Harta Karun Peninggalan Belanda Seberat 1,5 Ton Di Danau Lut Tawar

By on February 7, 2012
BomDLTok

Bom yang ada di Danau laut Tawar, berhasil digambar oleh tim evekuasi bom dan POSSI Aceh Tengah. Terlihat bagaimana besarnya bom yang ada di danau itu. (foto/ Dokumen Waspada)

LUT Tawar, danau kebanggaan masyarakat Aceh masih menyimpan sejumlah misteri. Bukan hanya persoalan tumbal nyawa yang setiap tahunnya diminta oleh danau dengan ikan khas depik ini. Namun di dasar danau masih ada  bom aktif seberat 1,5 ton.

“Harta” peninggalan Belanda ini, bukan hanya berupa bom aktif dengan berat 1,5 ton. Di sana juga ada bom nenas, senjata yang sudah berkarat, peluru, serta bom kecil lainnya yang sudah melekat di bebatuan.

Upaya untuk mengangkat benda berbahaya ini sudah sering dilakukan. Namun belum semuanya mampu diangkat ke darat. Bom yang beratnya 1,5 ton itu, sulit diangkat, sebagian badannya sudah melekat erat di bebatuan.

Catatan Waspada, “perburuan” terakhir dilakukan oleh Kapolres Aceh Tengah, bersama POSSI, dengan mendatangkan Brimob Kompi 4 Lhokseumawe. Namun walau danau tempat bersemanyam bom ini hanya kedalaman 18 meter, tim tidak berhasil mengangkat benda tua dengan panjang 230 sentimeter dengan lingkaran 120 sentimeter ini.

Upaya pengangkatan terahir lima tahun yang lalu itu, hanya mampu memboyong peluru roket seberat 1 kilogram, 42 butir peluru aktif, serta dua butir yang tidak aktif, dan ratusan peluru senjata laras panjang. Tampak di lingkaran peluru RPD itu bertuliskan tahun 1941.

Menurut Al-Hudri, ketua Persatuan Olah Raga Selam Seluruh Indonesia (POSSI) Aceh Tengah, bom seberat 1,5 ton itu berhasil direkam kamera bawah laut. Anehnya ketika jarak fokusnya dekat, kamera justru mati. Kalau dijauhkan kembali hidup.

“Tidak tahu apa penyebabnya, ada yang menyebutkan karena penghuni danau melarang mengambil gambar dari dekat. Atau bisa jadi ada energi radio aktif. Anehnya di mulut gua tempat bom itu seharusnya bersih dari lumpur, karena arus air keluar masuk dari sini. Namun justru di mulut gua ini penuh lumpur,” sebut Hudri yang kini menjabat kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Aceh Tengah.

Menurut saksi sejarah dan sekaligus saksi mata, bahan peledak itu  merupakan peninggalan Belanda. “Bahan peledak itu dibuang penjajah Belanda. Saat itu Belanda berusaha menyelamatkan diri ke kawasan hutan pedalaman Aceh,” sebut M. Daud.AD, 78, ketua Legiun Veteran Republik Indonesia, Kabupaten Aceh Tengah.

Menurut M. Daud yang sempat memberikan keterangan kepada Waspada sebelum menghembuskan nafas terahirnya, menjelang HUT Waspada 2012, bom tersebut dibuang serdadu Belanda, agar tidak dipergunakan oleh lawannya.

“ Ketika itu  serdadu Jepang datang dari kawasan Pesisir Aceh. Pihak Belanda yang kalah perang melarikan , berusaha lari ke pedalaman Gayo.  Sambil lari,  Belanda  membuang  kenderaan jeep, bom dan alat perang lainnya ke danau, “ jelasnya.

“Ketika itu saya sudah remaja, kami melihat pasukan Belanda ini menuju kawasan One-One, lokasi bahan peladak saat ini. Ahir tahun 1942 atau awal tahun 194. Pada saat itu Belanda secara bergelombang melarikan diri,” sebut Daud, yang saat memberikan keterangan kepada Waspada masih hidup.

Jeep milik serdadu negeri Kincir Angin ini, serta beberapa bom kecil sudah berhasil diangkat oleh penyelam tradisionil  Gayo. Almarhum Radot penyelam alam di sana, semasa hidupnya sudah sering memanfaatkan mesiu dari dasar danau ini. Bahkan ketika meracik ulang, tangan temannya putus akibat ledakan bom, sebut Daud.

Kini bom aktif  di sebelah selatan Hotel Renggali ini, belum mampu diangkat untuk diamankan. Berbagai upaya yang telah dilakukan, sampai kini belum membuahkan hasil. Walau berbeda dengan bom yang meledak di Hirosima dan Nagasaki (bom atom) yang beratnya hanya 1 ton, tetapi mampu meluntuhkan negeri Sakura ini.  Bagaimana bila bom seberat 1,5 ton ini meleda?

Walau banyak yang memperhitungkan, bila pemicu bom ini tidak “tersentuh”, ledakan tidak akan terjadi. Apalagi bersemanyam di dasar danau yang kedalamannya mencapai 18 meter. Namun bila bebatuan di atas runtuh dan menimpa bom ini, bagaimana nasipnya?

Bom yang lebih tua dari kemerdekaan negeri ini, masih menjadi catatan sejarah di danau kebanggaan rakyat Aceh. Kapan bom ini akan terangkat, sehingga keresahan masyarakat mampu dihilangkan? Ini yang sulit dijawab. (Bahtiar Gayo)

—-

(Tulisan ini sudah pernah diterbitkan di harian Waspada)

.

Komentar Via Facebook

4 Comments

  1. Pingback: white whalls3

  2. Pingback: Mariam Waldos

  3. Pingback: pjugytdybygdytukjgfjhdtjhk

  4. Pingback: kojnuhyfvrtyghjokjytdre

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>