Yusra Habib : Keberagaman di Ujung Sumatera Modal Untuk Bersatu

By on Thursday, 8 December 2011

Takengon | Lintas Gayo – Terkait pernyataan Prof. DR. Bungaran Antonius Simanjuntak dalam buku “Gayo Merangkai Identitas” yang ditulis 2 (dua) orang arkeolog dari Balai Arkeologi Medan Sumatera, Ketut Wiradnyana dan Taufikurrahman Setiawan yang diluncurkan di Takengon, Selasa (6/12/2011) menyatakan penghuni Tanah Batak berasal dari Gayo, seorang tokoh pemerhati sejarah dan budaya Aceh dan Gayo yang berdomisili di Denmark, Yusra Habib Abdul Gani turut angkat bicara.

“Yang menyatakan penghuni Tanah Batak berasal dari Gayo itu adalah profesornya orang Batak dibidang Antropologi, jadi ini tidak main-main,” kata Yusra Habib Abdul Gani kepada Lintas Gayo, Rabu (7/12/2011) di Takengon, sehari setelah diselenggarakannya Sarasehan hasil penelitian Loyang Mendale dan sekitarnya yang diselenggarakan pemerintah Kabupaten Aceh Tengah.

Dengan pernyataan tersebut, lanjut penulis buku Self Goverment ini, menjadi sebuah kebanggaan yang amat mahal bagi Urang Gayo. “Ketut dan kawan-kawan berhasil menampilkan fakta dan hebatnya diakui oleh Antropolog Prof DR Bungaran Antonius Simajuntak,” tegasnya.

Kaitan dengan Aceh

Diminta tanggapannya tentang keterkaitan Gayo, Batak dan Aceh pesisir, Yusra Habib Abdul Gani dengan tegas memaparkan bahwa Gayo jauh lebih tua dari Aceh. Aceh itu baru disebut sebagai bangsa yang memiliki kesatuan politik setelah Meurah Johan, Sultan Aceh I naik tahta di tahun 601 Hijriyah. “Meurah Johan sendiri berasal lingkungan Kerajaan Linge,” kata Yusra.

Setelah berdirinya kerajaan Aceh Darussalam, maka seluruh wilayah kerajaan kecil seperti di Aceh Besar ada kerajaan Seudu, Purwa Indra, Indra Puri, Indra Patra. Di Gayo ada kerajaan Linge, di Pidie ada Kerajaan Meureudu. Serta di pesisir utara dan timur Aceh ada kerajaan Peurelak dan Pase. sepakat menyatukan diri kedalam wilayah teritorial hukum negara Aceh Darussalam. Dan Aceh secara politik terbentuk yakni wilayah Aceh yang kita kenal saat ini.

Dan atas nama negara Aceh inilah yang kemudian menjalin hubungan diplomatik dengan sejumlah negara atau bangsa-bangsa Eropah, dunia Arab dan Amerika Serikat, China dan lain-lain.

Walau sudah bergabung, hebatnya saat itu eksistensi kerajaan-kerajaan yang ada dilingkungan kerjaan Aceh Darussalam saat itu tetap memilki kedaulatan yang tidak dicampuri oleh sultan Aceh.

Kerajaan-kerajaan yang ada di wilayah Aceh tersebut baru kehilangan nama bersama hilangnya kedaulatan Aceh pada tahun 1903 akibat ulah Belanda. Yakni setelah Sultan Muhammad Daudsyah yang dianggap oleh Belanda sebagai simbul kekuasaan ditangkap di Dedalu sekitar 1 kilometer dari pusat kota Takengon Kabupaten Aceh Tengah sekarang.

Selain itu juga akibat terbunuhnya panglima perang (sayap meliter) tengku Ma’at di Tiro yang dibunuh oleh Belanda dalam medan perang Alue Simi di Tiro di tahun 1911. Saat itu pasukan Belanda dibawah komandan Kolonel Smith.

Harus Bersatu

Terkait penemuan benda pra sejarah Mendale yang menyatakan sudah ada kehidupan di Tanoh Gayo sejak 7400 tahun yang lalu, Yusra mengakui akan sulit bagi sejumlah kalangan untuk serta merta mengakuinya. Namun dia meyakini bahwa fakta tersebut justru menjadi momentum penting untuk mulai merajut kesatuan yang lebih baik lagi. Asal usul dan keberagaman etnis bukanlah pemicu munculnya konflik etnik khususnya di wilayah ujung Sumatera harus bisa menjadi rujukan penting bagi Urang Gayo, Aceh,  Batak dan suku bangsa lainnya yang ada di ujung barat Sumatera untuk bersatu.

“Justru keberagaman itu merupakan khazanah sejarah bagi ketiga suku bangsa tersebut yang menurut arkeolog sama-sama berasal austronesia melewati China bagian selatan, lalu ke Thailand, Filipina dan ke pulau Sumatera yang induknya sama-sama dari Afrika. Kedepan, Aceh, Batak dan Gayo mesti bersatu dan bersama-sama membangun membangun kerjasama ekonomi, kestabilan politik, dan sosial budaya,” tegas Yusra.

Buku yang Menggemparkan

Menurut Yusra, sebelum ini sudah menjadi opini, bahkan menjadi rujukan sejarah bahwa Gayo itu berasal dari Batak, akan tetapi setelah penemuan arkeologi di tepi Danau Lut Tawar  Mendale justru membuktikan sebaliknya.

Suka tidak suka, lanjut putra Gayo kelahiran Kenawat Lut Kabupaten Aceh Tengah ini, semua pihak mesti mengakui keabsahan dari hasil penelitian tersebut yang diakui oleh pakar antropolog dari Unimed, Prof DR Bungaran Antonius Simanjuntak.

“Penemuan ini ibarat bonus tendangan 12 pas atau skak mat yang mematahkan klaim Belanda selama ini jika Gayo itu berasal dari Batak. Dan dalam disiplin ilmu sosial, apa dihasilkan dari sebuah penelitian dianggap valid sepanjang belum ada bukti yang menyatakan sebaliknya.” pungkas Yusra. (Kha A Zaghlul/03)

Comments

comments

One Comment

  1. Pingback: Yusra Habib : Keberagaman di Ujung Sumatera Modal Untuk Bersatu | rekamaceh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.