by

Bireuen–Gayo Saling Bergantung, Sama Dilupakan Dalam Sejarah NKRI

Bireuen | Lintas Gayo – Kabupaten Bireuen dan Dataran Tinggi Gayo khususnya kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah sejak lama sudah  punya hubungan yang erat. Selain keterkaitan sejarah mempertahankan keutuhan Negara Republik Indonesia dimasa kepemimpinan presiden Soekarno juga  dibidang perekonomian. Masyarakat kedua daerah tersebut sejak lama hidup saling ketergantungan.

Demikian pernyataan Kabag Humas Setdakab Bireuen, Darwansyah SE saat menyambut kedatangan Sutradara film sejarah perjuangan Radio Rimba Raya, Ikmal Gopi yang didampingi Lintas Gayo di Meuligo (Pendopo) Bupati setempat, Sabtu (15/10/2011) sore.

Kepada Ikmal Gopi dan rombongan, Darwansyah, SE mengatakan menyambut positif atas pembuatan film bersejarah dalam kemerdekaan Indonesia. Dan sangat berterima kasih atas kedatangan Ikmal untuk dapat memutar film RRR di Kota Juang tersebut.

Selanjutnya Darwansyah menceritakan bahwa hubungan orang Gayo dengan Bireuen telah terjalin sejak lama. Pada masa lalu dimana akses jalan ke Takengon masih sulit ditempuh, orang Gayo menjual barang ke Bireuen dengan menggunakan gerobak yang ditarik dengan kerbau, dan sebaliknya begitu juga orang Bireuen menjual kelapa juga dengan cara yang sama.

“Perekonomian di Bireuen sangat dibantu oleh urang Gayo. Kalau kopi di Gayo harganya stabil, maka urang Gayo akan berbelanja ke Bireuen, berarti hubungan antara Urang Gayo dan Takengen sudah terjalin sejak lama”, simpul Darwansyah.

Amatan Lintas Gayo yang datang ke kabupaten Bireun mendampingi sang sutradara film RRR, dalam lingkungan Meuligo Kabupaten Bireuen masih terdapat bangunan bersejarah berupa bangunan tempat tinggal Kolonel Husin Yusuf yang dalam sejarahnya merupakan seorang komandan Divisi X wilayah Aceh. Kolonel Husen Yusuf adalah seorang  tokoh dalam sejarah perjuangan Radio Rimba Raya. Bangunan ini masih asli, belum ada penambahan yang serius terlihat di bagian lantai dan dindingnya masih menggunakan bahan dari kayu.

Menurut Ikmal Gopi, ada yang lebih menarik lagi dari sisi bangunan ini, bangunan ini sempat dijadikan penginapan bagi Presiden pertama Indonesia, Soekarno yang datang ke Aceh ditahun 1948 khususnya Bireuen sempat tinggal selama seminggu yang salah satu tujuannya meminta dukungan supaya Aceh turut mempertahankan kemerdekaan RI. Dan juga meminta bantuan dana pembelian pesawat untuk dijadikan transportasi diplomasi pemimpin Republik saat itu, maka keluarlah ucapan Soekarno bahwa Aceh adalah “Daerah modal’.

Dan karena itu, walau hanya seminggu, Bireuen pernah menjadi ibukota RI yang ketiga setelah Yogyakarta dan Bukit Tinggi jatuh ke tangan penjajah dalam agresi kedua Belanda. Namun sayangnya fakta sejarah itu tidak pernah tercatat dalam sejarah Kemerdekaan RI seperti halnya hebatnya sejarah perjuangan Radio Rimba Raya.

Dihalaman Meuligo juga terdapat peninggalan situs sejarah yang masih terpasang ditempat aslinya, situs itu adalah sebuah meriam besi yang merupakan peninggalan sejarah perang kemerdekaan masa lalu. Ini adalah suatu  catatan yang patut ditiru dari kabupaten yang berjuluk “Kota Juang” ini, bagaimana cara mereka menjaga keaslian benda dan keasrian tempat bersejarah dengan baik.

Sebagaimana diberitakan Lintas Gayo sebelumnya, Sabtu (14/10/2011) malam direncanakan akan diputarkan film sejarah penting saat mempertahankan kedaulatan RI dari keinginan Belanda untuk kembali menjajah. Rencananya pemutaran film tersebut akan dihadiri sejumlah tokoh dan saksi sejarah perjuangan Radio Rimba Raya.

Turut serta dalam rombongan Ikmal Gopi, Aman Jus yang merupakan saksi hidup sejarah radio tersebut dan sempat berinteraksi dengan  Kolonel Husin Yusuf, komandan Divisi X wilayah Aceh di kawasan Rimba Raya saat itu. (Wein Mutuah)

Comments

comments