by

Kunul Murum Kaji Ekonomi Gayo

Beberapa waktu lalu persoalan perekonomian di empat Kabupaten lintas Leuser (Aceh Tengah, Bener Meriah,Gayo Lues dan  Aceh Tenggara) dikaji oleh sebuah Group Diskusi yang beranggotakan putra Gayo yang terbentuk di Banda Aceh bernama Tim Akademisi Kunul Murum.

Amir Syam dalam sebuah acara "Kunul Murum"

Dalam kesempatan Kunul Murum tersebut nara sumber dipercayakan kepada Yahya Kobat MSi, seorang putra Gayo yang mengajar di salahsatu Perguruan Tinggi di Banda Aceh.

Menurut Yahya Kobat ada tiga persoalan ekonomi di Gayo diantaranya, pertama, masyarakat masih rancu dalam memahami ekonomi. Masyarakat yang berkebun atau bersawah mengatakan bahwa hasil panen mereka tinggi namun mereka belum melakukan perhitungan berapa modal dalam mengolah perkebunan atau persawahan.  Lalu  sebenarnya manajemen usaha lebih banyak menfaatnya dari hasil yang didapat. Pelaksanaan akan menjadi lebih baik bila dilakukan bersama dinas teknis.

Lalu yang kedua, persoalan pengangguran. Lapangan kerja di sector swasta harus dibuka selebar-lebarnya di 4 kabupeten tersebut. “Selama ini usaha swasta tidak berkembang karena kurangnya perhatian pemerintah.Dalam masyarakat Gayo usaha kecil lebih banyak, dan perbankan masih mempunyai keraguan dalam penyaluran modal,” kata Yahya Kobat.

Persoalan keempat adalah kemiskinan. Kemiskinan terbanyak adalah kemiskinan struktur. Kehidupan masyarakat masih lebih banyak berharap pada warisan, adanya celah Kolusi, Korupsi dan Nepotisme (KKN).

Dua pertiga penduduk masih miskin. Upaya pemberantasan kemiskinan sudah dimulai sejak tahun 1996 dengan digulirnya sejumlah program oleh pemerintah. Membuka sawah dan perkebunan baru hendaknya dibarengi dengan tekhnologi sehingga lahan yang kecil dapat menghasilkan hasil yang banyak, karena dalam masyarakat kita sekarang masih ada tradisi berlomba dengan lahan yang luas tetapi pengelolaannya masih tradisional sehingga hasil yang didapat tidak optimal.

Permasalahan perdagangan belum ditata secara baik, perdagangan hanya sekedar mengeluarkan izin infra struktur ekonomi.

Setelah pemaparan dari nara sumber sejumlah peserta yang hadir member tanggapan, diantaranya Drs. Syafruddin, MM dengan menyatakan penunjang perekonomian masyarakat maka harus dihidupkan sector wisata yang selama ini belum tertata secara baik. Belum adanya ketertarikan orang luar melihat indahnya panorama alam Gayo. Untuk itu diperlukan adanya promosi melalui brosur atau sosialisasi melalui media.

Lemahnya SDM, menjadi persoalan tidak berjalannya roda ekonomi di sector ini yang diperparah dengan lemahnya kinerja pemerintah.

Disamping itu juga perubahan budaya (gaya hidup) masyarakat yang menganggap apa yang dia hasilkan dan olah sendiri tidak dianggap bernilai dan baru dianggap bernilai adalah apa yang dibawa dari pasar.

Selanjutnya pendapat Marah Halim, M. Ag, dosen muda di IAIN Ar Raniry Banda Aceh menyatakan sejauh ini pemerintah masih rancu dalam mengatur perekonomian dan terkesan tidak mengetahui program dalam bidang perdagangan sehingga melahirkan banyaknya pengangguran.

Marah Halim berpendapat sebenarnya untuk masyarakat Gayo tidak ada istilah menganggur. Hanya saja pola pikir yang berkembang dalam masyarakat bahwa kalau bukan PNS berarti menganggur. Karena itu, sebenarnya masyarakat Gayo bukan kemiskinan yang harus dihilangkan tetapi kebodohan.

Kedepan, harus adanya pemetaan dan prioritas permasalahan, apakah perbaikan jalan, pariwisata atau yang lainnya.

Sementara tanggapan Dosen IAIN ar Raniry lainnya, Ali Abubakar, M.Ag mengatakan orang Gayo mempunyai tabiat yang cepat menerima perubahan dalam segala hal kecuali dalam masalah berkebun kopi, susah menerima tekhnologi.

Karena pola demikian maka peran penyuluh pertanian sangat diharapkan sehingga pola kearah kemajuan dapat dengan cepat diterima masyarakat bertani, karena kehidupan masyarakat sangat tergantung pada pertanian tersebut.

Selanjutnya Sofyan, SH. MM, menantu almarhum HM Yacob Ibrahim, pengarang buku terkenal, Studi Kelayakan Bisnis, menilai pemahaman ekonomi masyarakat Gayo bahwa faktor tenaga kerja tidak diperhitungkan sebagai pemahaman ekonomi.

Sebagai contoh mereka yang menanam cabe dengan modal Rp. 500.000,- lalu dihitung pada saat panen ia mendapat total hasil Rp. 1.000.000,- maka ia menganggap ia telah untung 500 ribu sementara tenaga yang dikeluarkan tidak dihitung.

Sudah saatnya kita memberi pemahaman kepada masyarakat bahwa bertani adalah bisnis, dan seluruh sector yang dilakukan adalah bisnis, kalau ini bisa dijalankan maka sebenanya tidak ada kemiskinan di Gayo, simpul Sofyan.

Seorang pengusaha dibidang kelistrikan di Aceh, Basri Arita juga beri pendapat tentang sejumlah kelemahan perekonomian di Gayo.

Menurut Basri Arita, sudah banyak yang dilakukan untuk membantu masyarakat, namun karena karena lemahnya SDM yang dimiliki maka pemeliharaan dan pengembangan terhadap apa yang telah disediakan juga tidak bisa diharapkan. Karena itu diskusi dan kajian-kajian sangat diperlukan untuk peningkatan SDM masyarakat.

Pendapat terakhir disampaikan Iklil Ilyas Leube. Menurut putra Almarhum Tgk Ilyas Leube ini “Ara si osop ari Gayo” yaitu moral.

Tidak ada lagi lembaga-lembaga yang membina moral masyarakat, tidak ada lagi dayah (pesantren). Kondisi ini sangat berbeda dengan masyarakat pesisir Aceh yang masih banyak memiliki dayah untuk tempat pengajian dan pembinaan moral. “Inilah permasalahan yang mendasar untuk masyarakat Gayo,” simpul Iklil.

Adapun kepengurusan Tim Akademisi “KUNUL MURUM” Banda Aceh sebagai Koordinator Umum, Drs. Jamhuri, MA, sebagai wakilnya Sofyan, SH. MM,  Mashuri, MA sebagai Sekretaris. Lalu Marah Halim, M.Ag dan Dra. Rasyidah, M.Ag selaku Koordinator Bidang Agama dan Pendidikan.

Sementara dua orang akademisi lainnya dari Gayo Lues dan Aceh Tengah, Prof. Dr. Abubakar Karim dan Yahya Kobat, M.Si diposisi Koordinator Bidang Ekonomi dan Infrastruktur. Dan terakhir Dr. Mohd. Din, SH. MH dan Amirsyam, SH bertanggung jawab sebagai Koordinator Bidang Legislasi dan Advokasi. (Drs. Jamhuri MA)

Comments

comments

News