Orang Batak Berasal Dari Gayo?

By on Saturday, 14 January 2012
Salah satu kotak penggalian Arkeologi di Ujung Karang Takengon. (Foto : Khalisuddin)

MASYARAKAT Batak selama ini berkeyakinan, bahwa orang Gayo itu berasal dari Batak. Demikian pula sebagian masyarakat Gayo, memiliki keyakinan yang sama. Tetapi bagaimana dengan pembuktian ilmiah?

Di Gayo ada dua klien  (belah). Belah  Uken dan Toa. Klien Toa, pada abad ke 16 M, didatangi oleh suku Batak- Karo, yang dikenal dengan sebutan Batak 27. Pada saat Batak 27 datang ke Bebesen, di Gayo sudah lama berdiri kerajaan Linge, Kerajaan Bukit dan Syiah Utama, serta kerajaan kecil lainnya yang merupakan klien (belah) Uken.

Datangnya Batak 27 ke wilayah Bebesen, melahirkan sebuah kerajaan baru (kerajaan Cik). Talpan (dari Fak-Fak Dairi), pimpinan Batak 27 ini kemudian masuk islam dan diberi nama Leube Kader. Talpan diangkat  menjadi raja pertama Cik Bebesen (1607-1636M). Hingga kini di bekas wilayah kerajaan Cik itu  masih terdapat marga seperti Munthe, Melala, Cibro, Tebe dan lainnya.

Bagaimana dengan kerajaan sebelum berdirinya kerajaan Cik? Benarkah Orang Gayo berasal dari Batak, atau justru orang Batak berasal dari Gayo. Bukti sejarah yang berhasil dihimpun oleh tim peneliti arkelogi dari Balar Medan, justru membalikan keyakinan orang Batak. Bukan orang Gayo berasal dari Batak, tetapi orang Batak  yang berasal dari Gayo?

Balai Arkeologi (Balar) Medan sudah melakukan kajian arkelogis, antropologis, maupun etnoarkeologis di dua daerah ini ( Batak dan Gayo). Atas  kajian berbagai aspek budaya yang ditemukan dalam penelitian, menunjukkan adanya indikasi yang kuat bahwa aktifitas budaya pra sejarah di Tanoh Gayo, khususnya babakan neolitik (megalitik), lebih tua dibandingkan dengan aktifitas di Tanah Batak.

Tim arkeolog Balai Arkeologi (Balar) Medan yang dipimpin Ketut Wiradyana, melakukan penelitian di Aceh Tengah pada tiga loyang (gua/ceruk); Loyang Mendale, Ujung Karang dan Puteri Pukes. Tim Balar Medan ini juga sebelumnya telah melakukan penelitian di Tanah Batak.

“Sampai saat sekarang ini saya belum menemukan adanya budaya Dongson (Tanah Batak) di bumi Gayo. Kita akan melakukan kajian lebih mendalam lagi tentang ini,” sebut Ketut, menjawab Waspada, Selasa (10/1) via selular.

Menurut Ketut, yang kemudian menerbitkan buku “Merangkai Identitas Gayo”, ada beragam budaya yang dapat dibuktikan dari temuan bersejarah itu.  Selain budaya Howabinh, kemudian disusul 3000 tahun sesudahnya kembali masuk budaya Austronesia- Howabin (Sumatralith). Berkemungkinan besar  manusia Howabinh yang sudah beraktiftas di sekitar Danau Luttawar, berdampingan hidup dengan pendatang baru Austronesia. Apakah keturunannya ada di Gayo, itu yang perlu pembuktian lebih mendalam.

Selain itu ciri ciri budaya Sahuyn-Kalanay (Filipina selatan, Indo Cina) serta bau budaya melayu (Asia Tenggara Daratan, Serawak, Kalimantan) dan budaya Lapita (Indonesia Timur dan Pasifik Barat), juga ada di Gayo.

Hasil penelitian radiokarbon, menunjukkan bahwa migrasi beragam budaya  ke dataran Tinggi Gayo berlangsung pada awal-awal penutur Astronesia menuju Barat Sumatra. Pada jaman mesolitik itu (7000-5000 tahun yang lalu), budaya  Howabinh di Gayo sudah berkembang.

Disusul jaman neolitik (3500-3000 tahun lalu) dengan adanya temuan berupa kapak lonjong, gerabah, anyaman dari rotan, serta cangkang hewan lunak, dari hasil penggalian di tiga loyang ini, menandakan adaya budaya berbagai fase di Gayo (Mesolotik dan neolitik).

Aktiftas itu terlihat sampai sebelum masuknya Islam di Gayo. Awal-awal tahun Masehi, loyang masih menjadi daerah hunian di tepi danau. Apakah ada hubungannya manusia prasejarah di sana dengan penduduk Gayo sekarang, tes DNA nanti akan membuktikannya, dan dilanjutkan dengan penelitian lebih mendalam, sebut Ketut.

