Apa yang Harus Kita Jawab

By on January 18, 2012

Oleh. Drs. Jamhuri, MA

jamhuri1
APA yang harus kita beritahukan kepada siswa-siswi MAN/SMU sederajat ketika hendak mensosialisasikan Perguruan Tinggi ? Itulah salah satu pertanyaan yang dilontarkan dua orang mahasiswa Persatuan Mahasiswa Takengon (PERMATA) IAIN Ar-Raniry kepada kami, ketika mereka memperlihatkan surat yang akan di kirim ke Kemenag Aceh Tengah dan Bener Meriah.

Seketika saya teringat dengan apa yang pernah dikatakan oleh guru saya dan guru kawan-kawan yang pernah bersekolah di MAN 1 Paya Ilang Takengon, bapak tersebut adalah “Abubakar Semaun” (Kepala Sekolah MAN 1 sekitar tahun 80-an). Beliau selalu katakan kepada kami jangan pernah saya melihat kalian nanti mujangkat atau mujujung petukel (menggendong atau membawa labu). Jangan pernah juga nanti suatu saat saya melihat kalian dengan keadaan gigi tidak pernah digosok, banyak rumput-rumput (tetusuk) yang dapat digunakan sebagai sikat gigi. Saya kepingin lanjutnya, melihat kaliah membawa tas dengan pakaian yang rapi dan sepatu yang mengkilap.

Itulah motivasi yang diajarkan oleh bapak Abubakar Semaun kepada murid-muridnya pada tahun 80-an, mungkin ini tidak terlalu berlebihan, karena pada saat itu orientasi pendidikan adalah pada lapangan kerja (PNS) dan juga kepada wiraswasta yang identik dengan kerapian penampilan. Motivasi ini juga kiranya masih sesuai dengan keadaan masyarakat kita sekarang yang juga mempunyai orientasi yang belum jauh berbeda.

Namun untuk menjawab pertanyaan dua mahasiswa Permata tersebut, jawabah tidak  persis sama terucap dari mulut saya. Tetapi ada sebuah renungan imajiner yang saya sampaikan pada saat itu, kendati jawaban itu sebenarnya belum tentu benar, bahkan sangat menantang bagi semua kita untuk menjawabnya.

Orang-orang yang sebaya dengan bapak kita, mereka ada yang sudah sarjana (S1, S2 sampai S3) bahkan ada yang sudah mengecap pendidikan kemana-mana dengan jenjang yang beragam, tetapi kenapa bapak kita tidak seperti mereka. ketika kita bertanya tentang itu, mereka selalu menjawab “dulu masa karu”, sehingga kami tidak bisa sekolah. Ada lagi diantara bapak-bapak kita yang menjawab “nenek dan kakek kamu tidak mengizinkan saya bersekolah” padahal saya sangat kepingin sekolah, sebagian lagi beralasan “kakek dan nenek kamu tidak punya uang”, kehidupan mereka sangat susah, kami harus bekerja membantu mereka mencari nafkah. Karena itu kalian jangan lagi seperti kami, kalian harus sekolah, belajar dan menuntut ilmu.

Lalu benarkah semua jawaban bapak kita itu ?, mungkin benar. Karena pada masanya kondisi keamanan masih dalam keadaan perang (masa penjajahan atau masa konflik), pada masanya juga kehidupan perekonomian masyarakat sangat susah, bukan hanya kami tapi juga semua orang pada saat itu, disamping juga lokasi sekolah sangat jauh dari tempat tinggal, sekolah yang paling tinggi hanya PGA dan SPG, kami tidak pernah mendengar yang namanya Perguruan Tinggi. Dengan jawaban yang dikemukakan oleh bapak dan ibu semua anak terdiam, boleh jadi karena kepatuhan anak terhadap orang tua atau karena perasaan takut. Sebab kita kenal pada masa itu system pendidikan dalam keluarga sangat otoriter.

Tetapi ketika semua alasan itu diterima,  seorang anak tidak merasa puas, karena masih ada ganjalan dalam benak mereka yaitu kenapa orang lain bisa bersekolah, bisa menjadi pejabat, bisa hidup senang. Jangan-jangan jawaban yang diberikan hanya sekadar alasan, bahwa keadaan perang, ekonomi sulit ataupun tidak mendapat izin dari orang hanya sebagai alasan tidak sekolah. Kalau memang kondisi itu benar kenapa orang lain bisa menjadi pejabat, ulama, tentara, polisi, dan lain-lain.

Kita semua percaya bahwa apa yang telah disebutkan hanyalah sebuah imajinasi, yang belum tentu pernah terjadi dan kita berharap hal itu tidak terjadi, dan kalaupun terjadi semoga kejadian itu sebenarnya. Di sisi lain kita juga harus meyakini bahwa perkembangan peradaban dan kemajuan ilmu pengetahuan sangat berpengaruh kepada daya pikir anak yang semakin hari semakin melampaui batas usia mereka bila dibanding dengan masa kanak-kanak kita dahulu.

Bila pertanyaan-pertanyaan seperti tersebut di atas atau juga pertanyaan lain yang melebihi pertanyaan tersebut terlontar kepada kita sebagai orang tua, apa yang harus kita jawab ?

Masihkah kita menjadikan keamanan sebagai alasan sehingga kita tidak berani bersekolah atau mencari ilmu pengetahuan, beranikah kita katakan kepada anak kita bahwa kehidupan orang tua kita lebih susah dari orang lain sehigga kita tidak punya kesempatan untuk bersekolah, sementara orang lain yang sebaya dengan kita sibuk menuntut limu.  Atau masihkah ada alasan pada zaman sekarang bahwa orang tua tidak memberi izin kepada anaknya untuk bersekolah.

Itulah sebagian pertanyaan yang akan terlontar dari anak-anak, cucu-cucu dan orang-orang yang segenerasi dengan mereka kepada kita. Dapatkah berbagai pertanyaan tersebut kita jawab dengan jujur dan tidak ada upaya untuk membohongi mereka, ataukah kita akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan jawaban yang kita sendiri  sebenarnya tidak pernah puas.

Akhirnya, itulah materi yang harus disampaikan kepada semua orang termasuk kepada siswa-siswa, agar mereka mau berusaha merubah hidup kearah yang lebih baik sesuai dengan tuntutan zaman, karena sebenarnyalah hidup ini akan selalu berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan yang terkadang tidak akan pernah kita duga sebelumnya.

Untuk itu siapkah kita menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada kita, karena keberhasilan dalam menjawab pertanyaan mempunyai arti kejujuran dalam hidup, sedang ketidakmampuan kita menjawab pertanyaan dengan alasan yang tepat  itulah arti dari kebohongan.

*Penulis tetap Lintas Gayo, tinggal di Banda Aceh

Komentar Via Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>