Friday, 29 April 2016

Merasa Dizalimi KIP, Tagore Siapkan Tuntutan ke MK

Redelong | Lintas Gayo – Riak perpolitikan paska pemungutan suara Pilkada di Kabupaten Bener Meriah yang tenang  tampaknya akan mulai bergolak. Pasalnya, salah satu kandidat Bupati merasa dicurangi oleh Komisi Independen Pemilihan (KIP) Kabupaten Bener Meriah, pasangan Ir. H. Tagore AB dan Drs. Aldar AB. Mereka akan melakukan tuntutan ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Tagore kepada wartawan, Kamis (12/4) menyatakan berang setelah dirinya menerima sejumlah laporan dugaan kecurangan yang dilakukan oleh pihak KIP. ”Saya menerima pesan singkat (SMS), bahwa pihak KIP telah menerima sejumlah uang dari salah satu pasangan lain untuk memenangkannya dalam Pilkada ,” ungkap mantan Bupati Bener Meriah ini.

Komisioner KIP diduga telah menerima sejumlah uang di Hotel Renggali, Takengon Aceh Tengah, 2 April 2012 lalu guna memuluskan kemenangan salah satu pasangan kandidat yang saat ini memiliki suara tertinggi, pasangan Ruslan Abdul Gani-Rusli M. Saleh (R2).

Selain itu, ada indikasi kecurangan yang dilakukan oleh KIP dirincikannya, mulai dari penggelembungan jumlah suara di sejumlah TPS, pihak KPPS juga menghalang-halangi warga agar tidak datang ke TPS untuk memilih dan memberikannya sejumlah uang, agar surat suara tersebut dapat dimanipulasi.

Bahkan dari data yang diungkapkan Tagore, telah terjadi penggelembungan surat suara di sejumlah TPS. Contohnya disalah satu TPS di Kampung Gunung Tunyang, Kecamatan Timang Gajah. Terdaftar dalam DPT yang memilih sebanyak 285 orang, akan tetapi surat suara yang dicoblos sebanyak 304 suara. “Ada beberapa lagi kejanggalan yang terjadi,” kata Tagore.

Fakta lainnya, menurut Tagore pada 4 Februari 2012, Ketua KIP Bener Meriah Ahmadi, SE menggelar pertemuan dengan tim Tagore yang bernama Nasir, AK dan Sarkati di hotel Asean Medan. Ketua KIP ini menawarkan strategi pemenangan Tagore dalam Pilkada tersebut. Tentunya dengan syarat ada imbalan sejumlah uang kepada pihak KIP. Saat itu tawaran tersebut tidak langsung di jawab Nasir dan rekannya Sarkati, dia berkata akan melaporkan tawaran tersebut kepada Tagore.

“Saat Nasir memberitahukan hasil pertemuannya itu kepada saya, serta merta saya menolak tawaran KIP. Saya ingin dalam pertarungan Pilkada ini semua berjalan dengan baik dan tidak ada kecurangan apapun, intinya kami ingin di Bener Meriah pertarungannya fair, aman dan demokratis ,” ujar Tagore.

Dan atas penghitungan sementara paska pencoblosan Senin, 9 April 2012 lalu dia mengaku sudah nyatakan selamat kepada kubu R2 karena mempercayai tidak ada ketimpangan dalam penyelenggaraan Pilkada.

Karena Tagore merasa dizalimi oleh KIP maka dia tegaskan akan melawan. ”Ketenangan saya mulai terusik, karena ada tangan-tangan setan yang mematikan karir politik saya. Oleh karena itu saya akan melawan hingga semua kebenaran terungkap. Hak rakyat dalam memilih akan saya bela mati-matian,” sebutnya dengan nada meninggi.

Pihak Tagore juga menyatakan telah melaporkan semua kecurangan yang diduga dilakukan oleh KIP Bener Meriah kepada Panwaslu Kabupaten Bener Meriah, Panwaslu Aceh dan Bawaslu RI agar di usut tuntas.

Sementara itu, Ahmadi, SE, Ketua KIP Bener Meriah melalui telepon selulernya, Jum’at (13/4/2012) malam mengatakan dia bersumpah tidak melakukan penzaliman apapun dalam pelaksanaan Pilkada ini. ”Demi Allah, saya siap digantung jika terbukti melakukan kecurangan atau penzaliman kepada salah satu kandidat. Selaku ketua KIP Bener Meriah, saya mempersilahkan kandidat yang merasa dirugikan dalam Pilkada untuk menempuh jalur hukum,” kata Ahmadi.

Adalah hak para kanidat untuk mengajukan keberatan dan tentunya mesti dilengkapi dengan data dan bukti otentik, imbuhnya.

“Saya siap menerima konsekuensi hukum jika tuduhan tersebut terbukti. Namun jika tidak terbukti, maka mohon bersihkan nama saya,” tegas Ahmadi.

Ditanya apakah benar ada pertemuan dengan Nasir AK dan Sarkati di Hotel Asean Medan membicarakan pemenagan Tagore, Ahmadi membenarkan adanya pertemuan tersebut. ”Saya akui kami ada bertemu disana, Nasir menanyakan bagaimana cara memenangkan Tagore. Karena mereka bertanya, ya saya jelaskan caranya,” kata Ahmadi.

Namun Ahmadi menyangkal keras bahwa dia dituding menerima sejumlah uang dari salah satu kandidat peserta Pemilukada di Hotel Renggali, Takengon.

”Saat itu saya bertemu dengan Firmandez, anggota DPRA dan itupun pertemuan sesama teman, saat dia mengikuti kampanye pasangan Cagub/Cawagub Zikir di Aceh Tengah. Serta tanggalnya juga saya lupa. Saya tidak bertemu dengan tim pasangan yang dimaksud,” sangkal Ahmadi mengakhiri keterangannya. (Khalis)