Sementara di Tanah Batak didominasi oleh budaya Dongson (salah satu budaya berasal dari Veitnam Utara) yang perkembangannya sekitar 2500 tahun yang lalu. Budaya Dongson ini ditandai dengan adanya logam dan pola hias yang ditemukan di rumah Batak Toba, yang menggambarkan binatang atau manusia dengan hiasan bulu-bulu panjang.

Selain itu pada masyarakat Karo dan Nias juga memiliki bentuk hiasan berupa anting-anting yang sama dengan salah satu bentuk  hiasan bejana budaya Dongson, yang ditemukan dekat Phonm Penh, Kandal, Kamboja.

Menurut tim Balar Medan, budaya besar lainnya yang berkembang di Nias maupun Sumatra Utara adalah budaya Megalitik. Ciri utamanya kepercayaan terhadap roh, adanya kepercayaan akan kehidupan sesudah mati.

Budaya Howabinh yang masuk ke Tanah Gayo jauh lebih tua bila dibandingkan dengan budaya Dongson yang masuk ke Tanah Batak. Budaya Howabinh berkisar 7000-5000 tahun yang lalu, sementara budaya Dongson sekitar 3000-2500 tahun yang lalu.

Menjawab Waspada, Ketut menjelaskan, bila dihitung generasi, satu generasi itu sekitar 25 tahun. Di Gayo sudah hidup sekitar 296 atau 300 generasi, sementara di Batak berkisar antara 140 generasi.

Penemuan situs di Gayo ternyata lebih tua bila dibandingkan dengan Sumatra Utara. Prof. Dr. Bungaran A. Simanjuntak menanggapinya serius. Dalam kata pengantarnya di buku Gayo Merangkai Identitas, Bungaran menyebutkan, tiori selama ini telah dipercayai dan terekam di memori orang Batak, bahwa Gayo itu berasal dari Batak.

Gayo dan Alas adalah sub-sub suku bangsa Batak, sebut Bungaran. Namun dengan temuan Balar Medan, tiori ini bisa jungkir balik (masih akan diteliti secara mendalam lagi). Justru suku bangsa Batak berasal dari Gayo. Atau justru bangsa Gayo bukan sub suku bangsa Batak. Bisa jadi sederajat, seayah seibu, orang Gayo yang lebih dahulu datang ke Sumatra, baru disusul suku bangsa Batak.

Diharapkan, sebut Bungaran Simanjuntak, perlu adanya penelitian lebih mendalam lagi agar terang benderang. Ini sangat penting untuk diungkap secepatnya. Perbedaan tahun budaya antara Gayo dan Batak terlihat jelas.

Temuan arkeolog Balar Medan ini sudah menghilangkan kekeberen (cerita dari mulut ke mulut secara turun temurun) di Gayo. Dimana sebagian orang tua di Gayo dalam kekeberennya menyebutkan bahwa orang Gayo itu berasal dari Batak.

Namun bukti ilmiah, setelah tim  Balar Medan yang telah menggali tiga loyang di pinggiran Danau Lot Tawar, mematahkan kekeberan itu. Budaya Gayo (Howabinh) jauh lebih tua bila dibandingkan dengan budaya Dongson di Batak. (Bahtiar Gayo)

Sumber : Waspada edisi 11 Januari 2012

Comments

comments

14 Comments

  1. Bang win

    Wednesday, 31 July 2019 at 2:41 pm

    Kalo saya dengar kekeberen dari orang tua dan nenek saya….batak 27 itu yang berasal dari gayo,yaitu orang karo..menurut cerita kerajaan linge dulu,ada anak dari raja linge di gayo yang tidak mau di sunat masuk islam,lalu dia di karo(dikejar),dan dia membawa anggotanya sebnyak 27 orang,dan lari membuat kerajaan di tanah karo,…..itu saya juga orang awam,saya dengar dari cerita nenek saya…mohon mf jika salah

  2. hamzah Lubis

    Thursday, 26 October 2017 at 4:32 am

    Kurang yakin aku masa batak dari gayo bahasanya pun sudah berbeda jauh, budaya pun berbeda.. Padahal jaraknya dekat aceh ke sumut nggak mungkin berbeda ahh.. Cuman prediksinya mungkin ini bahh.. Barus itu kota tertua karena di mayatnya si firaun itu kapur barus yang digunakan sebagai pengawet itu diambil dari barus dan ini berdasarkan penelitian orang hebat… Firaun saja mengenal barus kenapa bukan gayo. Saya juga tidak menganggap gayo dari batak tapi batak dari gayo ahh mustahil lah.. Beda jauh semuanya budaya dan adat, bahasa, tutur. Dang marnipi di riset on na tippang don riset on

