by

Kerajinan Kerawang, Bukan hanya di Gayo, Juga Ada di Peru

Oleh Win Wan Nur*

Mungkin ada beberapa orang Gayo yang membaca judul tulisan ini akan mengernyitkan kening dan bertanya dalam hati, Peru?…Apakah Peru yang dimaksud dalam judul tulisan ini adalah Peru, sebuah negara di Amerika Selatan sana?…Ya benar, Peru yang dimaksud di sini adalah Peru, nama sebuah negara di Amerika Selatan.

Sebagai orang Gayo dan lahir di Gayo, saya sangat akrab dengan kerajinan bordir Gayo yang bermotif Kerawang. Ketika beranjak dewasa dan saya mulai sering berkeliling ke berbagai daerah di Indonesia dan Asia Tenggara dan mengenal berbagai kerajinan yang dibuat oleh suku bangsa di Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara yang saya kunjungi.

Sampai sekarang saya belum pernah menemukan jenis kerajinan sejenis Kerawang baik di Indonesia maupun Asia Tenggara. Sehingga saya pun berkesimpulan bahwa kerajinan Kerawang adalah karya seni khas Gayo yang tidak dapat ditemui di daerah lain di dunia. Meskipun belakangan, kerajinan Kerawang juga berkembang di Aceh dan mereka menyebutnya Kerawang Aceh. Tapi jelas sekali itu adalah sebuah karya seni kerajinan hasil plagiasi atas seni kerajinan dari Gayo, yang merupakan salah satu dari sekian suku minoritas di Aceh. Sama seperti yang mereka lakukan terhadap Saman, seni tari asal Gayo yang ditarikan oleh laki-laki dan diiringi oleh lagu berbahasa Gayo, menjadi Saman Aceh, seni tari yang ditarikan perempuan dan ditarikan dengan diiringi lagu berbahasa Aceh.

Tapi dua hari yang lalu seorang teman saya yang baru pulang berlibur dari “Machu Picchu” sebuah kota di puncak gunung di atas lembah Urubamba di deretan pegunungan Andes di Amerika Selatan sana. Machu Picchu dulunya adalah sebuah kota yang didiami para bangsawan suku Quechua yang dikenal dengan nama Inca, sehingga sekarang Machu Picchu juga sering disebut Kota Inca yang hilang. Penduduk kota ini diyakini punah karena terserang penyakit cacar yang dibawa oleh para penjajah Spanyol dari Eropa.

Sebagai oleh-oleh dari Machu Picchu, teman saya ini menghadiahi saya sebuah dompet mungil berbahan kain dan dihiasi dengan bordiran kerawang. ya benar bordiran kerawang.

Lucu sekali rasanya mendapat hadiah ini, saya berkeliling nusantara dan Asia Tenggara tanpa pernah bisa menemukan seni kerajinan yang mirip dengan seni kerajinan di Gayo tempat saya, eh nun jauh di sana terpisahkan dua Samudra di Benua yang tidak pernah dikenal oleh nenek moyang saya ternyata terdapat seni kerajinan yang persis seperti kerajinan yang biasa dibuat oleh para seniman bordir di tempat kelahiran saya di bagian tengah ujung pulau Sumatera.

Saya benar-benar surprise mendapat hadiah ini karena teknik yang digunakan dalam membuat motif kerawang di dompet hadiah teman saya ini benar-benar persis sama dengan teknik yang digunakan dalam membuat kerajinan kerawang Gayo, motif yang menggunakan pola bulat melingkar mengisi seluruh bagian. Bedanya di kerawang Peru ini juga dihiasi dengan motif-motif gambar hewan khas setempat seperti Llama atau burung walet. Dompet yang dihadiahkan oleh teman ini kepada saya, bermotif burung walet.

Kebetulan adanya kemiripan antara Kerawang Gayo dan Kerawang Peru ini menjadi lebih menarik ketika saya mengingat sebuah bahasan tentang asal-usul suku Gayo yang ditulis oleh John Bowen dalam bukunya “Sumatran Politics and Poetic, Gayo History 1900 – 1989”.

Dalam salah satu Bab di buku ini, John Bowen mengutip ucapan salah seorang nara sumbernya yang meyakini bahwa semua umat manusia yang ada di dunia ini berasal dari Gayo. Sebagai buktinya sang nara sumber mengambil Contoh, Peru yang beribukota Lima. Menurutnya itu sebenarnya berasal dari sejarah orang Gayo yang pergi menjelajah laut dengan Lima Perahu berperahu dan kemudian  menetap di benua Amerika. Menurut sang nara sumber, kata Peru dan Lima itu sebenarnya berasal dari kata bahasa Gayo “Perau Lime” artinya “Perahu Lima”.

Tentu saja, maksud dari Bowen mengutip ucapan Nara Sumber ini adalah untuk menunjukkan bagaimana naifnya cara orang Gayo dalam menjelaskan asal-usul sukunya yang bahkan hanya dengan bermodalkan kemiripan kata pun langsung dijadikan sebagai sebuah kesimpulan yang sahih. Bahwa orang yang jauh di seberang dua lautan dan berbeda benua sana pun asalnya dari Gayo. Dan kesimpulan ini tentu akan membuat siapapun yang memilik sedikit dasar pengetahua antropologi akan tertawa.

Tapi dengan adanya fakta yang baru saya temukan ini,  bahwa di dunia ini selain Kerawang Gayo ternyata juga ada Kerawang Peru buatan suku Quechua nun jauh di benua Amerika sana, agaknya si Nara Sumber dalam buku Bowen ini akan mendapat amunisi tambahan untuk menyerang siapapun yang mentertawakan kesimpulan hipotesanya.

Sebuah kebetulan yang aneh sekali bukan?.

 ——

Wassalam

*Orang Gayo, Tinggal di Tangerang

Comments

comments