Menjadikan Takengon Kota Masa Depan

By on February 16, 2012

Indra Setia Bakti*

Logo HUT TKN ke-435 tahun 2012
.

KOTA merupakan ruang tempat manusia beraktivitas, bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kita. Bila diibaratkan bupati adalah kepala keluarga, maka Kota Takengon adalah rumah kita, yang perlu dijaga dan tata bersama, sehingga kita nyaman tinggal di dalamnya, dan tamu pun senang berkunjung.

Selama ini kita sering menemukan kota-kota yang didesain terlalu monoton, membosankan, bahkan tidak memiliki jati diri. Banyak masalah yang tidak beres di dalamnya. Contohnya Jakarta, merupakan kota pusat ekonomi nasional yang sudah salah rancang. Walaupun pertumbuhan ekonominya tinggi, namun kemacetan lalu lintas, kepadatan penduduk, polusi udara, banjir, serta tingginya tingkat kriminalitas dan stres adalah beberapa masalah yang selalu melekat pada Kota Jakarta.

Konon beberapa pihak mulai meragukan kapasitas Kota Jakarta sebagai ibukota negara. Meskipun saat ini telah banyak ahli planologi yang mengisi jajaran pemerintahan di sana, Jakarta sudah sulit untuk diubah. Akhirnya, penggusuran dan kekerasan pun marak terjadi, sebagai langkah awal dalam memperbaiki tata ruang. Hal ini kerap menyentuh sisi kemanusiaan. Kalau kita perhatikan, Kota Medan pun sepertinya tengah mengikuti jejak Kota Jakarta yang sumpek dan kurang manusiawi.

Apakah Kota Takengon juga akan ikut-ikutan? Semoga saja tidak, sebab kita masih punya waktu untuk berbenah. Sebagai warga, kita membutuhkan sebuah kota yang mampu memadukan antara kebutuhan ekonomi, ekologi, dan sosial budaya (jadi bukan demi pertumbuhan ekonomi saja). Bagaimana bentuk Kota Takengon masa depan?

Menciptakan Kota Takengon yang dicintai semua orang perlu melibatkan fantasi. Kota impian berawal dari ide bersama, lalu diwujudkan dalam kebijakan pemerintah, dan pelaksanaannya perlu dikawal bersama-sama masyarakat. Sejalan dengan misi mengembangkan pariwisata Kabupaten Aceh Tengah, Kota Takengon seharusnya juga bisa menjadi zona rekreasi, selain memanfaatkan berbagai panorama wisata yang ada. Dengan demikian, objek wisata yang perlu dikembangkan ibarat memadukan antara keindahan kreasi Tuhan (danau, gunung, goa, hutan, dan sebagainya) dan kreasi manusia. Keindahan kreasi manusia ini dapat diwujudkan dengan menata Kota Takengon yang aman, nyaman, dan indah.

Langkah pertama yang perlu dilakukan pemerintah daerah yaitu menyangkut aspek tata ruang. Undang-Undang No.26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang telah mengisyaratkan penyesuaian antara ruang terbangun dan ruang terbuka hijau. Dalam merancang sebuah kota, minimal harus disediakan 30 persen RTH. Selain itu, sistem drainase dan area resapan air perlu dirancang sebaik mungkin oleh para ahli yang kompeten di bidangnya sehingga mampu mengendalikan masalah banjir dan kekeringan.

Langkah kedua yaitu membenahi aspek transportasi. Pemerintah daerah perlu melakukan sedikit pembatasan terhadap kecenderungan meningkatnya minat masyarakat memiliki kendaraan bermotor. Memang terkesan seolah-olah pemerintah terlalu banyak mengatur, tetapi bukankah hal ini dilakukan untuk kepentingan kita bersama? Di sisi lain, kualitas transportasi umum yang beroperasi di seputar Kota Takengon pun perlu terus dibenah. Selain mempertahankan kenyamanan pelayanan transportasi umum, Kota Takengon hendaknya juga menjadi pelopor dalam mempromosikan transportasi umum ramah lingkungan, misalnya dengan menggunakan bahan bakar gas. Dampak positifnya, Kota Takengon memiliki tingkat polusi yang rendah.

