Darul Arqam, Perkumpulan Islam di Malaysia

By on June 4, 2012

Toko milik Arqam, khusus melayani keperluan wanita: (Foto : Luqman Hakim Gayo)

Oleh : Luqman Hakim Gayo*

 

Pengalaman meliput perang di Bosnia, telah membuat saya semakin populer dengan sebutan ‘Wartawan Bosnia’. Kegiatan saya nyaris tak pernah sepi dari ceramah tentang suka duka perang itu. Dimana-mana sedang ramai-ramainya Pekan Bosnia, untuk mengumpulkan dana umat Islam. Dana itu dikirimkan ke Bosnia sebagai tanda solidaritas umat Islam Indonesia.

Dewan Dakwah Islamiyah (DDI) ikut berkeliling Indonesia menggalang dana. Saya ikut dalam rombongan mereka, untuk bercerita pengalaman selama di sana. Apalagi, hampir semua jemaah Masjid dan Majlis Taklim ingin tahu siapa wartawan Bosnia itu. Bukan saja di sekitar Jabodetabek, tetapi dari Unsyiah di Banda Aceh sampai ke Unhas di Ujungpandang.

Di sekitar Jakarta saja tidak cukup sebulan. Hampir semua kampus besar dan ternama, mengundang saya  memberikan ceramah tentang suka duka Bosnia. Sementara para tamu di kantor tidak pernah berhenti. Dari berbagai kalangan, baik Majlis Taklim maupun sejumlah organisasi. Bahkan , juga dari Malaysia.

Suatu pagi di kantor saya, di kawasan industri Pulogadung, sejumlah bapak dan ibu datang mencari saya. Mereka bersorban dan gamis warna hitam. Ibu-ibunya juga berjilbab dan cadar hitam. Mereka ternyata dari Darul Arqam, Malaysia. Maksud mereka membawa saya berceramah di Malaysia. Saya katakan prosedur mengundang wartawan, mereka setuju.

Dalam waktu sekejap, faksimil dari kantor pusat mereka datang ke kantor saya. Faksimil itu berupa undangan, dan seluruh biaya perjalanan dan akomodasi ditanggung oleh Darul Arqam. Setelah melihat faksimil itu, pimpinan memberi izin saya berangkat memenuhi undangan tersebut. Itulah awalnya saya berangkat ke Markas Darul Arqam di Sungai Penchala,  Kuala Lumpur, Malaysia.

Rasanya kurang dari satu jam, pesawat yang saya tumpangi sudah mendarat di Changi Airport, Singapura. Semula agak ragu-ragu juga. Tetapi kemudian saya bersyukur, karena ada beberapa orang bersorban dan gamis hitam yang pasti menunggu saya. Begitu keluar airport saya langsung menjabat tangan mereka.

“Enchik Luqman…?” tanya mereka hampir serentak. Saya mengangguk sambil tersenyum. “Selamat datang di Singapura,” kata mereka. Kami berjabat mesra dan mereka membawa saya ke restoran di sekitar bandara itu. Disinilah awal kekaguman pertama saya, ketika mereka memperlihatkan saos tomat dan saos cabe, Made by Arqam. Mereka memperlihatkan hasil karya mereka dengan bangga.

Selanjutnya bukan hanya saos, tetapi hampir sejumlah produk yang dibutuhkan sehari-hari, dibuat oleh kumpulan Islam satu ini. Makanan dan minuman, bahan kecantikan, termasuk obat-obatan. Nama Arqam adalah jaminan halal dan dipercaya oleh umat Islam  Singapura dan  Malaysia.

Malamnya kami berkumpul di markas Arqam Rawa Bedok, Singapura. Ustadz Abbas, Ustadz Hasyim dan sejumlah ustadz yang lain menemani saya. Kami bercerita panjang lebar tentang Arqam, nyaris semalaman. Saya serahkan majalah titipan Arqam Indonesia kepada mereka. Rupanya, di Indonesia sendiri sudah ditulis tentang keluarga besar Islam ini.

Pemotongan ayam secara Islami

Pimpinan tertinggi kumpulan ini adalah Syeikh Asaari Muhammad. Semula dari sebuah kumpulan pengajian kecil. Kemudian berkembang menjadi sebuah komunitas. Bukan sekedar pengajian, tetapi juga menjadi pertubuhan ekonomi yang tangguh, sebuah holding company. Darul Arqam menerapkan sistim ekonomi Islam. Pusatnya berkedudukan di Sungai Penchala, Kuala Lumpur. Cabangnya di seluruh kerajaan Malaysia, Brunai, Singapura dan Indonesia.

Selama beberapa hari saya berkeliling melihat aktifitas Arqam Singapura. Hanya baru beberapa hari, saya mengambil kesan. Mereka sangat menghormati tamu. Bekerja bersama untuk kepentingan bersama. “Saya gak punya rumah. Begitu juga Syeikh Asaari. Yang ada adalah rumah kita bersama”, kata Ustadz Abbas, orang kedua di pertubuhan Arqam.

“Ya saya memang mendengar suara miring tentang Arqam. Tapi saya tidak mudah percaya sebelum melihat sendiri”, kata saya malam itu.

“Anda lihat sendiri, kan. Kami tidak beda dengan umat Islam lain. Sama semua. Cara ibadah, bergaul dan segalanya. Kami benar-benar menerapkan apa yang disunnahkan oleh Rasulullah saw. Aktif di dunia dagang, itu warisan Rasulullah yang sering kita abaikan. Kita harus maju, harus bangkit”, katanya.

