by

AlFazri : Semoga Mahasiswa Gayo Selamat di Mesir

Pante Raya-Situasi genting di bumi para Nabi mulai terasa setelah terjadinya reformasi besar-besaran masyarakat Tunisia. Semangat itu telah merembes pula sampai ke kota Cairo dan daerah sekitarnya. Aksi unjuk rasa yang berpusat di kota pemerintahan Tahrir menjadi bukti nyata betapa besar semangat masyarakat Mesir untuk membebaskan tanah air dari rezim Mubarak. Akibatnya membuat pemerintah berwenang saat ini yang juga disokong oleh Amerika dan Israel memberlakukan status darurat militer dan jam malam di kota Cairo.Keadaan massa di Maidan Tahrir Cairo - Mesir, Foto dikutip dari situs Misr al-Youm [Oleh Azmi Abubakar]

Sehari setelah diberlakukannya darurat militer di Mesir (28/1/ 2011), situasi mulai mencemaskan, pasar distrik Qattamea Cairo terlihat ramai dipadati warga termasuk sebagian mahasiswa Aceh yang mendominasi kawasan ini, belanja berbagai persiapan dapur di tengah situasi negara  yang tak menentu. Bertambahnya permintaan sembako membuat para pedagang tampak  kewalahan melayani warga. Hari ini Rabu (2/2/11) sebagian harga sembako telah mengalami kenaikan, termasuk harga gas di wilayah Qattamea yang semula hanya 12 LE kini menjadi 25 LE. Demikian laporan seorang Pengurus Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) Mesir dan juga sebagai Pimred Buletin el-Asyi KMA Mesir dan aktivis World Achehnese Association dari Qattamea, Cairo (2/2).

Mahasiswa Aceh yang saat ini berjumlah kurang lebih 370 orang terpencar di pinggiran kota Cairo. Tercatat tidak ada satupun mahasiswa yang menempati wilayah Tahrir, pusat pemerintahan yang sangat rawan dengan berbagai aksi massa, disamping karena sewa rumah disana yang melambung tinggi. Sebagian besar mahasiswa Aceh mendominasi wilayah Qattamea, sisanya menempati kawasan Nashr City, Metro, Hussain dan beberapa asrama yang dikhususkan untuk mahasiswa asing. Ada juga beberapa mahasiswa yang memilih tinggal di provinsi luar kota Cairo.

Pemutusan koneksi internet selama beberapa hari lalu di sebagian besar wilayah Cairo juga pemblokiran status jejaringan sosial membuat mahasiswa kesulitan membangun komunikasi seperti biasa. Hanya beberapa tempat saja yang luput dari pemblokiran. Malah pada hari jum’at (28/1/11) sempat terjadi pemutusan sinyal telepon seluler.

Menanggapi situasi ini, seorang mahasiswa asal Gayo yang pernah menempuh studi di Mesir, Al Fazri yang kini berdomisili di Lut Kucak, Bener Meriah menyatakan prihatin dan berharap seorang warga Indonesia di sana aman dan selamat termasuk sekitar 400 mahasiswa asal Aceh dan 15 diantaranya berdarah Gayo.

“Ada 15 orang rekan saya berdarah Gayo disana, 3 orang perempuan dan 12 lainya laki-laki,” kata Al Fazri (3/2).

Menurut informasi yang diperoleh Al Fazri, salah seorang rekannya, Raodah yang berasal dari kampung Lemah Burbana Aceh Tengah sudah berada di Indonesia. “Mungkin sedang dalam perjalanan ke Takengen, dan mudah-mudahan sudah tiba di Takengen,”harap Al Fazri yang sempat berada di Mesir sejak 2003 hingga 2009 ini.

Adapun kelima belas putra Gayo tersebut diantara berasal dari Banda Aceh, Langsa, Tamiang, Aceh Tenggara, Gayo Lues, Aceh Tengah dan Bener Meriah. “Dari Bener Meriah ada 5 orang disana,” pungkas Al Fazri. (aza)

Comments

comments

News