Langkah ketiga yang perlu dibenah terkait infrastruktur kota. Beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu peningkatan kuantitas dan kualitas jalan dan pelayanan air bersih untuk seluruh warga. Di samping itu, Kota Takengon masih membutuhkan taman kota, sebagai sarana rekreasi dan sosialisasi warga. Komponen lain yang tak boleh dilupakan dalam perencanaan kota ideal yaitu tersedianya ruang bagi pengendara sepeda, pejalan kaki, dan penyandang disabilitas, juga sistem pengelolaan sampah terpadu dari hulu ke hilir, dengan peran serta aktif dari masyarakat.

Langkah keempat yakni penyediaan lapangan kerja. Tingat pengangguran di Kota Takengon perlu ditekan serendah mungkin. Monaco merupakan contoh sebuah negara-kota yang sukses menekan tingkat penganggurannya hingga nol persen. Padahal negara tersebut hanya mengandalkan sektor pariwisata untuk mendongkrak ekonomi rakyatnya. Kota Takengon pun harus mampu menjadi pusat pertumbuhan bagi wilayah di sekitarnya. Sektor perkebunan dan pariwisata dapat menjadi ujung tombak dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi Kota Takengon. Menyangkut hal ini, kita perlu duduk bersama untuk menentukan apa yang terbaik untuk kita.

Langkah kelima yakni mengurangi kesenjangan ekonomi, kecemburuan sosial, dan ketidakadilan bagi segenap warga Kota Takengon. Kota yang baik tidak hanya indah dipandang secara fisik, tetapi juga indah dipandang dalam pergaulan sosial. Dengan menekan tingkat kesenjangan ekonomi, kecemburuan sosial, dan ketidakadilan, angka kriminalitas pun tentu akan menurun. Dengan demikian, rasa aman dan nyaman dapat dirasakan oleh seluruh warga Kota Takengon dan wisatawan yang berkunjung. Selain itu, Kota Takengon harus didesain sedemikian rupa sehingga mampu menciptakan masyarakat yang tidak individualistis, sesuai dengan corak ketimuran bangsa kita.

Langkah keenam berhubungan dengan filosofi dan eksistensi kota. Karakteristik Kota Takengon harus mampu menampilkan jati dirinya. Kota Takengon perlu diwujudkan menjadi salah satu kota budaya, sebagai pusat peradaban Gayo dengan segenap identitasnya. Maka festival budaya Gayo adalah elemen penting sebuah kota yang intensitasnya perlu terus menerus ditingkatkan dan menjadi tradisi yang harus dipertahankan. Kota tanpa spirit kebudayaan akan terasa sangat hambar dan kurang hidup.

Di sisi lain, festival budaya justru dapat menjadi salah satu faktor penarik wisatawan untuk berkunjung. Selain itu, desain bangunan yang ada di Kota Takengon sebagian besar mulai meninggalkan identitas ke-Gayo-annya. Berbeda dengan beberapa kota di Eropa yang justru mempertahankan corak bangunan mereka tempo dulu, yang cukup unik dan indah dipandang mata. Semoga saja bangunan kuno yang tersisa di Kota Takengon saat ini tidak lagi tergerus oleh arus modernisasi.

Perencanaan Kota Takengon seyogyanya sejalan dengan misi pembangunan yang berkelanjutan, sebab keberlanjutan pada prinsipnya menyangkut masa depan kita bersama. Sebagai warga kota Takengon, yang mungkin hanya mewakili sedikit dari begitu banyak harapan seluruh warga Kota Takengon. Maka siapa pun calon bupati yang terpilih nantinya, sebagai kepala keluarga yang baik, tanya dan sering-seringlah berkonsultasi dengan seluruh warga sebagai anggota keluarga (jangan cuma sosialisasi ide dari kepala saudara), dalam menata Kota Takengon sebagai rumah kita bersama. Dirgahayu Kota Takengon.

*Penulis adalah warga Kota Takengon

Komentar Via Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>