ALA itu Perjuangan Sekaligus Kepentingan

By on February 14, 2013

(Catatan Untuk Husaini Muzakir Algayoni)

Muhamad Hamka

Muhamad Hamka

Oleh: Muhamad Hamka*

DERASNYA arus wacana pemekaran Provinsi Aceh Leuser Antara (ALA) sepertinya belum menjadi diskursus yang substantif di sebagaian mahasiswa Gayo. Tulisan mahasiswa IAIN, Husaini Muzakir Algayoni “ALA Perjuangan atau Kepentingan?” (12/2/2013) di Media Online Lintas Gayo menandaskan sebuah paradoks akan parsialnya spektrum berpikir penulis.

Sebelum masuk pada substansi diskursus pemekaran ALA, Saya akan mengurai terlebih dahulu dua frasa yang di pertanyakan oleh Husaini, yakni frasa perjuangan dan kepentingan. Yang Saya fahami, perjuangan itu merupakan proses. Sedangkan kepentingan merupakan target yang ingin dicapai. Artinya, setiap perjuangan apapun bentuk dan konteksnya, pasti selalu berkaitan/berkelindan dengan kepentingan yang hendak dicapai. Bukan perjuangan namanya, kalau tidak ada kepentingan yang hendak di wujudkan.

Perjuangan, di mana pun dan dalam skala apa pun pasti selalu bersinggungan dengan kepentingan. Heroisme perjuangan Bung Karno, Hatta, Sahrir, hingga penulis buku Madilog, Tan Malaka jelas punya kepentingan, yakni kemerdekaan Indonesia. Di mana dalam perjuangan mereka tak terlepas dengan adanya vested interest (dalam hal pertarungan ideology pergerakan).

Pun perjuangan Xanana Gusmao, Ramos Horta, Taur Matan Ruak, hingga Mari Alkatiri dalam menuntut kemerdekaan Timor Leste, jelas bersinggungan dengan kepentingan. Tak hanya kepentingan rakyat Timor Leste, tapi juga kepentingan politik individu dan kelompok dari para pejuang ini.

Dan yang masih “membatu” dalam memori rakyat Aceh dan Gayo adalah perjuangan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menuntut kemerdekaan dari Pemerintah Indonesia. Sangat jelas ada kepentingannya, yakni Aceh yang bermartabat dan berdaulat. Yang walaupun hari ini kita bisa menyaksikan bagaimana kepentingan itu telah bermetamorfosis dalam arogansi kehendak privat sekelompok elit Aceh.

ALA yang Merdeka dan Bermartabat

Begitu pun dengan perjuangan pemekaran Provinsi ALA, jelas sangat punya kepentingan. Kepentingan yang sangat faktual adalah ALA yang merdeka dan bermartabat dari sikap rasis, primordial, hingga diktatorial pemerintahan Aceh (pesisir). Dan perjuangan ini tidak ahistoris, tapi punya sejarah yang panjang, sepanjang derita keterbelakangan ALA (Gayo) akibat “politik belah bambu” pemerintahan Aceh (pesisir) terhadap masyarakat Gayo dan masyarakat minoritas lainnya.

Dengan deskripsi di atas Saya mau mengatakan kepada Husaini Muzakir Algayoni bahwa pernyataan Armen Desky (AD)—Provinsi ALA dapat ikut pemilu 2014 apabila ALA terealisasi sebelum akhir 2013, “target kita bisa ikut pemilu legislatif 2014”—tak bisa serta-merta dijadikan dalil argumentasi untuk “menggugat” dan menghakimi perjuangan Armen Desky. Apakah perjuangan yang dilakukan oleh AD, Tagore Abu Bakar, dan tokoh yang lainnya punya kepentingan (individu/kelompok) dalam perjuangan pemekaran Provinsi ALA, itu merupakan sesuatu yang wajar dalam setiap perjuangan. Tapi ingat, rakyat punya mekanisme sendiri untuk menyeleksi mana pejuang yang betul-betul serius, dan mana yang sekadar menjadi penumpang gelap. Jadi terang, bahwa pemekaran Provinsi ALA merupakan perjuangan untuk mewujudkan kepentingan ALA yang merdeka dan bermartabat.

Saya pun tak melihat ada mudharatnya bagi masyarakat ALA dengan pernyataan AD diatas. Pernyataan itu jelas untuk kepentingan banyak orang. Karena pemilu legislatif adalah sarana demokrasi bagi rakyat dalam memilih wakilnya di parlemen. Semua warga negara berhak dipilih dan memilih. Dan kalau ALA sudah menjadi provinsi definitif sebelum 2014, jelas punya hak untuk menyelenggarakan pemilu legislative.

Sekadar saran untuk Adinda Husaini, bahwa sebagai insan akademis harus mampu berpikir dan bertindak dengan nalar akademis. Pun sebagai insan akademis, tak elok hanya dengan berdasarkan praduga/asumsi, lalu seenaknya mengambil simpulan untuk menghakimi perjuangan orang lain. Alangkah arifnya sebagai insan akademis, mahasiswa memosisikan dirinya sebagai kekuatan penyeimbang dalam meluruskan perjuangan yang sudah terang/jelas di reduksi dan di belokkan oleh kehendak privat segelintir orang.

Akhirnya, meminjam celotehan seorang Filsuf yang kerap di sitir oleh seorang sahabat saat menjadi aktivis mahasiswa beberapa tahun silam; “kalau tidak bisa berbuat dengan baik, maka berbicaralah dengan baik, pun kalau tak bisa berbicara dengan baik, maka diamlah dengan baik, namun kalau juga tak bisa berdiam dengan baik, maka tidurlah dengan baik.”(for_h4mk4[at]yahoo.co.id)

*Analis Sosial & politik

Komentar Via Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>