Sekali waktu, di Singapura muncul opini massa bahwa ayam goreng di sejumlah gerai, belum terjamin kehalalannya. Sejak itulah muncul pemotongan ayam Islami di pasar-pasar Singapura. Saya sengaja dibangunkan menjelang subuh. “Mari kita jalan, pak, kita lihat pemotongan ayam secara Islam”, kata seorang pemuda. Lalu kami berangkat ke sebuah pasar tradisional. Sejumlah truk sudah antri, menunggu giliran penyembelihan ribuan ayam yang mereka bawa.

“Sebagian besar dari kentucky, texas, california  dan sebangsanya, yang selama ini banyak digemari. Tapi siapa yang menjamin ayam itu disembelih dengan menyebut nama Allah? Arqam menyediakan tenaga, pasti halal karena disembelih dengan menyebut nama Allah”, kata Uztadz Abbas.

Berkeliling di Singapura, melihat kegiatan pemuda Arqam di sejumlah sektor. Pertukangan, percetakan dan penerbitan, sejumlah pabrik makanan dan kosmetik serta kios perdagangan milik Arqam. Para karyawan di atur dengan sistim setengah masa atau sepenuh masa. Semua tinggal di mess atau asrama Arqam. Usai berkeliling, kami meneruskan perjalanan ke Johor.

Dicari pemuda Arqam

Sedikit tragedi menggelikan terjadi di gerbang imigrasi Johor. Petugas minta jaminan tinggal ketika melihat pasport saya. “Siapa yang memberi jaminan enchik tinggal di Malaysia?” kata seorang wanita di gerbang itu. Saya diam dan melirik ke Ustadz Hasyim yang duduk disamping saya dalam mobil sedan yang membawa kami ke Malaysia.

Lalu Ustadz Hasyim merogoh tasnya. Ia mengeluarkan setumpuk uang ringgit, memperlihatkan melalui jendela mobil. Petugas imigrasi yang genit itu tertawa sambil mengangguk-anggukkan kepala. “Silah, silah jalan…”, katanya sambil tertawa terbahak-bahak. Padahal, ustadz Hasyim hanya ingin bercanda dengan memperlihatkan kekayaan itu.

Pagi harinya kami sampai di sebuah komplek perumahan, dan singgah di sebuah rumah orang Arqam. Dia menggunakan sorban kuning, bergamis kuning yang licin dan mahal. Senyum cerah menyambut kedatangan kami sambil bersalaman mesra. Tidak lama berbasa-basi, kami keluar bersama. “Kita sarapan pagi di pelabuhan, sambil melihat-lihat pantai,” katanya.

Saya adalah tamu kehormatan. Kami berdua duduk di belakang sementara teman lain di dua mobil sedan lainnya. Tiga mobil beriringan. Ketika memasuki pintu gerbang pelabuhan, penjaga pintu yang berseragam itu serta merta bersiap. Memberi hormat dan mengangkat senjata. Rupanya, pejabat Arqam yang bersama saya ini juga seorang pejabat pelabuhan Johor.

Melewati pintu gerbang itu, ada sebuah papan pengumuman besar terpasang. Isinya, dicari beberapa pemuda untuk bekerja di pelabuhan. Syarat-syarat tercantum jelas. Dan dibagian bawah tertulis, “sangat diutamakan dari pemuda Arqam”. Wah, ternyata anggota Darul Arqam sudah cukup dipercaya. Diakui jujur, alim dan penuh tanggung jawab.  Usai sarapan pagi, kami bersalaman dan meneruskan perjalanan ke luar Johor menuju Negeri Sembilan.

Seperti juga di Johor, saya disambut oleh pejabat Arqam Negeri Sembilan. Kepada saya diperlihatkan Rumah Bersalin, milik Darul Arqam yang terbuka untuk umum. Selain klinik kesehatan, juga salon kecantikan untuk laki-laki dan terpisah untuk perempuan. Para pemuda Arqam saling berebut mengajak saya dengan mobil mereka berkeliling Kuala Lumpur.

“Bagaimana pak Luqman ?” kata Ustadz Abbas yang bertubuh gemuk dan pendek kekar itu. Maksudnya, apakah saya sudah menemukan perbedaan prinsip antara Arqam dengan umat Islam lainnya. Saya belum menemukannya. Yang saya tahu, mereka sangat menghormati tamu, mematuhi atasan dan kuat persatuan. Bekerja untuk organisasi, bukan untuk diri sendiri.

“Biasa saja. Syahadatnya biasa. Takbirnya biasa,” kata saya sambil tertawa. Memang saya tidak menemukan perbedaan itu. Yang saya dengar justru, ada kebencian dari pihak pemerintah kepada kelompok ini. Karena mereka terlalu eksklusif dan cenderung memisahkan diri. Terkesan tidak menghargai aturan pemerintah tentang keagamaan. Pernikahan dan kelahiran, tidak pernah dicatatkan kepada pemerintah.

Dari segi politik, konon Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohammad sangat benci kepada Asaari Muhammad. Kebencian, karena popularitasnya terancam. Kalau dilakukan pilihan raya, Mahathir kuatir suara pemilih untuk pimpinan Arqam itu lebih besar dari pada untuk dirinya sendiri. Ini berarti menggoyahkan poisisinya sebagai Ketua UMNO dan sebagai Perdana Menteri.

Perjalanan kami berakhir di Sungai Penchala, markas besarnya Darul Arqam. Sebuah kamar sudah disiapkan untuk saya. Sebuah mobil sedan mercy juga sudah disiapkan, untuk membawa saya kapan saja dan kemana saja. Mereka siap mengantar. (bersambung/lhg)

*Penulis tetap di media online Lintas Gayo

Komentar Via Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>