Puisi Kopi Hermansyah Adnan

By on March 3, 2013

Warung kopi

aku duduk di satu meja, menikmati secangkir kopi
mataku menghitung wajah-wajah dan perasaanku menjalar dari meja ke meja dari kopi ke kopi
mencari bayangan hati
pada satu meja kutemukan jiwa-jiwa yang rakus
dalam tegukan-tegukan air kopi dari mulut para pejabat yang tertawa terbahak
mereka telah memindahkan kantor di sini agar bisa leluasa menghitung laba
tanpa perlu merasa malu dengan bawahannya yang tertindih tumpukan kwitansi-kwitansi palsu yang ia ciptakan

di satu meja yang lain kudapati orang-orang yang jenuh
mereka ke sini untuk menyembunyikan diri dari kejaran rutinitas
melarikan diri dari disiplin yang mengekang
mereka ingin bebas laksana lautan, lautan air kopi yang hitam
yang menenggelamkan kebosanan dan menghempaskan kejemuan

ada satu meja
dari pagi sampai petang duduk di warung kopi
merasa asing di tengah ramainya orang
merasa bermimpi di tengah banyaknya yang jaga
matanya menangkap angan-angan, hatinya mengukir hayalan
jiwanya terbang ke awang-awang tak pernah merasa turun ke bumi

aku terpana..
warung kopi ternyata menyimpan ribuan perasaan, memendam jutaan kata hati
dari jiwa-jiwa yang disekap oleh hawa nafsu, yang tertindas oleh rutinitas
yang dijerat ambisi, yang di buai mimpi dan angan-angan

tiba-tiba terdengar azan zhuhur, suaranya berpadu dengan musik liar dari layar televisi
air kopi di gelasku seakan menggumpal, ingin memecahkan gelas dengan marah…
Allahuakbar..aku beranjak pergi…

19/12/2011

Sajak Secangkir Kopi Pagi, Saat Jauh Dari Sang Istri

Pagi menyapaku dengan segenggam rindu
terasa sejuk saat terusapkan ke wajahku yang makin tua
dan perlahan jatuh ke dalam air kopi
maka terbayanglah wajah istriku yang teduh, yang biasa setiap pagi menyedu kopi untuk ku
Terima kasih ya Allah, Engkjau telah memberikan untukku istri yang shalehah…

25/01/2012

Kopi Pagi

menulis aksara di atas air kopi
maknanya larut dalam gula
rindu dan cinta menjadi manis
kuhirup penuh kasih
wajah istriku terbingkai di dalam cangkir…

30/10/12

Tanah Gayo

gunung-gunung tertidur pulas
berkemul selimut hijau daun kopi
begitu sejuk terpancar di hati

kebun menjadi taman
biji kopi menjadi batu permata
begitu indah tergambar pada wajah

jangan jual tanah mereka
jangan biarkan taman berubah menjadi hutan
jangan biarkan permata berubah menjadi batu

anak-anak negeri bermain api
menghangatkan semangat dan harapan
tanah Gayo, mereka punya
jangan biarkan menjadi hitam
hangus termakan ketamakan…

31/10/12

HERMANSYAH ADNAN
Hermansyah Adnan lahir di Banda Aceh pada tanggal 16 Januari 1969, dengan nama Hermansyah. Ayahnya bernama Adnan Daud asal Susoh, kabupaten Abdya. Kemudian besar di kota Tapaktuan dan sekarang tinggal di kota Banda Aceh.

Sejak tamat SMA 1988 sudah bergelut dalam dunia seni: melukis, menulis puisi, cerpen, bermain drama, mencipta lagu, dan memimpin sanggar Rivoli. Setelah tamat SMA bergabung dengan Gabungan Teater Aceh, Aceh Selatan di bawah binaan Abdul Hadi Piliang. Kemudian sekitar tahun 1991 menjadi koresponden Surat kabar Mingguan Peristiwa di Tapaktuan. Dari situlah kemudian kenal dengan tokoh-tokoh seniman Aceh, seperti Maskirbi, Hasbi Burman dan Hasyim KS.

Tahun 1992 masuk Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry, tidak berapa lama kemudian mendirikan Teater SUA di kampus tersebut, melatih puisi teateral dan bermain drama. Sejak pindah ke Banda Aceh hingga pertengahan 1994 menjadi wartawan SKM Peristiwa di Banda Aceh, kemudian berhenti. Sebelum tamat kuliah,  tahun 2006 menikah dengan Suarni, kelahiran Aceh Tengah dan hingga sekarang telah dianugerahkan anak tiga.

Setelah tamat kuliah tahun 1998 mulai berjualan, tetapi tidak sukses. Kemudian sekitar tahun 1999 pulang ke kampung mertua di Kecamatan Silih Nara, Aceh Tengah. Di dataran tinggi Gayo tersebut berkebun kopi dan dalam kondisi alam yang dingin hidup di atas gunung desa Genting Gerbang, tinggal bersama istri dan anak yang masih kecil.

Tahun 2000 pindah lagi ke Banda Aceh melanjutkan studi pada program Pascasarjana  IAIN Ar-Raniry konsetrasi Ilmu Dakwah, tetapi tidak tamat karena terkena dampak Tsunami yang melanda Banda Aceh akhir 2004 yang saat musibah terjadi tinggal pada lokasi bencana.

Sekarang aktif sebagai staf pada Lembaga Studi Islam dan Kemuhammadiyahan Universitas Muhammadiyah Aceh, sekaligus pengajar mata kuliah yang berhubungan dengan keislaman pada beberapa fakultas di lingkungan kampus tersebut. Selain itu mengajar juga di AKBID Muhammadiyah Banda Aceh.

Aktifitas lainnya adalah ketua Yayasan Nurussalam, anggota Majelis Tabligh Muhammadiyah Aceh, anggota Dapur Sastra Jakarta (FB) dan juga pengasuh Bengkel Puisi Religi Cakrawala (FB). Di samping itu juga aktif menulis, khususnya dalam bidang agama dan sastra. Diantara karya tulis dalam bidang agama adalah naskah buku “Jangan Gelisah (Sebuah solusi mencari ketenanngan hidup)”. Dalam bidang sastra, tulisan yang telah digarap novel “Bulan Purnama di jakarta “ ditulis April 2008 yang kemudian diperbaiki Agustus 2012 dan “Secangkir Kopi Tsunami” pada bulan Maret 2009. Sekarang tengah mempersiapkan antologi puisi “Sajak-sajak sajadah tua” dan “Catatan Debu”.

Puisi Hermansyah Adnan  telah lulus seleksi tahap pertama dari sejumlah karya yang dikirimkan dan berhak menjadi nominator karya yang akan dimuat dalam Buku Antologi Puisi “Secangkir Kopi” terbitan oleh The Gayo Institute (TGI) dengan editor Fikar W Eda dan Salman Yoga S.

Komentar Via Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>