  3. Pingback: MEMBONGKAR MITOS SI RAJA BATAK: SEBUAH STRATEGI BELANDA DALAM PEMBATAKKAN NON-MELAYU « 'nBASIS

  4. ian edward

    Tuesday, 9 June 2015 at 11:21 am

    setuju harus dilakukan penelitian yg mendalam lagi termasuk adanya informasi yg mengatakan bahwa nenek moyang orang batak, toraja dan dayak berasal dari daerah yg sama di yunan, cina krn ada bbrp persamaan adat istiadat, rumah adat. serta sama-sama bertempat tinggal di daerah pedalaman. selamat meneliti lagi! tks

  5. Jumlah areza

    Saturday, 27 April 2013 at 9:41 am

    Hebat, Kirain orang gayo bagian dari batak, nga taunya nenek moyangnya, ayo gali lagi temukan fakta – fakta baru, jangan sampai kekeberen menjadi simpang siur, kekeberen memberi titik sih dalam sejarah, sedikit banyaknya membantu, apa yang sudah di temunkan dari kerajaan lingge ya,….. harap – harap cemas menanti ….
    yang parahnya nya lagi kirain gayo itu dari Karo, karna bahasanya mirip gitu, setelah baca ini – itu ternyata jauh dari yang saya tau, Buat pak Juah silulingga ni ada bacaaan baru siapa saudaranya siapa ya…..
    kalau yang balilang gayo adalah batak 27 mulai sekara STOP dulu ya….. masih ada kajian lain karna umumnya orang gayo dan Karo tidak mau di bilang Batak…..

    • Bang win

      Wednesday, 31 July 2019 at 2:27 pm

      Kalo saya dengar kekeberen dari orang tua dan nenek saya….batak 27 itu yang berasal dari gayo,yaitu orang karo..menurut cerita kerajaan linge dulu,ada anak dari raja linge di gayo yang tidak mau di sunat masuk islam,lalu dia di karo(dikejar),dan dia membawa anggotanya sebnyak 27 orang,dan lari membuat kerajaan di tanah karo,…..itu saya juga orang awam,saya dengar dari cerita nenek saya…mohon mf jika salah

  6. WIWINYUSRI

    Wednesday, 29 August 2012 at 11:33 pm

    assalamualaikum wr wb ….serahkan aja ma allah SWT… teluk mendale nanti di mana lagi …..

  7. jhon kotacane

    Tuesday, 28 August 2012 at 6:34 pm

    menurut saya adalah….batak itu bukan toba[utara] tapi halak toba adalah batak……begitu juga yg lain kalak karo,halak simalungun,halak mandailing,halak angkola,kalak dairi,boang dll,kalak gayo dan kalak alas………………..mereka banyak tak mau di sebut batak karna batak tak mungkin di pikul sendiri.yg jadi masalah selama ini halak toba yg paling jelas mengaku batak lama2 menjadi seolah2 batak itu toba saja…..orang tua tua kalak gayo mengaku berasal dari batak,jadi disi saya menilai karna selama ini yg selalu batak adalah toba lama2 mereka yg sub batak tak mau lagi mengaku karna mereka menggap beda ama toba.padahal sebuah suku itu di bilang sama karna dilihat dari bahsa hampir sama,adat yg hampir sama ,dan silsilah yg juga hampir sama…………….yg membuat batak itu agak kontroversi di lapangan saya melihat karna di pengaruhi islam…………….karna bayak yg tak mau di bilang batak yg beragama islam dan yg beragama islam hampir tak memakai marga……………………………………………….dan kenyataannya sekarang banyak terjadi comen yg sesat seperti orang malasya bilang kalau bukan islam berarti bukan melayu,kalau tak islam berarti bukan suku minang dan ternyata di medan itupun terjadi kalau sudah islam berarti bukan batak lagi dan str…………….jadi inilah lama kelamaan menjadi berkembang ….di tambah lagi dengan kedatangan melayu yg tak bermarga tentu mereka mencoba berusaha supaya mereka sama dengan orang asli di tanah yg baru……….inilah yg terjadi menurut aku trimakasi…

  8. khas

    Tuesday, 26 June 2012 at 11:23 pm

    hebat ya… sampai gayo di cek.
    tapi Barus gimana? bukankah itu pelabuhan terbesar nusantara yang pernah di catat para pengelana asing?

  9. picala

    Thursday, 26 April 2012 at 11:36 pm

    Masih terlalu pagi untuk satu kesimpulan, masih banyak tempat yang harus di gali. Gali trus….Update trus….

  10. bobby medan

    Tuesday, 24 April 2012 at 1:30 pm

    sejarah sudah membuktikan bahwa suku gayo lah yg pertama dipulau persia ini khususnya sumatera utara dan sekitarnya,dengan ditemukannya arkeolog gayo lah yg tertua…

    • hamzah Lubis

      Thursday, 26 October 2017 at 4:30 am

      Firaun sudah mengenal barus waktu dia masih hidup.. Apakah arkeolog itu kuat sedangkan bukti barus dan suku batak ada pada mayat firaun raja mesir

Leave a Reply

Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.