa perintah menjamah tanah basah bercampur tahi kerbau tersebut dan sekali usap langsung menutupi wajah ini,” kata LK Ara yang sebelumnya sudah tampil membacakan sejumlah bait puisi termasuk puisi berjudul “Terbaring di Ujung Karang”, sebuah puisi yang khusus diciptakan untuk Ketut Wiradnyana, pimpinan Tim penggalian arkeologi di Loyang Mendale dan Ujung Karang.

Pengakuan LK Ara, dirinya betul-betul merasa dekat dengan nenek moyangnya saat berada di Loyang Mendale dengan muka yang berlumurkan lumpur. “Saya dekat dengan mereka, tanah yang mereka injak-injak ribuan tahun silam ada dimuka saya,” pungkas LK Ara. (aman zaghlul)

Komentar Via Facebook

3 Comments

  1. warman arias

    10/04/2011 at 7:48 am

    penghayatan yang luar biasa………….
    salut buat bapak yusra Habib Abdul Gani….

    dem cintae ken urang gayo ge pak…! hehe..

  2. kevots

    08/04/2011 at 10:20 am

    hendaknya tgl 3 April ini dijadikan kalender tahunan untuk memperingati sejarah ditemukan nenek moyang urang gayo, sekaligus dapat dijadikan promosi Pariwisata bagi Takengon. mohon pihak yang berkompeten menata acaranya ditahun depan. selamat kepada komunitas pencinta danau lut tawar yang memprakarsai acara ini. sukses selalu

  3. ariber

    07/04/2011 at 11:48 pm

    betol-betol mengerikan saat mendengar britanya, betol danau laut tawar kurang bersih. selo die bersih mu lut tawar ku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>